Air Mata Kerinduan

“nduk, sini bapak gendong,” kataku.

Ia pun berlari. Dengan sunggingan senyum manis yang pernah kulihat, secepat kilat menubrukku. Untuk memeluk hangat, menumpahkan emosi dan perasaan cinta yang teranat dalam.

Saat dalam dekapan erat, kubisikkan beberapa untai kata di telinga kirinya.

“kiki sayang. … ?” Dengan spontan dia menjawab “bapak”.

“bapak  sayang…. ?” Spontan pula kata “kiki” meluncur dari mulut mungilnya.

Biasanya ia langsung memeluk lebih erat. Bahkan kadang kedua telapak tangannya ikut menepok kedua pipiku. Itulah ritual terindah kami, ritual cinta antara bapak dan anak.

Sore tadi, ritual itu berulang. Saat untuk pertama kali kami bertemu, setelah hampir lima hari berpisah. Momen cinta yang teramat indah.

“nduk…,” kataku terbata. Dan ia tak menjawab. Masih tetap memeluk erat dalam gendongan.

Kukumpulkan kekuatanku untuk berkata, walau memang teramat berat.

“nduk…., bapak mau kerja lagi. Kiki ikut ibu dulu yah  ? Bapak pergi dulu untuk kerja.”

Suasana hening sesaat. Aku cium kedua pipi anakku.

“bapak jangan kerja…. Bobok saja sama kiki. Gendong kiki… Nyanyiiiii….. Nina bobok,” kata anakku.

Walau datar, nada suaranya mencerminkan kerinduan seorang anak yang ditinggal bapaknya pergi untuk beberapa waktu.

Tiba tiba air mataku satu persatu terjatuh. Kucoba membendungnya, namun tak kuasa.

“nduk….., maafkan bapak. Bapak selalu mencintaimu.”

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Lagu and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s