Sepertiga Malam Terakhir Ini

Suara orang tadarus Al qur’an sayup terdengar, dari sebuah masjid di tengah sawah. Berirama merdu dan tartil. Intonasinya sangat jelas, walau perlahan. Menenangkan jiwa bagi siapapun yang mendengar.

Kulirik jam yang tertempel di tembok, tak jauh dari tempatku berdiri. “Hm…. Dua jam lagi subuh,” gumamku dalam hati.

Aku masih  berdiri di keremangan malam. Beratapkan langit beribu bintang. Bulan sabit tampak tegar diantaranya.

Di sepertiga malam terakhir seperti ini, sebagian orang terjaga untuk sholat malam atau melantunkan ayat suci Al qur’an. Seperti suara orang dari masjid itu. Sebagian yang lain  sedang  sibuk mempersiapkan makan sahur buat keluarga. Dan tentu saja cukup banyak pula orang yang  sedang terkapar oleh mimpi. Tertidur pulas dibalut selimut malam.

Sedangkan aku  ?

Aku berdiri disini. Bersama beberapa sahabat. Bukan i’tikaf, bukan pula mempersiapkan makan sahur.

Tiba tiba handphoneku bergetar, tanda ada pesan masuk. Saat kubaca, ternyata seorang kawan lama  mengirim pesan singkat. Dia mengatakan, “bangun…. Banguun… Ayo tegakkan sholat lail, untuk mendapat lailatul qodar. Satu malam yang lebih mulia  dibanding seribu bulan.”

Membaca pesan singkat tersebut membuatku semakin termenung.  Hanya diam, membisu,  tak mampu membalas, walau  hanya untuk  sebuah kata.

Kupandangi lagi  sahabatku yg masih berada di kolong truk. Profesinya sebagai montir,  memaksanya bekerja hingga menjelang pagi.

Aku masih tetap merenung tak mengerti.

Andai saja malam ini adalah malam lailatul qodar, apakah sahabatku ini mendapatkan pahala yang dijanjikan ? Atau malam yang dijanjikan itu hanya lewat  begitu saja  ?

Entahlah…, aku tak mengerti. Tak sedikitpun keberanianku untuk  menyimpulkan, ataupun berandai andai. Apalagi beropini.

Yang pasti, malam ini dia sedang membanting tulang buat keluarga. Mengumpulkan sedikit sisanya buat biaya berobat  ibunya  yang sedang sakit. Dan aku….., hanya menemani sebagai  seorang sahabat yang sangat membutuhkan pertolongan.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged . Bookmark the permalink.

7 Responses to Sepertiga Malam Terakhir Ini

  1. katacamar says:

    Tatkala itu Rasulullah bertemu Saad bin Mu’az, ketika bersalaman beliau merasakan telapak tangan Mu’az yang kasar. Kemudian beliau bertanya apakah sebabnya, Mu’az menjawab “saya membajak tanah untuk keluarga ya Rasulullah”. Mendengar jawaban itu Rasulullah mencium tangan Mu’az dan berkata “tangan ini tak akan disentuh api neraka”.

    Riwayat tersebut menggambarkan betapa Islam sangat menghargai orang-orang yang memiliki etos kerja yang tinggi. Orang yang bekerja dapat dikatakan sebagai jihad fi sabilillah, seperti sabda Nabi SAW “siapa yang bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya, maka ia adalah mujahid fi sabilillah” (HR Ahmad)

    tidak ada yang sia-sia setiap perbuatan, jika diniatkan untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah, bekerja memberi nafkah keluarga adalah perintah Allah, yang penting pekerjaan itu halal dan tidak meninggalkan sholat wajib mas lambang. semoga berkah.

  2. baroto says:

    Kontemplasinya sudah semakin dalam

  3. Dyah Sujiati says:

    Setiap perbuatan baik yang dilakukan karena Allah adalah ibadah. dan ibadah kan tidak cuma sholat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s