Pelajari Kearifan Leluhur Di Kampung

Nduk, sudah empat hari ini kamu di rumah nenekmu di Pemalang. Jarak memisahkan kita, membuat rindu yang sangat semakin menggebu.  Di rumah tempat ibumu, tante dan om mu dibesarkan. Rumah tempat kakekmu menghembuskan nafasnya yang terakhir. Rumah tempat para leluhurmu di waktu lampau menghabiskan waktu, merajut cinta dan menanam asa.

Nduk, maaf kan bapak. Mungkin dalam satu dua hari ini bapak baru bisa datang menemuimu. Do’akan bapak selalu ya nduk…

Oh iya ….,

Apakah sepeda tante masih ada ? sepeda ontel yang sering kita kendarai  bersama. Ke sawah, ke pasar dan ke lapangan sepak bola yang tak seberapa jauh dari rumah. Ingatkah kamu semua itu nduk ?

Ingatkah saat saat kita blusukan ke makam kakek dan buyutmu berdua ? Sepeda warna coklat itulah saksi bisu, apa apa yang telah pernah kita perbuat. Kalau tidak ingat, tidak mengapa nduk, bapak tidak marah. Karena, tahun lalu memang ingatanmu tak setajam tahun ini.

Kalau pun kamu ingat, tolong jangan ceritakan  pada ibumu.  Jadikan itu sebagai rahasia kita berdua. Kalau ibumu mendengar, bisa bisa kita  diboikot tidak boleh naik sepeda lagi. Apalagi jika ibumu mengetahui  kamu dan bapak pernah sama sama nyemplung  kali di pematang sawah, mencari kodok, belut  dan ikan cethul.

Nduk, sering seringlah keluar rumah. Ke musholla  atau hanya sekedar  main di sawah di belakang rumah nenek. Jangan terlalu banyak main games. Kalau toh kamu mau membuang gadged itu, buang aja nduk, bapak tidak marah.

Tapaklah sesering mungkin  tanah yang dulu ditapak ibumu serta leluhurmu. Mandilah sesering mungkin, kalau perlu mandi dikali. Karena di air yang sama itulah dulu leluhurmu mandi dan  mencuci. Hiruplah udara sebanyak mungkin, karena oksigen yang sama itu dulu dihirup leluhurmu.

Nduk, datangilah seluruh saudara. Bersilaturahimlah pada mereka, cium tangan mereka, dengarkan apapun yang di nasehatkan.  Belajarlah kearifan dari mereka. Pelajari kesederhanaan  mereka. Gaya hidup dan kerja kerasnya harus kamu apresiasi dan contoh. Amati perilaku mereka semua saat bekerja di sawah.

Ketahuilah, bahwa dilingkungan seperti itu dulu ibumu dibesarkan. Hayati  dengan sepenuh hati ya nduk. Maka, kelak kamu akan sempurna dalam menirukan karakter yang telah diajarkan ibumu.

Nduk…, bapak mencintaimu. Tunggu dan do’akan bapak yah.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Pelajari Kearifan Leluhur Di Kampung

  1. Memang, sang anak harus diperkenalkan kearifan lokal, agar mempunyai kepekaan sosial yang baik dan bekal untuk bersikap bijak.
    Saya juga tidak melupakan kenangan ketika mandi di kali di desa Magetan.

  2. Ryan says:

    wah… Kiky lagi di Pemalang ya mas?
    ngikik ngebayangin mas nyemplung.😀

  3. tinsyam says:

    orang pemalang toh..

  4. Masya says:

    om mudik yaa.. hehe.. slam buat keluarga nya yaa

  5. @afanrid says:

    mengajarkan yang terbaik unutk anak.. pentingnya silaturahmi di kehidupan perkotaan yang semakin individual

  6. abi_gilang says:

    Buang gadget-nya ke rumah kaka Gilang ya Kiky😆

  7. Dyah Sujiati says:

    Rumah tempat para leluhurmu di waktu lampau menghabiskan waktu, merajut cinta dan menanam asa.—> Aaaa so swiiiiiitttt
    tapi kata ‘leluhur’ membuat saay kebayang vampir. Hahaa

    And? Itu gadget (aih, nulis n bacanya susyeh) punya Kiky buat tante Dyah ajah sinih😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s