Oleh Oleh Dari Dari Ustadz Buyung

“Sebuah kesalahan tak kan mungkin bisa diperbaiki, selain ada orang yang mampu memperbaiki,” Ustadz Buyung.

“Sebuah teori itu akan selamanya dianggap benar, hingga ada orang lain yang mampu menyatakan bahwa teori itu salah,” seorang dosen.

Dua kalimat diatas sebagai pembuka tulisan ini. Yang pertama adalah kata kata manis yang keluar dari mulut  Ustadz Buyung saat memberikan tausiah di acara buka bersama di RS Fatmawati, bersama Masyarakat Scholiosis Indonesia.

Kata katanya mengingatkan saya  pada seorang dosen, yang entah siapa namanya tak ingat lagi.

Untuk memperbaiki kesalahan, atau untuk memperbaiki sebuah teori, hanya ada satu cara yaitu belajar. Yang bermakna membaca. Tidak ada belajar tanpa membaca dan tidak ada bacaan tanpa makna belajar.  Hanya dengan itu kita mampu membuat perubahan.

Hanya bergumul dengan buku kita mampu memperbaiki diri, untuk sesuatu yang lebih baik. Membenarkan yang salah. Mengoreksi yang keliru.

Menurut Ustadz Buyung, pemilik blog trustmanagement201, ada dua penyakit akut bagi para pencari ilmu. Yaitu lupa !

Lupa. Sebenarnya sesuatu yang lumrah. Bahkan manusia seharusnya bersyukur bisa lupa. Tidak mungkin membayangkan bagaimana menderitanya apabila seseorang tidak bisa melupakan sesuatu. Penderitaanlah yang akan menyertainya.

Namun bagaimana jika melupakan hal penting dan perlu ? Atau melupakan sesuatu yang seharusnya tetap  di ingat ? Untuk itu,  resapi apa yang telah dikatakan  beberapa tokoh tokoh dibawah ini.

Ali Bin Abi Tholib, sebagai kholfah terakhir dan sangat dimuliakan milyaran  Ummat Islam di seluruh dunia pernah berkata, “ikatlah ilmu dengan mencatatnya.”

Pramoedya Ananta Toer, tokoh pergerakan nasional yang beberapa kali pernah menjadi kandidat penerima nobel sastra.  Katanya, “tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”

Bahkan seorang ilmuwan  bernama Thomas Bartholin pada tahun 1600 an pernah mengatakan, “Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu dan seluruhnya dirundung kegelapan”.

@lambangsarib

.

Nutuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com  via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Oleh Oleh Dari Dari Ustadz Buyung

  1. Dengan mencatatnya berarti ada jejak yang ditinggalkan🙂

  2. danirachmat says:

    Selalu membaca dan mencatat ya Mas..🙂

  3. Ilham says:

    Wow kata-kata Thomas Bartholin itu keren dan benar sekali. Buku/ilmu itu adalah cahaya bagi umat manusia.

  4. Dyah Sujiati says:

    Pak.. request kah? kayaknya ada hadits juga lho yang ‘menganjurkan’ menulis. tapi saya lupaa. nyari di internet kagak nemu. nyari di buku? yang mana?😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s