Indonesia Belum Memiliki Kurikulum Pendidikan Sex Untuk Anak ?

Hari ini adalah tanggal 23 Juli 2013, dan diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Entah  disengaja atau tidak, sebuah artikel menarik tentang anak ditulis  @Ikakoentjoro di blog pribadinya dengan  judul “Peran Orangtua Dalam Mengantisipasi Dampak Trend Mobile Internet.”

Tulisannya  yang blak blakan mampu menyita perhatian. Pada alenia pertama langsung membuat saya merenung.

Seorang sahabat beberapa waktu lalu bercerita mengenai anak laki-lakinya yang berusia 7 tahun. Saat menonton televisi bersama, tiba-tiba sang anak berkata,”Ma, (maaf) burungku berdiri kalau lihat itu,” sambil menunjuk iklan salah satu produk lotion yang memamerkan keindahan kaki modelnya dari pangkal kaki hingga ujung kaki.”

Saya tergelitik untuk  berbagi lewat twitter dan men cc kan  ke sahabat @bukik.  Dengan maksud untuk mengajaknya berdiskusi tentang hal ini.  Sebagai pemerhati anak dan  pakar internet,  tentunya ia memiliki pandangan tersendiri.

Sepertinya sahabat ini berkenan dan  meninggalkan jejak  dengan sebuah pertanyaan.

“Memangnya pada usia berapa anak baru bisa ereksi? (berdiri itu ereksi kan maksudnya?)
Bukannya usia segitu memang sudah bisa berdiri ya?
Lalu apa hubungannya penis ereksi dan nonton tv dengan bermain games di internet?”

Lagi lagi, pertanyaan tak terduga Mas Bukik membuat saya berfikir lebih dalam. Dalam hati saya bertanya, di Indonesia adakah buku petunjuk atau panduan pendidikan pendidikan sex buat  anak ?

Saya mencoba  googling di internet. Ternyata tak menemukannya.

Saya pun teringat sebuah buku yang pernah saya baca. Berjudul “Stroang Fathers, Stong Daughters”, karangan Meg Meeker, MD.

Pada halaman 14 buku tersebut  ditulis, bahwa di Amerika Serikat yang super liberal pun memiliki panduan pendidikan seks pada anak. Berupa Kurikulum baku  Pendidikan Sex, yang dikenal dengan istilah SIEUS “Sexuality Information and Education Council of The United States.”

Dalam konteks ini, saya sama sekali tidak ingin membahas “konten” dari kurikulum pendidikan tersebut. Benar atau salah, layak atau tidak, sesuai budaya atau melenceng, semua sangat  tergantung pada  sudut pandang masing masing.

Prinsipnya adalah, “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya”. Debatable !

Saya ingin menggaris bawahi bahwa negara se bebas AS pun membuat kurikulum tersendiri buat pendidikan seks anak. Dibagi bagi  kedalam kerangka usia yang berbeda. Dari usia 5-8 tahun, 9-12 tahun, 12-15 tahun dan 15-18 tahun.

Pedoman tertulis tersebut digunakan acuan dasar di sekolah sekolah. Masyarakat awan pun menerima dan menjadikannya pegangan untuk mendidik anak anak mereka.

Sementara itu di Indonesia  belum ada. Bahkan departemen yang terkait dan kaum agamawan pun sepertinya belum pernah membahasnya.

Akibatnya,  orang tua di Indonesia belum memiliki persamaan persepsi tentang apa itu yang dimaksud dengan “pendidikan seks pada anak”. Lembaga pendidikan dan para guru pun seringkali  gamang  serta bingung  bagaimana mengajarkannya.

Melalui blog sederhana ini, semoga ada yang  membaca dan mulai berfikir untuk  merumuskan.  Berharap dari  kalangan cerdik pandai, agamawan dan instansi terkait sudi duduk bersama. Semua demi anak bangsa di kelak kemudian hari.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , . Bookmark the permalink.

34 Responses to Indonesia Belum Memiliki Kurikulum Pendidikan Sex Untuk Anak ?

  1. ayanapunya says:

    tantangan orang tua sekarang semakin besar ya, mas. anak nggak bisa lagi dibiarkan begitu saja tanpa dibekali pengetahuan dasar. salah-salah mereka nanti nyari sendiri dan takutnya nyari sendiri itu berujung salah. kalau dalam islam sendiri gimana ya, mas tentang pendidikan seks ini?

  2. Bukik says:

    Iya perlu itu
    Agar orang tua tidak mudah menjudgment gara-gara si kecil bercerita penisnya berdiri atau kasus lainnya.
    Karena seringkali respon orang tua yang “tidak biasa” terhadap kata/perilaku terkait seksual yang justru membuat seks menjadi sesuatu yang tabu dan akhirnya tidak ada pendidikannya

  3. Pak Lambangsarib menulis:
    Saya ingin menggaris bawahi bahwa negara se bebas AS pun membuat kurikulum tersendiri buat pendidikan seks anak. Dibagi bagi kedalam kerangka usia yang berbeda. Dari usia 5-8 tahun, 9-12 tahun, 12-15 tahun dan 15-18 tahun.

    Ya, memang harus bertahap.
    Membimbing dan memberikan informasi tentang seks kepada anak tentu harus disampaikan dengan cara yang baik (secara bertahap dan bijaksana) dan pada waktu yang tepat, yaitu sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan kematangan usia anak. Sehingga, ia akan mampu mempersiapkan dirinya dalam menghadapi beberapa perbedaan pandangan dan pendapat yang mungkin akan ia temui nanti, saat bersama teman-temannya atau berinteraksi dalam dunia maya atau yang lebih parah menghadapi rayuan gombal temannya.

    Ketika anak sudah memahami tentang baik dan buruknya seks maka ia pun tidak akan membiarkan dirinya terjerumus pada tindakan yang membahayakan dirinya akibat seks itu. Orangtua dan sekolah memang harus membekali anak supaya ia mampu bersikap dan menjaga diri dari tindakan seks yang dapat merugikan masa depannya.

  4. Masya says:

    om, saya baru pernah mendengar anak umur tujuh tahun bisa ereksi.ah karena rata-rata usia untuk mencapai fase seperti itu adalah sekitar 15 tahun, yang didefinisikan secara biologis sudah dewasa. saya jadi bertanya-tanya apakh itu hanya sugesti nya dia krn tontonan sudah banyak menyajikan seperti demikian ya

    • lambangsarib says:

      No. Bukan sugesti. Anak2 TK pun banyak yg dewasa dini.

      Saya pernah di pedalaman lampung. Anak umir 15 tahun sudah mwnikah dan memiliki anak.

      Kita belum memiliki aturan.

  5. @afanrid says:

    Spertinya masy. menilai pend. sex masih tabu untuk dibicarakan. belum ada yang berani untuk membukukan (atau mungkin saya yg belum tau). tapi sayang sekalia malah ada beberapa konten porno yang nyasar ke buku pelajaran.

  6. saya blm mencari dalilnya, tetapi pernah mendengar bahwa Rosululloh SAW mengajarkan pendidikan sex pd anak sejak dini. contohnya mulai balita dibiasakan tidur sendiri. Pada jam-jam tertentu ( jam istirahat orang tua ) harus mengetuk pintu kamar ketika ingin berbincang dgn orang tua. mandi nggak boleh bareng baik antara anak laki dgn ibu, dgn ayah atau sebaliknya, krn secara fisik jelas beda..pernah jg saya baca, ketika anak berusia 5 thn sdh bisa merasakan nikmat krn sentuhan..Orang tua perlu waspada jgn membiasakan menyentuh alat kelamin putera-puterinya secara intens meski bermaksud menggoda/bercanda, ( ini pendapat pribadi )..Bos, jgn tertawa ya..ini cm ikut-ikutan share saja..kalau byk kurangnya yo wajar, blm pnh pny anak…hehehe….

    • lambangsarib says:

      Saya pernah baca itu. Dalilnya sahih. Masalahnya kan kurikulum. Blm pernah dibuat sbg acuan dasar utk pendidikan bukan ?

      Pendidik di sekoklah2 dan orang awan tdk punya pegangan.

  7. Ryan says:

    nice share mas.
    dulu pas SMA saya akan diterapkan pendidikan seks pada kami. tapi akhirnya dibatalkan. kenapa? karena dianggap tak pantas untuk diajarkan.
    Nah… inilah yang terjadi kan. Rata-rata dari kita, menganggap pendidikan seks itu taboo, tak pantas untuk dibicarakan bahkan sampai harus dijadikan bagian kurikulum. Tapi kalau melihat kebebasan berinternet, media sosial dan lainnya (yang diikuti dengan kebebasan dalam hal peraturan yang tak jelas), serta kasus-kasus yang menimpa anak remaja bahkan SD terkait masalah seks ini, harusnya pendidikan seks ini mulai diperkenalkan.

  8. abi_gilang says:

    Aduh saya ikutan bingung nih Pak, padahal udah punya dua anak tapi belum pernah mempersiapkan hal-hal seperti ini.

  9. Dah igt2 lupa isu nie… terima kasih kerana kembalikan kenangan saya dalam hal nie ..🙂

  10. Dyah Sujiati says:

    ada sebuah blog yang dulu pernah saya yang membahas soal ini. bagus. tapi saya lupa alamatnya. #lupa yang menjadi sebuah kesalahan😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s