Puasa Itu Bagai Kepompong

Adzan sholat subuh sudah berkumandang sekitar satu jam yang lalu. Mungkin karena hari pertama puasa, selepas makan sahur dan sholat subuh, orang  lebih memilih kembali ke peraduan.

Aku duduk di atas matras, di pojok kamar, menunggu anakku. Sebentar lagi adalah jam biologisnya bangun. Sudah menjadi komitmen kami, bahwa saat anak terbangun, kamilah orang pertama yang harus dilihatnya. Bukan tante, bibi atau omnya.

Kupandangi wajah cantik itu. Matanya masih tertutup rapat, tanda ia tertidur pulas. Aku tak tahu, apakah Kiki sedang bermimpi atau tidak. “Mimpilah bermain dengan bapak nduk, jika kamu memang sedang bermimpi,” kataku dalam hati.

Ingin aku membelai rambut hitamnya. Ingin pula aku cium pipinya.  Namun kuurungkan. Aku takut, belaian dan kecupanku  menghentikan mimpi indahnya.

“Nduk, anakku, ijinkan bapak bercerita yah…,” gumamku lirih.

Kemarin bapak ke PP Muhammadiyah, untuk menegakkan sholat tarawih. Karena letaknya jauh dari rumah, mohon maaf ya nduk, bapak tidak mengajak kamu. Bapak berjanji, kelak suatu saat pasti bapak ajak kamu kesana.

Nduk, bapak sangat terkesan !

Bukan karena gedungnya yang mewah. Bukan karena masjidnya yang rapi dan bersih. Bukan pula karena jama’ahnya yang membludak hingga emperan masjid.

Bapak terkesan karena di masjid itu ternyata dimakmurkan oleh remaja. Imam sholat tarawihnya masih seumuran bapak. Ayat suci yang keluar dari mulutnya begitu merdu, sehingga rokaat demi rokaat dijalani seolah sangat cepat. Belum puas rasanya  mendengarkan, namun ternyata  sholat sudah usai.

Sewaktu jeda sholat, ada kultum (kuliah tujuh menit) yang dibawakan seorang pemuda berusia 25 tahunan. Masih sangat muda. Mungkin dia masih mahasiswa.

Nduk, apakah kamu ingin tahu apa isi kultumnya ? Kalau memang kamu mau mendengarkan,  bapak akan ceritakan sedikit.

Menurut ustadz muda tersebut, ibadah puasa itu bagai kepompong. Ulat adalah salah satu jenis serangga yang menjijikkan. Jika menyentuh kulit, maka sekujur badan akan terasa gatal gatal. Jangankan anak seusiamu, orang tua pun banyak yang takut.

Pada masa tertentu ulat akan masuk kedalam fase kepompong. Ulat bertapa. Tidak makan, tidak minum dan tidak melakukan aktivitas apapun hingga beberapa waktu lamanya. Teriknya sengatan matahari dan dinginnya siraman air hujan tak membuatnya bergeming. Tetap diam dalam pertapaan.

Hingga suatu saat dimana masa pertapaannya habis. Si ulat tadi akan keluar. Maka  jadilah ia sebagai  kupu kupu yang cantik. Terbang kesana kemari, hilir mudik mencari bunga yang berkembang. Nan elok dipandang mata.

Ya…, betul nduk. Kupu kupu yang bapak maksud adalah yang sering kamu lihat di taman. Kadang hinggap di bunga melati kesukaanmu.

Nah, itulah yang disampaikan ustadz muda itu nduk.

Oh iya nduk, bapak pernah mendengar dari guru ngaji bapak waktu kecil dulu. Bahwa Tuhan itu menyukai orang beribadah, namun lebih suka pada pemuda yang gemar beribadah.

***

“Pak…., Assalamualaikuum – waalaikum salam,” kata anakku membuyarkan lamunanku.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Puasa Itu Bagai Kepompong

  1. ryan says:

    wah… bagus mas. Puasa itu bagai kepompong, di mana setelah menjalaninya, setiap orang akan menjadi lebih indah dan baik.

  2. arip says:

    Kesempatan buat meraih cinta Allah nih saya. Kan masih masuk kategori pemuda.😀

  3. ogieurvil says:

    Salut dengan anak2 muda yang sudah “kenal” dekat sama Allah.. Biasanya sih, gak bakalan dugem.. hehehe.. TFS..!!

  4. tinsyam says:

    semoga kiky jadi ulat yang cantik dan berpuasa lancar..
    keren kiky bangun tidur salamnya assalamuaikum gitu ya..

  5. Ilham says:

    metafora yang bagus. karena setelah berpuasa, di hari kemenangan orang menjadi fitrah kembali. Insya Allah…

  6. Pencerah says:

    betul pak, pemuda rajin beribadah sangat jarang meskpun sangat dimuliakan Allah

  7. cumakatakata says:

    Bangun tidur langsung ucap salam…
    subhanalloh…

  8. Wong Cilik says:

    selamat menjalankan ibadah puasa pk. Metafora nya mengena banget ya pk …

  9. naniknara says:

    Selamat menjalani romadhon.
    kesempatan untuk lebih intens mengenalkan anak pada Tuhannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s