Menumbuhkan Minat Anak Makan Sayur

Pagi ini matahari bersinar cerah.  Sinarnya begitu menghangatkan. Membuat burung burung riuh bernyanyi, dan bunga bunga tak segan memekarkan kembangnya.  Langit biru bagai kanvas raksasa terbentang. Tanpa noda setitik  awanpun di angkasa.

Dibawah ayunan  taman aku berdiri, mematung, memandangi anakku yang tampak riang. Matanya berbinar, senyumnya mengembang  menampakkan gigi gigi putih  kecil yang berderet.

Sambil berjongkok, dibelainya bulu tebal berwarna coklat  binatang berkaki empat tersebut.  Dimain mainkannya dua telinga runcing hewan itu. Sayup sayup kudengar lantunan syair lagu  dari mulutnya.

Kelinciku kelinciku, kau manis sekali…
Melompat kian kemari sepanjang hari
Aku ingin menemani….

“Nduk…, itu binatang apa ?” pertanyaanku menghentikannya bernyanyi. Ia menoleh kearahku dan kembali melempar sebuah senyum. Senyum sangat indah, yang tak kan mungkin kutemukan padanannya.

Tak lama kemudian sebuah kata kudengar, “kelinci pak…., ini kelinci.”

“Oh iya…., pinter kamu nduk, itu kelincai. Bagus yah…, lihat itu badannya gemuk amat yah ? Memang kelinci maemnya apa ya nduk ?” Kemudian dia menjawab lagi, “woltel pak… woltel.”.

“Wortel memang enak ya nduk, bapak juga suka wortel masakan ibu. Kiki suka kan ? Wortel masakan ibu ?” tanyaku.

“Kiky seneng ama woltel. Bapak, ibuk, tante, embah, makan woltel….” Jawab anakku dengan nada cedalnya. Sepertinya ia  mencoba menjelaskan sesuatu.

“Nduk, ibu masak wortel dirumah. Ayuk…., pulang dulu.  Kiky maem wortel, terus  mandi. Setelah maem wortel dan mandi, nanti kerja sama bapak…. Yuk…, pulang dulu yuk…” Pintaku mengajaknya berhenti bermain, sekaligus mengajak pulang.

Kembali ia melihat kelinci itu. Memandangnya dengan penuh rasa. Membelainya sekali lagi dan ia pun berdiri. Sambil melangkah menghampiriku, ia berkata, “dada kelinci…, dada…. Kiky pulang dulu yah.” Digoyang goyangkannya telapak tangan kanannya sebagai  tanda selamat tinggal.

Kurang dari sepuluh langkah ia menghampiriku. Saat berdiri  tepat dihadapanku, kedua tangannya menjulur keatas memberi isyarat. “Pak gendong,” katanya.

Sobat Anak, itulah salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengajak anak pulang bermain. Mengajak anak makan sayuran,  sekaligus menumbuhkan sifat empatinya.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo,com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Menumbuhkan Minat Anak Makan Sayur

  1. kalau nanti saya punya anak, saya akan ajarkan ke anak saya🙂 hehe..

  2. nabils29 says:

    Cara di atas cara yg menarik…
    Sama, dulu aku juga tidak begitu suka wortel. Tapi setelah tahu khasiatnya dan juga lihat kelinci makan wortel.. jadi muncul perasaan :
    “Masa kamu kalah sama kelinci nab?”
    Sejak itu aku jadi senang wortel.. ya, apa yang enak di mulut belum tentu enak di badan ; apa yang enak di badan belum tentu enak di mulut…
    Semangat makan sayuran, karena itu sehaat ..🙂

  3. tinsyam says:

    dinyanyiin dulu ya.. ada ponakan suka bayam karena popeye jadi kuat makan bayam.. tapi doyannya malah wortel karena manis kali ya..

  4. Ika Oetomo says:

    Anakku juga suka makan sayur pak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s