Belajar Huruf Dengan Anak Balita

“Pak, ke babia pak… Kiky mau ke babia” Kata anakku berkali kali.

Wajahnya sangat cerah, pandangan matanya tampak berbinar, bertepuk tangan riuh, tubuhnya meloncat kegirangan saat aku belokkan mobil ke kiri. Memasuki halaman  luas  parkiran toko buku Gramedia Matraman.

Seperti minggu minggu kemarin. Hampir setiap akhir pekan aku biasakan mengajak anak ke  toko buku. Katanya yang cedal dan ucapannya yang jauh dari sempurna, terdengar merubah kata gramedia menjadi babia. Mendengar ucapannya tersebut, aku dengan mudah dan  sangat cepat  memahaminya.

***

Bergandengan tangan mesra, itulah kata teramat indah untuk melukiskan. Jari kelingkingku dicengkeram erat. Kehangatannya menjalar ke seluruh tubuh, hingga bermetamorfosa pada kedamaian dihati.

“Nduk…, bapak bangga padamu. Di usiamu yang sekecil ini, ternyata lebih memilih  bermain ke toko buku dibanding keramaian  mall.  Tidak sia sia pengorbanan bapak selama ini.” Seruku dalam hati.

Dengan langkah berbunga  bak dua sijoli, kami susuri anak tangga demi anak tangga untuk satu tujuan,  lantai empat.  Tempat dimana ribuan buku anak anak tersusun rapi untuk diperdagangkan. Kuikuti  kemanapun langkahnya tertuju.

***

Di lantai empat, kulihat ia sibuk mencari  sesuat. Entahlah…, aku tak tahu apa yang dicari. Aku hanya mengawasi  dari jarak yang tak seberapa jauh.

“Nduk…, buku ini aja… Ini Nisa dan Hupi sedang memakai sepatu. Beli ini aja yah ? Nanti bapak bacain dirumah.”

Sejenak kata kataku  menghentikan pencariannya, dan menoleh kearahku. Ia menerima  buku warna pink  yang aku sodorkan. “Nggak mau….,” katanya, sambil meletakkan buku tersebut di raknya. Dan ia berjalan kembali menyusuri lorong demi lorong jajaran jendela ilmu  yang tertata rapi.

“Ini aja…” Kata anakku. Disodorkannya  sebuah kotak berwarna pink bergambar winnie the pooh. Kotakan seukuran genggaman tangan, namun bukan buku.

“Apa ini nduk…,” jawabku. Sambil mencoba membuka  kotak tersebut.

Ternyata isinya adalah setumpuk kartu dengan beraneka ragam gambar dan huruf kapital ditengah. Di bagian atas kanan ada nomer urut, dan sebuah kata di bagian bawahnya. “Bagus juga nih, buat mengenalkannya dengan huruf.” fikirku.

Aku ambil satu, dan menanyakan, “nduk ini A – Apel.” Anakku tampak sangat antusias mengamati satu persatu gambar yang aku tampakkan ke hadapannya. Dari huruf  A hingga huruf D.

“Ayo…., kita tebak tebakan yo nduk…,” pintaku.

“Ini huruf A ya nduk…., A itu apa ? Tanyaku. “Apel pak…,” jawab anakku.

“Pinter…., anak bapak pinter yah,” jawabku. Kulihat dari sudut mataku, ia menyeringai kegirangan, menampakkan gigi gripisnya.

“Ini hurf B ya nduk…., B itu apa ? Tanyaku. “Bola pak…,” jawab anakku.

“Waaah…. pinter anak bapak. Kamu luar biasa nduk. Kamu belajar sangat cepat, melebihi anak lain seusiamu.”

alphabeth

“Nah, ini huruf C ya nduk…., C itu opo artine  ? Tanyaku. Tampak ia sedikit kebingungan, matanya bergerak ke atas bawa dan kekaran kekiri. Ia berdiam barang sejenak.

Kemudia ia  menjawab dengan keras dan sangat tegas, “mimik pak…”

Sontak saja jawaban anakku membuat aku dan istri ketawa lepas. Terpingkal pingkal, hingga satu dua butir air mata menggelantung  disudut luar mataku.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Belajar Huruf Dengan Anak Balita

  1. Mimik cucuuuuu, pak!

  2. chris13jkt says:

    He he he . . . jadi ingat jaman anak-anakku masih balita nih. Waktu itu tembok ruang tamuku penuh huruf-huruf besar warna-warni buat anak-anakku belajar mengenal huruf 😀

    • lambangsarib says:

      sama pak, semua ruangan penuh oret oretan. Kira kira mengapa ya ?

      • chris13jkt says:

        Dulu huruf-huruf besar warna-warni itu aku tempel, Mas. Tembok aku lapis dengan kertas putih setinggi jangkauan tangan anak-anak, jadi mereka bebas corat coret tanpa orang tua jadi kesal karena temboknya kotor. Kalau sudah penuh tinggal aku ganti kertasnya. Dengan bebas berkreasi begitu, diharapkan anak-anak lebih bebas melepaskan imajinasi dan kreatifitasnya.

      • lambangsarib says:

        Aku bilang ke istri, “biarlah tembok itu kotor. Hingga dia dewasa.”

  3. utie89 says:

    kayaknya penyebutan kata “gontai” kurang tepat dech om.
    Gontai kan cenderung lesu, ga semangat.
    Sementara aq yakin om n family saat itu penuh semangat.

    Mungkin bisa diganti dengaaaaann..hmmm..
    Langkah santai???
    Atau kalau lanjutannya dua sejoli, yang pas itu langkah mesra??

    Ah, ngga tau dech, Ya begitulah pokoknyaa… Hehe..😛

    • lambangsarib says:

      KBBI, langkah gontai : perlahan lahan dan terhuyung huyung (karena lemah dsb).

      Hehe…, sebenarnya dari awal sudah yakin kalau kata “gontai” tidak pas, namun dipakasakan.

      OK deh…. siap di edit. Maturnuwun.

    • lambangsarib says:

      nek gini pie ?

      Dengan langkah berbunga bak dua sijoli, kami susuri anak tangga demi anak tangga untuk satu tujuan, lantai empat. Tempat dimana ribuan buku anak anak tersusun rapi untuk di dagangkan. Kuikuti kemanapun langkahnya tertuju.

  4. 'Ne says:

    hehehe jadi inget juga kalau ngajarin ponakan😀

  5. ryan says:

    mimik cucu….😀
    ah Kiky lucu deh.
    belakangan mas postingnya tentang Kiky terus nih. seru bacanya.

  6. tinsyam says:

    gambar cangkir jadi mimik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s