Kangen Itu Mendorong Lahirnya Kreativitas

“Pak, sini sebentar ….” Kudengar suara istriku memanggil.

Dari pintu kamar  yang sedikit terbuka, terlihat jelas ia lambaikan tangan. Mata bulatnya berbinar, dibawah alis mata yang tebal dan hitam. Bibirnya tersungging, tersenyum sangat indah, tak beda jauh dengan senyumannya semasa kuliah dulu.

Senyum dan intonasi suara itulah yang mampu meruntuhkan tembok keangkuhanku, sehingga keberanianku bergelora   untuk sesegera mungkin meminangnya.

Ia duduk diatas sajadah merah, masih menggunakan mukena. Tandanya baru saja menegakkan sholat lohor. Sementara aku baru saja datang dari masjid untuk menunaikan sholat jum’at.

“Sik, sebentar, ngombe dulu.” Aku berjalan perlahan  kearah meja makan yang terletak  di ruang tengah. Meneguk  segelas teh pahit yang terhidang  diatas meja, dan menghabiskannya. “Seger …,  Alhamdulillah,” gumamku dalam hati.

“Ono opo sih ?” Tanyaku, bersamaan dengan pintu kamar  yang kubuka lebih lebar.

Kualihkan pandanganku ke Kiky. Ia tersenyum, berlari dan menubrukkan tubuh ringkihnya kearahku.  Dalam hitungan detik, anak itu kini sudah ada di gendonganku. “Wah, udah berat nih anak bapak. Makannya  banyak ya ?  Kalau makannya banyak, nanti  cepet besar, kakinya biar panjang seperti jerapah, dan besar seperti badak.  Kiky anak pinter yah ?” Kataku menyanjung.

Anakku tak menjawab, hanya tersenyum. Sejenak  pandangan mata kita beradu, hanya sesaat, walau terasa sangat lama. Tanpa diminta,  ia cium pipi kananku  dengan kasih sayang. Terasa hangat. Kebanggaanku sebagai ayah menggelembung hingga titik nadir, teramat susah mendiskripsikannya dalam kata kata.

“Nih pak lihat …,” kata istriku. Jari telunjuk lentiknya  mengarah pada sebuah gambar di tembok.

Gambar dengan spidol warna biru itu  memaksaku untuk merunduk dan   menjongkokkan kaki. Anakku berdiri tepat didepan, sementara tangan mungilnya melingkar di leherku.  Pandangan mata kami semua tertuju pada gambar di dinding tembok.

gambar orangAku bersyukur, gambar ini berhasil diabadikan. Kali ini gambar seseorang, entah siapa. “Aku harus menanyakan,  gambar siapakah yang dimaksud,” kataku dalam hati.

“Nduk, ini gambare sopo ?”

“Dedek pak ….”

“Dedek … ? Dedek siapa ?”

“Dedek Opin pak.”

Oh …, sekarang aku tahu siapa  yang dimaksud. Itu adalah saudara sepupunya. Beberapa minggu yang lalu, memang Opin, kakak dan kedua orang tuanya bertandang ke rumahku.

“Wah kamu pinter nduk ya…, sudah bisa gambar  dedek. Mana matanya ?”

“Nih dan nih,” tangannya menunjuk dua bulatan yang berada didalam lingkaran.

Aku terkesima, tersenyum, bangga dan seabrek kegembiraan bercampur baur  didalam hati. “Hidungnya mana nduk ?”

“Nih, idung nih ….”

“Mulutnya ?” tanyaku lebih jauh. Sengaja aku lakukan ini untuk memancingnya mendiskripsikan karyanya sendiri.

“Lalu, dua garis ini apa nduk ?” Tanyaku, jari telunjuk kuarahkan ke dua garis sejajar vertikal dibawah lingkaran berbentuk kepala manusia.

“Nih kakinya pak …,” Jawab anakku.

Aku peluk anakku untuk kesekian kalinya. Aku cium pipinya yang ranum kemerahan. Dari sudut mataku, bisa kulihat ibunya tersenyum memandangi kehangatan kami. Mungkin ia ngiri.

“Memang Dedek Opin kemana nduk ?” Tanyaku melanjutkan.

“Pulang pak, auh ….”

“Pulang kemana Dedek Opin  ?”

“Naik keleta, auh pak ….”

“Kiky mau pulang ke rumah embah ? Naik kereta ? Ketemu Dedek Opin ?”

“Mau pak, Kiky mau bobok ama Dedek Opin. Ama bapak, ama ibu, ama embah, ama tante …” Jawab anakku. Tangannya melingkar erat di leherku. Aku perlahan berdiri, dan tetap membiarkannya dalam gendonganku.

— @lambangsarib–

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Kangen Itu Mendorong Lahirnya Kreativitas

  1. metamocca says:

    Kiki pintar🙂

  2. Newbie Tora says:

    Kreatif ne Si Kiky Ya Om😀 semoga menjadi anak yang kreatif terus kedepanya,.. Amin😀

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb,

    Senang membaca kemeriahan keluarga saudara di tulis di sini. Mudahan memperolehi mawaddah wa rahmah. Tambah lagi kepetahan dan kepintaran nak Kiky. yang ternyata sudah bisa melukis apa yang ada difikirannya. Memang benar rasa kangen itu dapat menghadirkan daya imaginasi yang hebat. Salut dan 4 jempol buat Kiky.

    Salam hormat dari Sarikei, Sarawak.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s