Bertemu @shinta_read Di Noura Books

“Wa’alaikum salam…, tuh, bapak bawa apa tuh,.. Buk bapak pulang…”

“Ini oleh oleh nduk, buku.” Kataku, sambil menyerahkan sebuah tas plastik putih ke tangan mungilnya. Kami pun duduk bersila, melingkari tas plastik buah tangan. Setelah membuka ikatan, aku ambil satu persatu buku itu seraya berkata, “Ini yang berwarna merah  buku bapak, untuk ibuk ini dan yang berwarna biru buat Kiky.”

“Terimakasih pak,” kata anakku. Diambilnya buku itu dan diserahkan ke ibunya, “buk, bacain Kiky.”

***

Tepat pada perayaan  hari buruh sedunia,  aku dan beberapa orang teman bertandang ke Noura Books. Penerbit  buku, satu grup dengan Mizan yang terletak di  daerah Jagakarsa.

Romobongan  dipimpin oleh Sendra Irawan, pemilik FOCUZ The Writing School. Keramahan adalah kesan pertama yang kami dapat  saat masuk kompleks perkantoran  yang asri. Seorang satpam  berbaju biru dongker membantu kami memarkir kendaraan dengan tetap melempar senyum.

Dari lokasi parkir, kantor Noura tidak seberapa jauh. Mungkin hanya seratus meter saja. Kami  menyusuri jalan setapak bersemen, dengan aneka bunga berwarna warni disampingnya. Sengatan matahari yang terik terhalang rimbunan pohon  berdaun lebat. Sejuk dan nyaman  adalah kata yang paling sepadan untuk melukiskannya.

Saung  bambu beratap rumbia berdiri kokoh  diatas rumput gajah mini terawat. Berkarpet hijau, dengan beberapa kran air untuk wudlu mengelilingi pohon mangga.   “Nanti setelah selesai acara,  kita bisa sholat lohor disitu,” kata Bapaknya Tidie. Tangan kanannya  menunjuk gazebo yang difungsikan sebagai musholla tersebut.

Kesan pertama memasuki ruang meeting Noura Books adalah kemewahan yang bersahaja. Ruang pertemuan  yang besar, bisa menampung lebih dari sepuluh orang. Di ruangan berarsitektur futuristik ini Mbak Shinta mewakili perusahaan, menerima kami.

Banyak hal yang disampaikan. Apa yang terucap adalah pengalamannya selama bertahun tahun menjabat sebagai senior editor. Salah satu hal  penting yang disampaikannaya adalah tentang  bagaimana tulisan yang baik.

“Tulisan  yang baik adalah keluar dari dalam hati, tidak memaksakan suatu tulisan yang tidak dihayati.” Itulah salah satu poin  penting yang mampu aku catat  di memori alam bawah sadarku.

Banyak hal yang bisa dicatat dalam pertemuan itu.  Kucoba menuliskan ulang beberapa quote dibawah ini, dengan gaya bahasaku sendiri.

“Tulisan harus rapi, menyangkut tanda baca, ejaan dan susunan kalimat. Sehingga memudahkan editor untuk membaca. Pesan yang hendak disampaiakan pun dimengerti orang lain.”

“Novel memiliki tren tersendiri, yang susah difahami dan diprediksikan. Kadangkala sebuah tulisan yang dianggap biasa, bisa menjadi trending, begitupun sebaliknya.”

“Teruslah ngeblog, banyak pengarang buku yang dulunya adalah blogger. Membukukan tulisan tulisan di blog mereka.”

“Tidak perlu  silau dengan nama besar. Iwan Setiawan pengarang buku 9 Summers dan 10 Autumns, Fauzan Mukrim  pengarang buku Rivers’s Note dan  Andre Hirata pengarang buku Laskar Pelangi. Dulunya mereka bukanlah siapa siapa, sama seperti kita. Perjuangan dan karyanya mampu melambungkan namanya. Oleh sebab itu, tetaplah menulis.”

Selain itu, Mbak Shinta  juga menjelaskan dengan detil teknis pengiriman naskah ke pihak publishing. Kata katanya runut, terstruktur dan sarat makna. Dua jam lebih kami mendengarkan, tak bosan rasanya. Namun,  jam makan siang dan adzan sholat lohor memaksa kami untuk menyudahi pertemuan penuh kehangatan ini.

Ucapan terimakasih sepertinya tidaklah cukup. Transfer ilmu yang kami dapat semoga menjadi ladang ibadah  pemilik kepandaian. Terimakasih juga atas souvenir berupa buku buku untuk kami. Sekali lagi, aku hanya mampu mengucap terimakasih.

noura booksSetelah sholat lohor berjama’ah kami pun bubar, setelah sebelumnya sempat  berfoto ria.

Sebuah tenda putih berdiri di  sayap kiri halaman parkir, rak buku berjajar  rapi didalamnya. Baner setinggi  orang dewasa mengusik perhatianku. Terbaca dengan jelas, “Pesta Buku Murah Mizan, discount 50%.”

Mungkin karena tulisan dalam baner  itu. Atau mungkin juga karena kawan kawanku adalah  penggila buku.  Kami pun larut dalam keasyikan sendiri memilih buku yang bagus.

“Ini buku bagus pak, saya rekomendasikan.” Kata Mas Sendrawan sambil mengangkat  buku berjudul KINANTHI Terlahir Kembali, karya TASARO GK. “Itu singkatan Taufik Saptoto Rohadi, sedangkan GK itu artinya Gunung Kidul, tempat kelahirannya.” Mas Sendrawan Menambahkan.

Tanpa pikir panjang, buku setebal 353 halama itu langsung aku ambil dan membawanya ke kasir. Tak lupa  aku ambil  buku berjudul “Aku Bisa Pakai Sepatu” untuk anak semata wayangku tercinta. Serta buku Muhammad untuk istriku dirumah.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Bertemu @shinta_read Di Noura Books

  1. ryan says:

    Kinanthi… kayaknya punya… *lupa*
    mas… kirim naskahnya gimana yang baik?

  2. yisha says:

    wah, yisha senang bangets kalo ada yang ngasih buku………..

  3. Larasati says:

    wah pak lambang hebat….sebentar lagi akan lahir novelis baru nih, sukses yah pak, bagi2 ilmunyaaaa

  4. deviuta says:

    wah, 50%? disini aja 15% dah sujud syukur. duh, pengen kesana.

  5. capung2 says:

    menulis mmg hrs keluar dari dlm hati, tanpa paksaan agar hsl yg dibuat menjadi cemerlang… dan dinikmati bnyk org..

    Pada tanggal 03/05/13, Lambangsarib’s Blog

  6. tinsyam says:

    udah tamat deh baca kinanthi.. keren tasaro..
    btw, muhamad karangan sapa? semua dapat kado ya di rumah.. hari buruh yang bahagia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s