Ayo…., Taklukkan JAKARTA

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku naik kereta api. Menuju Jakarta, kota metropolitan, kota penuh pengharapan. Gerbong kereta api ekonomi penuh sesak. kapasitas  106 penumpang ternyata dijejali lebih dari 150 an orang. Ditambah lagi  hilir mudik pedagang dan pengamen,   membuat kereta semakin berjubel. Pengab, panas dan kelebihan muatan.

Aku duduk di gerbong 5 tepat di samping   jendela. Seorang paruh baya ada di sampingku. Setelah berkenalan, barulah aku tahu   namanya, Ocan. Pelanggan tetap moda transportasi darat ini, setiap hari jum’at melakukan perjalanan dari Jakarta menuju  Yogyakarta.  Arah sebaliknya  dilakoni  setiap minggu sore.

“Cepat atau lambat, pemerintah  Orde Baru  tumbang !  Timor timur pasti lepas dari pangkuan ibu pertiwi.” Kata Ocan  memprediksi. Sepertinya ia  aktivis pro demokrasi yang suka demonstrasi menentang pemerintah.

“Benarkah analisismu itu  Ocan ?”  Kataku  penuh tanya tak mengerti.

“Orang orang    pro demokrasi yang bergerak di  bawah tanah meyakini  itu.  Kelak kita akan menjadi saksi sejarah.” Katanya, setelah ia panjang lebar menjelaskan. Aku berusaha manggut manggut agar dianggap mengerti, walau sebenarnya sama sekali tak paham  apa yang dimaksud.

Selama perjalanan, dominasi pembicaraan   Ocan sangat terasa. Seingatku hampir semuanya didominasi topik politik. Hanya sekali ia membahas topik lain, dan itu membekas di alam bawah sadarku.

“Ayo  kita taklukkan JAKARTA.  You Can If You Want !   Kamu Dapat Jika Kamu Mau,” itu kata yang mampu aku ingat sebelum tertidur.

Suara riuh membangunkanku dari tidur panjang. Kereta api  sudah memasuki Stasiun Senen. Saat kesadaranku mulai pulih, kudapati   Ocan  sudah raib dari tempat duduknya.  Mataku berkelana ke empat  penjuru mata angin mencari,  tak ditemukan jejaknya.

Hari masih pagi,  dalam keremangan aku lihat  jalan utama di depan stasiun masih lenggang. Tak ada tanda tanda kemacetan, hanya sesekali kendaraan melintas. Matahari pagi pun sepertinya masih enggan bersinar.

Hawa dingin masih menyelimuti, saat kulihat beberapa orang tidur pulas di halte bis. Beralaskan koran. “Apakah ini yang disebut dengan gembel ibu kota ?” Tanyaku dalam hati. Inilah untuk pertama kalinya kakiku  menginjak tanah Jakarta,   menghirup udara  kota metropolitan yang selama ini hanya  ada di bayangan.

“Terimakasih Sri, berkat bantuanmu aku bisa mengetahui kehidupan Jakarta dari dekat. Yang sebenarnya, ternyata jauh dari bayanganku, tidak seperti  yang ada di sinetron sinetron. Bedanya teramat jauh, bagai bumi dengan langit.” Aku berbicara sendiri dalam hati.

Mushola kecil di ujung jalan tampak terang benderang. Sedikit lebih ramai dibanding beberapa tempat sekitar. “Sholat dulua ah…, semoga tidak ketinggalan jama’ah.” kataku dalam hati saat  kulangkahkan  kaki  menyeberang jalan, menuju Mushola Ma’ Ariif.

Satu persatu jama’ah meninggalkan musholla, yang tersisa tinggal beberapa orang saja. Aku berdiri mematung di trotoar tak jauh dari situ, mematung,  memandangi  rintik  hujan yang turun perlahan. Menunggu bus angkutan kota kearah Jalan TB. Simatupang.

“Ente naek kopaja aje.” Kata seseorang di mushola tadi selalu kuingat, tak kan kulupa barang sedetik pun. Bis itulah yang kini kunanti, untuk membawaku ke tujuan awal.

Sepuluh menit berlalu, bis yang dimaksud belum menunjukkan tanda tanda akan datang. Dalam keremangan subuh, samar samar  kulihat  seseorang sedang merangkak. Bergerak  menuju arah  utara, sebentar lagi  akan melintas tepat  didepanku. Aku amati terus orang itu  dari sudut mata terpicing.

“Kenapa orang itu merangkak ? Sepagi ini ? Ditengah hujan  gerimais ?” Pertanyaanku dalam hati, tak satupun yang bisa kujawab. Aku, sama sekali tak mengerti mengapa.

Tak lama kemudian ia berlalu tepat didepanku. Pandangan matanya fokus ke depan, tak menoleh sedikitpun. Dari raut wajahnya terlukis jiwa keikhlasan dan semangat hidup membara. Dengan optimisme  ia tetap merangkak, berlalu meninggalkanku.

Tanpa kuduga air mataku menetes, perlahan, satu persatu. “Ya Allah, terimakasih telah engkau anugerahkan kesempurnaan dalam hidupku. Maafkan hambamu jika tidak pernah bersyukur.” Do’a kuucap dalam hati.

Orang tadi memang catat, jauh dari kesempurnaan. Dia merangkak bukan karena kemauannya, melainkan takdir dari Tuhan. Kakinya catat, kaku, tidak  bisa digerakkan. Ukurannya pun sangat kecil, hanya tulang berbalut kulit.

Tuhan seolah mengatakan, “Ngajiyo, orang itu cacat. Namun ia berani menantang hidup, tidak menyerah pada nasib dan pantang untuk meminta belas kasihan. Kamu manusia yang terlahir sempurna. Tak sepantasnya takut menghadapi kehidupan yang fana. Ayo…, langkahkan kakimu, songsong kerasnya kehidupan, taklukkan Jakarta.”

Kuseka air mataku, aku paksakan untuk tersenyum sendiri. Dalam hati aku berkata, “Ya Tuhan, dengan mengucap bismillah bantu aku menaklukkan Jakarta.”

@lambangsarib –

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

30 Responses to Ayo…., Taklukkan JAKARTA

  1. tinsyam says:

    itu kapan tiba di jkt?

  2. sekarang sudah bisa mentaklukkan jakarta ya pak??

  3. dyazafryan says:

    oh..udah lama ya mas…
    hiks.. harus banyak2 bersyukur.. :’)

  4. nyonyasepatu says:

    Ngomongnya pas di depan monas waktu pertama kali nyamoe jkt yaa mas hihi

  5. pitaloka89 says:

    Menaklukan jakarta itu seperti apa pak?
    Saya mah mau sukses aja ^_^

  6. niee says:

    prediksinya bener jadi kenyataan ya mas.. dan mas bener sudah bisa menakllukkan jakarta belum neh?😉

  7. Ndak pengen ke Jakarta pak. Udah nyaman di desa😀

  8. yisha says:

    jadi, bapak udah sukses menaklukkan jakarta? selamat ya pak……….

  9. genthuk says:

    Menaklukkan Jakarta atau Ditaklukkan Jakarta?

  10. mintarsih28 says:

    siapa suruh datang jakarta, hanya sayair itu yang saya ingat.

  11. abi_gilang says:

    Sampai sekarang jakarta masih menggoda banyak orang untuk menaklukannya

  12. Wong Cilik says:

    Salut pk untuk ketegarannya …
    Saya dulu malah mangkir keterima kerja di Jakarta, pilih di daerah …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s