Mas Henry, Terimakasih Banyak

Belum lama matahari menampakkan diri. Saat yang tepat  untuk mengajak anak bermain di taman dekat rumah. Sambil mandi matahari, berlari mgengejar kupu kupu yang hilir mudik mencari bunga bunga yang berkembang. Bagiku, inilah surga.

Hanphoneku bergetar. Sebuah pesan  mengusik kehangatan kami berdua. Dengan malas aku ambil dari saku, dan membukanya. Ternyata sebuah notifikasi  lewat aplikasi WhatsApp.

“Klik….” bunyi itu keluar dari telepon jadul ditanganku, saat aku pencet aplikasi.

“Hah… ?!” Kataku dalam hati. Hitungan detik menunggu loading terasa sangat lama. Mungkin teori relativitas benar adanya. Kekaguman dan rasa hormatku pada teman yang satu ini, membuat  waktu menunggu  satu dua detik seolah sedasawarsa.

“Assalamualaiku mas lambang, apakah bisa hadir ke kantorku hari ini ?”

Aku tak segera membalas. Anganku tiba tiba terbawa melayang mengembara jauh. Pesan itu seolah  mesin waktu,  menarikku untuk kembali ke kejadian 15 tahun yang lalu. Saat kami masih sama sama satu kantor, di sebuah perusahaan jasa pengiriman.

Waktu itu aku hanyalah seorang kurir (tukang antar surat) yang sangat beruntung berkawan dengan   development manager. Jarak kita dari sisi karir teramat  jauh, mungkin setara  waktu tempuh  merkurius dengan pluto.  Namun, musholla kecil di pojok  kantor mendekatkan hati kita. Ia sebagai imam dan akulah sang makmum.

Ia  banyak mengajariku bagaimana menjadi seorang karyawan yang baik, amanah, jujur dan bisa dipercaya.  Kejujuran adalah mata uang yang tak mengenal inflasi. Kursnya  termahal, laku disetiap generasi dan  di seluruh belahan bumi.  Kepercayaan adalah inti sebuah bisnis, sementara uang hanyalah sebagai alat penghitungnya. Amanah adalah pembeda antara orang beriman dan golongan munafik.

Teringat pula saat  dipinjamkan sebuah buku, entah apa judulnya, akupun  sudah lupa. Berisi  tentang bagaimana menjadi seorang salesman yang efektif. Alhamdulillah, dengan bantuan buku itu aku mampu belajar menjadi seorang  salesman. Buku itu adalah pondasi awal  dalam berkarir dibidang jasa logistik.

Masih segar dalam ingatkan, ia suport kegiatan kawan kawan  operasional untuk mengadakan pengajian rutin di hari sabtu. Dan aku dengar dari beberapa teman bahwa pengajian itu adalah embrio dari pengajian besar yang saat ini menjadi budaya  perusahaan.

“Pak gendong….” Rengekan anakku membuyarkan lamunanku.

“Eh…, iya nduk, maaf yah. Sebentar, bapak balas pesan ini dulu yah ?” Kukatakan itu dengan membungkukkan  badan, mendekatkan kepala pada  kepala anakku. Memandangi matanya dengan  berharap maaf.  Sementara tangan kananku membelai rambut hitamnya yang mirip demi moor.

Aku gendong anakku di pundak, sesaat setelah menjawab pesan itu. “Nduk, bapak siang nanti mau ketemu teman bapak. Om Hendry namanya. Besok lain kali bapak kenalin, hari ini bapak sendirian dulu yah ?” Aku katakan itu pada anakku. Seperti biasa, ia diam saja. Aku sebenarnya juga mengerti bahwa anakku belum paham akan maksudku. Tapi entah mengapa, itu sudah jadi semacam tradisi.

***

“Kantor mewah nan  megah,” itu kesan pertama yang melintas di benakku.

Ruko empat pintu dirubah sedemikian rupa  menjadi pintu tunggal nan  kokoh. Menjulang tinggi  tiga lantai menimbulkan kesan luar biasa, mengundang decak kagum. Beberapa truk warna putih terparkir didepan gedung. Mobil mewah berjajar rapi  membelakangi bangunan  utama.

Saat kami berjumpa, salam komando dan peluk persahabatan tak mampu meleburkan kerinduan romantisme masa lalu. Inilah untuk kali kedua, kami bertemu untuk kurun waktu lebih dari lima belas tahun lamanya.

“Mas Hendry…., Aku bangga memiliki kawan sepertimu. Kamu layak menjadi seorang big big boss.” Kata itu tak mampu terucap, saat ia persilahkan aku minum kopi susu, duduk tepat dihadapannya.

Kini,  karirnya melesat jauh, bagai anak panah yang ditolakkan dari busurnya. Waktu ternyata mampu merubah segalanya. Ia adalah owner   MASKargo, sebuah jasa titipan terkemuka di Jakarta. Pemilik kelompok bisnis umroh dan haji ini pun berbisnis kuliner, ayam bakar delila namanya.  Restoran besar di simpang depok, dengan ciri khasnya “nasi biru”.

Berdiskusi dengannya sungguh menyenangkan. Membuka cakrawala berfikirku yang selama ini beku. Memberikan harapan baru ditengah ketidakpastian iklim investasi. Memberiku motivasi, bagai genderang perang kesultanan mataram yang menderu.

Lewat blog ini, dengan rendah hati harus aku ucapkan, “Mas Hendry, terimakasih banyak.”

@lambangsarib

.

butuh jasa cargo murah ? twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Mas Henry, Terimakasih Banyak

  1. utie89 says:

    ooommm… demi moor teh saha???😆
    tadinya malah kupikir moor is mur😛

    eh eh, simpang depok?? disebelah mana nya???😕

    • lambangsarib says:

      itu loh, artis yang membintangi pilm ghost. Dulu kan pernah mewabah. Hehehe…. analoginya jadul banget.

      Coba deh ayam bakar delila, diambil dari kata dek lila (nama anaknya). Cari pak hendry, bilang dari lambangsarib, buka link ini. Pasti dapat discount. Hehehe….

      Lengkapnya, bisa dibuka link.

      • utie89 says:

        hehe.. emang akunya aja yang kerajinan ngritik om.
        kalau ngga salah sih, tulisannya “demi moore” harusnya om😛

        udah sempet buka web nya, tapi belum sempet tanya2.
        beginilah kalau jadi karyawan om -___-”

        eh tapi dijamin halal toh? hehe…😀

      • lambangsarib says:

        Aku lebih seneng kritikan kok dibanding pujian (maksudnya dalam menulis yah) hehehe….

        Ditunggu kritikan yang lain.

    • lambangsarib says:

      Utie, tanya sendiri sama yang punya lapak yah…. —> http://henridunanto.wordpress.com/

  2. tinsyam says:

    mashenrynya punya wipi ga?
    ayo ikutan sesukses beliau..

  3. Tulisan pak Sarib sekarang lebih baik. Hasil belajar dengan Sefrilnya TOP😀

  4. capung2 says:

    hebat… msh muda sdh jdi owner..

    Pada tanggal 24/04/13, Lambangsarib’s Blog

  5. yisha says:

    seneng deh bapak pamit ama anak………
    bagi yisha, meski diam, dia paham kok………
    wah, ini kebiasaan yang keren bangetssssssss…………

    • lambangsarib says:

      Hm….

      Nah, seringkali dia ngomong sendiri saat bangun tidur. Aku pura2 tidak dengar dan tetap memejamkan mata. Disampingku ia bercerita. Tapi sama, aku juga tidak faham dengan ceritanya.

  6. ryan says:

    wah inspirasional banget mas. keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s