Kantin Apa Warung ?

Tidak  susah  menemuiku. Aku bukanlah pelajar   yang sibuk berorganisasi diluar kampus. Bukan  seorang aktivis yang banyak acara  demonstrasi di jalanan menentang ketidakadilan. Bukan pula kelompok bawah tanah penentang kebijakan orde baru yang militeristik, represif dan diktator.   Aku lebih mirip  seorang mahasiswa culun  yang dipingit dalam kungkungan tembok tinggi pembatas kampus.

Ruang kuliah, laboratorium  dan perpustakaan bagaikan  kos kosan  keduaku. Ada satu tempat di kampus yang paling jarang aku kunjungi. Dalam setahun, mungkin hanya sekali dua dikunjungi. Namanya sangat asing di telinga orang samin sepertiku. Tempat itu seolah angker, auranya bagai  momok yang menakutkan. Ruangan itu mampu menghancurkan sifat hematku. Bahkan rayuannya melambai  menguras lembaran demi lembaran  isi dompet.

“Min, Ayo kita  ke Kantin.” Kata Budi suatu waktu.

Aku menoleh kearahnya, sejenak memperhatikan mimik dan raut mukanya. Tidak ada yang mampu aku baca dari bahasa tubuh Budi. Aku berpikir keras mencari makna kantin dalam berangkas isi otak dan alam bawah sadar. Tak kutemukan.

Saat Budi  melangkahkan kaki meninggalkaku, kuikuti  langkahnya. Sambil terus berusaha mencari padanan kata  asing itu. Aku pikir itu adalah ruangan semacam laboratorium, ternyata bukan.

“Kok masuk kesini ? Tanyaku. “Katanya mengajak ke kantin.”

“Hahaha…, dasar orang samin. Ya ini namanya  Kantin.” Mulutnya tertawa lebar, terpingkal pingkal.  Matanya menyempit sedikit berkaca, sebutir air  tawa ditepi luar kelopak. Perutnya yang mirip perempuan hamil sembilan bulan tampak bergoyang dibalik baju. Seolah ada yang lucu dari pertanyaanku.

“Ini warung Bud, bukan kantin.” Jawabku berargumentasi, tanpa mengerti apa yang diketawakannya.

“Kantin itu sama dengan warung. Berasal dari Bahasa Belanda, bahasa kompeni yang menjajah kita lebih dari 350 tahun lamanya. Kata itu  diserap  kedalam bahasa Indonesia. Makanya Min, kamu mesti  belajar sama orang belanda juga.”

Aku terdiam. Untuk pertama kalinya dalam hidup aku mengerti kosa kata baru yaitu, “kantin.” 

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

37 Responses to Kantin Apa Warung ?

  1. Dzulfikar says:

    Let’s go to the canteen sir🙂

  2. danirachmat says:

    Baru tahu saya Mas kalo sama aja. Hihihi

  3. sakti says:

    kapan-kapan traktir dong om ke kantin tegal🙂

  4. ryan says:

    nama tempat makan di sekolah – ini pertanyaan di game TTS yang saya isi semalam.😀
    kantin

  5. utie89 says:

    berangkas means brankas ya om???

  6. OO sama saja, selama ini saya kira kalau kantin ya buat tempat makan, sedangkan warung yang jualan barang-barang kelontong😀.

  7. Dailynomous says:

    warkop aku lebih suka menyebutnya🙂

  8. chris13jkt says:

    Kalau kantin kesannya lebih keren ya? Padahal sih sama saja. Cuma kalau ‘warkop’ diganti jadi ‘kankop’ kan gak lucu ya Mas 😀

  9. genthuk says:

    hahaha, aku jadi teringat masa SMA, culun, saat perpustakaan jadi satu-satunya tempat pelarian, kantin, selama tiga tahun, kurang dari lima kali aku ke sana.

  10. tinsyam says:

    bedanya kantin itu di dalam gedung, warung itu di luar gedung..
    pantry itu di dalam kantor.. foodhall itu di dalam mall..

    *dibahas.. yang penting sih laper..

    • lambangsarib says:

      ahaha… maturnuwun bin makasih.

      Terus terang saja, baru tahu. Berarti anak anak salah kaprah yah ? soalnya diluar gedung, tapi disebut kantin.

      • tinsyam says:

        maksud gedung ini masih satu pager.. kaya di kantor, kalu ke kantin itu deket tempat parkir, masih dalam satu gedung.. tapi kalu di luar gedung yang namanya warung..
        kantin sekolah kan ga di gedung sekolah, tapi masih dalam lingkungan sekolah.. masih dalam satu pager.. kalu di luar namanya warung..

      • lambangsarib says:

        OK seeep, semakin paham bedanya. Luar biasa memang,…

  11. Dyah Sujiati says:

    Pak, pengalaman ini kan sebenarnya lucu juga? Kenapa jadi terbaca serius dan mengerikan?😦

    • lambangsarib says:

      Karena tidak punya cukup duit. begitu masuk kantin yang mahal, uang makan sebulan ludes dalam seminggu. Mengerikan bukan ?

      • Dyah Sujiati says:

        ya, tapi di sini kan poin cerita (yang tertangkap oleh saya) adalah ketika njenengan dulu belum tahu kantin itu ya warung. dan itu menurut saya lucu. tapi dari cara pembahasaannya jadi ngeri. tapi bukan ngeri karena duit sebulan itu jadi ludes. kan tadinya juga njenengan belum tahu harga-harganya.

        cheerss ^____^ v

      • lambangsarib says:

        Matur nuwun….

        Memang menulis itu susah. Aku merasakan sendiri sekarang, setelah beberapa bulan ini aktif belajar menulis.

        Apa yang kita fikirkan, lalu dituangkan dalam tulisan, seringkali dimaknai berbeda oleh pembaca. Nah, itu yang kualami saat ini.

        Perlu nambah jam terbang ya ? hehe….

        Pinginnya bercerita bahwa, seorang anak kampung itu cenderung takut masuk rumah makan yang terkesan mahal dan mewah. Kalau masuk warteg biasa saja.

      • Dyah Sujiati says:

        kan masuknya juga di katagori : intermezzo

        #sama-sama belajar menulis Pak, biar ada yang merhatikan tulisan saya juga:mrgreen:

      • lambangsarib says:

        Setiap yang aku follow, pasti aku baca dan pelajari gaya bahasa, narasi, dan diksinya. Perbedaan setiap blogger dalam mendiskripsikan sesuatu tentu saja menambah kekayaan pembacanya bukan ?

        Aku baca, amati dan tiru.

      • Dyah Sujiati says:

        Makanya itu Pak, butuh proses dan latihan. Karea selain menulis itu hati jadi lega, apa yang ingin kita sampaikan pd pembaca tulisan kita harus menagkap betul apa yang kita maksud. Jangan sampai salah sangka. hehe.
        jadi ternyata menulis itu ilmu komunikasi juga, hehe

      • lambangsarib says:

        Terimakasih. Komen beginian nih yang diharapkan. Saling belajar untuk memperbaiki diri.

      • Dyah Sujiati says:

        Haha
        same-same Pak. Gantian lho taapi😀

      • lambangsarib says:

        Pasti, kan aku selalu membacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s