Melewati Malam Pertama

Sebuah rumah kecil dengan arsitek bergaya tahun 70’an. Berdinding tembok yang sudah retak di beberapa bagian, menyisakan lobang yang menganga.  Plesteran terkelupas di hampir setiap permukaannya, menampakkan deretan bata merah tersusun keatas.  Genting terlihat   acak acakan, beberapa buah hampir jatuh,  tanda kalau banyak kayu penyangganya sudah keropos.

Kaca jendela pecah, retakan membelah dari kedua sisinya. Beberapa sticker ditempelkan sebagai pemanis sekaligus sekaligus  perekat antar kepingan. Dari luar bisa dilihat jelas bahwa rumah ini memiliki  empat kamar tidur  dan  kamar mandi disamping rumah dekat sumur tua.

Rumah ini terletak  di  ujung gang sempit yang hanya mampu dilewati oleh pejalan kaki. Jangankan kendaraan bermotor, sepeda angin pun sulit untuk melintas.   Disitulah untuk pertama kali aku tinggal, indekos dengan kawan kawan yang  baru dikenal, serumah dengan induk semang

Tembok di salah satu sudut kamarku berlumut,  semerbak aroma  tak sedap menyeruak. Kamar  lembab dan gelap. Sebenarnya tidak terlalu layak untuk disebut kamar tidur.  Mungkin lebih tepat jika dipakai sebagai lokasi syuting reality show uji nyali atau uka uka.

Kebetulan siang tadi hujan turun, tidak terlalu lebat dan kurang dari 30 menit lamanya. Gang tiba tiba  berubah.  Ujung lorong  berubah menjadi kubangan lumpur tak bertepi.  Beberapa ruas lain  tak ubahnya seperti  kolam ikan lele.

Salah satu alasan kenapa aku mau tinggal disini adalah faktor biaya. Nilai kontrakannya per tahun  hanya sepertiga dari harga pasaran. Lokasinya di pusat kota dan  tidak  jauh dari kampus. Untuk  ke kampus atau ke Jalan Malioboro, bisa ditempuh dalam hitungan menit dengan berjalan kaki.

Inilah malam  pertamaku tinggal di kos kosan, jauh dari orang orang yang sangat aku cintai. Jam menunjukkan pukul satu dinihari. Sepi, tiada seorangpun kudengar sedang terjaga. Hanya sesekali gemerisik binatang malam terdengar.

Mataku masih belok, belum sedikitpun kantuk menyergap. Anganku menerawang jauh membayangkan orang orang yang aku sayangi. Kakek dan nenek, ibu dan bapak, adik dan kakak, semua melintas dalam bernak. Satu persatu, silih berganti, bagai wayang yang menghiasi   layar putih didepan seorang dalang.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Melewati Malam Pertama

  1. danirachmat says:

    Trenyuh Mas membayangkan situasinya.

  2. tinsyam says:

    jadi kangen keluarga jadinya baca ini.. tapi dengan situasi yang beda..

  3. Larasati says:

    ikut menyelami latar dalam ceritanya pak….nice

  4. Titik says:

    sedihh huahh..huahhh..😦 salam kreatifitas, Pak🙂

  5. Rumah yang dekat kemana-mana memang menyenangkan, bisa hemat ongkos karena bisa ditempuh dengan jalan kaki🙂.

  6. nengwie says:

    SAma kaya mbak Tintin.. kangen keluarga di Bandung..

  7. Dyah Sujiati says:

    cie cie makin bagus aja ni pak bahasanya
    ikutan dhek Kiky : bapak pinter bapak pinter
    ahayy:mrgreen:
    Pisss Pak😀

  8. Jadi penasaran,, daerah mana ni pak Sarib🙂

  9. bundamuna says:

    pak Lambang pernah singgah di Jogja? sbg org Jogja, pertanyaan pertama yg muncul di benakku sama persis kyk pertanyaan mbak Ika.. hehe..
    belum pernah ngekos dan blm pernah jauh dr keluarga.. akibatnya jd minim pengalaman🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s