Dimana Banyak Kata Kata, Disitu Ada Dusta

Dari  semua ruangan  di kampus, perpustakaan adalah tempat paling favorit untuk dikunjungi. Aku bisa berjam jam lamanya duduk didalam, untuk  membaca gratis, atau hanya sekedar  melepas kepenatan. Entah mengapa, melihat buku yang tersusun rapi  sepertinya  lebih elok  dibandingkan   tumpukan baju di etalase super market.  Rak buku yang bejejer rapi  seolah lebih megah dibanding pilar pilar bangunan candi prambanan.

Seorang teman pernah bertanya, “kamu sering disini bukan karena suka baca kan ?”

“Lantas, kira kira  kenapa aku lebih banyak menghabiskan waktuku disini ?” Jawabku.

“Kamu tidak punya duit buat ke Malioboro dan makan makan  di kantin ya ? Hahahaha…..” Kata temanku dengan tawa mencemooh. Mulutnya ternganga lebar, menampakkan gigi kuning yang menghitam karena nicotine. Begitu bangganya  mengjekku, tanpa sengaja butiran butiran kecil air liur terpelanting dari mulutnya bersamaan dengan aroma tidak sedap.

Memang,  jika menyangkut masalah  pakaian, makanan  dan segala yang ada hubungannya dengan uang, aku sering menjadi obyek penderita.  Terkadang   gurauan mereka sudah  diluar batas.  Akan tetapi ajaran leluhurku mewasiatkan  agar tetap  diam. Tenang dan tidak boleh membalas ejekan mereka. Bahkan sebaliknya,harus   dibalas dengan senyum.

Satu satunya teman yang tidak pernah mengejekku adalah Sri. Kami teman sekampus tetapi beda jurusan. Aku jurusan Teknik Geologi, sementara ia Teknik Informatika. Perbedaan mazhab ini disatukan oleh kesukaan yang sama, yaitu membaca. Walau tanpa  kacamata, aku tahu bahwa ia seorang kutu buku. Perpustakaan adalah tempat dimana kami  sering bertemu, berbagi ilmu dan berbagi informasi.

Karena  sama sama rakus membaca, keheningan perpustakaan menjadi  habitat yang tepat. Tutur katanya yang   lembut  memudahkan orang lain  untuk  mendengar. Tata bahasanya  terstruktur dan kaya diksi.  Sedikit ucapannya namun  sarat makna.

Karena sering ketemu, banyak hal yang bisa  aku perhatikan. Ia lakukan segalanya dengan  detil, sehingga  disimpulkan bahwa ia seorang  melankolis sempurna. Sering kudapati  kawan kawannya minta pertolongan, tetapi tak sekalipun aku melihatnya menolak.  Raut mukanya selalu penuh senyum, mimik marah  tak pernah hinggap diwajahnya barang sdetikpun.  

Cara bertindak dan bertingkah, menggambarkan bahwa  ia seorang dari golongan  priyayi.  Status kaum ningrat jawa layak disandang.  Yang membedakannya adalah cara berpakaian,  ia lebih mirip dengan santri  dibandingkan anak orang gedongan.  

Baju berwarna biru dongker dengan tutul putih, berlengan panjang. Bawahan sepanjang  mata kaki berwarna biru  polos. Kakinya selalu dibalut kaos kaki warna putih. Saat  kerudung panjang sebahu warna putih   berkelebat karena hembusan  angin, membuat mataku tak kuasa untuk  berkedip memandangnya.

Lambaian dan aroma kerudung putih itu  seoalah berkata, “maaf, hanya suamiku kelak yang boleh memandangi tubuhku. Sementara kamu, cukuplah pakaianku ini saja, itupun harus  dari kejauhan.”

Walau sering bertemu, namun kami  jarang bertegur sapa. Hanya sesekali, itupun jika dianggap penting untuk dibicarakan. Ia pendiam, tak banyak mengumbar kata kata.  Terkadang aku bicara sendiri, didalam hati, “Sri itu kalau sudah duduk membaca, tidak lebih dari sebuah arca candi borobudur.”

Suatu saat kami duduk   bersebelahan. Dipisahkan oleh lorong antar meja kursi tak lebih dari satu meter lebarnya. Perlahan aku lemparkan pertanyaan menggoda, “eh…. Sri, kamu jadi orang kok pendiam banget sih ?”

Ia menoleh, pandangan matanya tajam kearahku, seolah merobek dadaku dan menusuk nusuk jantungku. Tak lama, hanya sesaat. Wajahnya kembali dibenamkan pada sebuah  buku yang dipegang. Kemudian samar sama terdengar suara, “dimana banyak kata kata disitu banyak dusta”.

Itulah saat yang akan kuingat selamanya.  Untuk pertama kalinya aku menggoda, dan untuk terakhir kalinya pula aku berani melakukannya. Tak kan pernah kuulangi. Kata kata yang dipilih dan ekspresinya seolah barrier yang membentengi  dari hantaman godaan  yang  mendekat.    

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cinta and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to Dimana Banyak Kata Kata, Disitu Ada Dusta

  1. keheningan yg membawa kita kepada kedalaman..

  2. danirachmat says:

    Bener juga ya Mas. Di mana banyak kata di situ banyak dusta.

  3. nyonyasepatu says:

    Di medan perpus tuh sepiii bgt mas

  4. dyazafryan says:

    talk less do more..😀

  5. Iqbal says:

    pokoknya jangan ada dusta diantara kata-kata ya mas. kalo sedikit berkata tapi penuh kedustaan ya sama aja. hehe

  6. utie89 says:

    Tertohok aku om.

    Pertama, karena kata-kata Sri (aku kan kalau ngomong suka susah berhenti:mrgreen: )
    Kedua, karena izzah Sri. Pendiriannya begitu teguh. Saluutt..

    Pengeen kayak gituu..

  7. ryan says:

    jangan ada dusta di antara kita dong mas.🙂
    kita terbiasa untuk berkata-kata, tapi tak memahami kata-kata itu sendiri

  8. Dailynomous says:

    perpustakaan memang salah satu syurga dunia….. dan membaca dalam diam, akan mendapatkan yang tersirat, kata-kata dalam ucapan adalah zahir kebanyakan, dan itulah kamuflase.

    Kesemsem cerita ini….

  9. mamayara says:

    Wahhh.. berarti semua harus terpendam dong, mas 🙂

  10. Ilham says:

    kebetulan bu Sri juga nama agama saya waktu SMP mas. dan dia juga pernah bilang, “Banyak bicara banyak salah. Banyak salah banyak dosa.”🙂

  11. Kena skak mat, pak. Tapi ilmu🙂

  12. tinsyam says:

    kisah nyata? akhirnya sri jadi istri? *eh?

    daku suka ke perpus, dan ga gitu perhatiin orangorang, wong fokus cari dan baca buku.. ini kog bisa lihat sri ya.. janganjangan ke perpusnya emang mau ketemu sri deh.. *nuduh.. :p

  13. genthuk says:

    tuh kan??! sudah tak kira beneran tiba’e cuma piksi-piksian

  14. Dyah Sujiati says:

    “ia seorang melankolis sempurna”
    sepertinya saya tahu siapa diaa, ahahaay
    selamat ya Pak…😀
    #upz, anarkis amat ya sy ini:mrgreen:

  15. katacamar says:

    melu seneng…. mas lambang, thuk gathuk….🙂
    #ganyambungdisambung-sambungke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s