“minazh zhulumaati ilannuur” Adalah Inspirasi Kartini

Suatu hari Kartini berkunjung ke rumah pamannya. Kebetulan  sedang diadakan pengajian rutin dengan mengundang  ustadz  bernama Kyai Soleh Darat dari  Samaranj.  Nama kota  yang asing dan sangat susah dilafalkan orang jawa pada umumnya. Kota ini sekarang dikenal dengan sebutan Semarang.

Kartini lahir dari ayah seorang ningrat, tinggal dibalik tembok tinggi golongan priyayi. Hidup terpisah dari rakyat jelata.  Mungkin  ini  yang menjadikannya tumbuh menjadi   seorang penganut Abangan. Yaitu  golongan masyarakat yang beraga Islam secara tradisional, namun tidak menjalankan syariat agama. Mungkin saat ini lebih  dikenal dengan istilah Islam sekuler.

Saat Kyai membahas makna surat Al Fatihah, ia  tampak  terkesima. Raut mukanya  berbinar,  penuh antusiasme. Dari awal hingga pengajian berakhir, tak beranjak dari tempat duduk. Matanya tak berkedip tertuju pada sang penceramah, konsentrasi tinggi, penuha gairah dan motivasi belajar.

Mungkin saja penjelasan Kyai ini sangat menarik. Atau boleh jadi ilmu agama adalah hal baru baginya. Sesuatu yang selama ini  didengar secara samar, kini dijelaskan dengan mendetail.

Saat  pengajian selesai, Kartini menghampirinya  untuk sekedar bertanya. “Kenapa Kyai tidak menterjemahkan kitab suci ini kedalam bahasa jawa ? Menurut saya, tiada guna membaca sesuatu tanpa diketahui maknanya.”

Mendengar pertanyaan dari umat, kyai tersentak. Pertanyaan yang tak pernah diduga sebelumnya. Tak mungkin pertanyaan polos seperti itu  keluar dari para santri atau golongan ulama.

Ia terdiam, seolah memikirkan sesuatu yang maha berat. Dari dalam hati kecilnya kebanggaan menyeruak. Sesuatu yang luar biasa terjadi saat ini. Seorang gadis dari golongan bangsawan jawa   tertarik mendalami makna yang terkandung dalam  kitab suci.

Setelah beberapa saat merenung, ia menerangkan bahwa menterjemahkan Al Qur’an  sangat  beresiko. Baik pada  kehidupan pribadi maupun masa depan pondok pesantren yang dibina. “Pemerintah Hindia Belanda bisa dengan mudah memenjarakan seseorang, hanya karena  menterjemahkan kitab itu,” katanya.

Pertanyaan tak terduga itu selalu mengiang di telinganya. Bahkan saat tidurpun, kerap kali menjadi bunganya. Pertanyaan itu tanpa sangaja masuk ke alam bawah sadar. Tak bisa dilupakan.

Hari berganti hari, minggu dan bulan.   Akhirnya  Kyai  memiliki ide untuk menterjemahkan kitab suci orang Islam tersebut dengan menggunakan  huruf arab gundul, atau sering disebut pagon.  Ia berharap buku  terjemahannya itu bisa mengelabuhi pemerintah kolonial.

Sebuah  buku tafsir Al Qur’an akhirnya mampu diselesaiakn Kyai Soleh Darat. Diberi judul Faid Ar Rahman. Literatur ini menjadi  buku tafsir pertama di bekas Hindi Belanda  yang menggunakan bahasa jawa beraksara arab.

Saat  Kyai diundang hajatan pernikahan antara RA. Kartini dengan Bupati Rembang, RM. Joyodiningrat. Buku Faid Ar Rahman adalah kado teristimewa buat kedua mempelai.

“Selama ini surat Al Fatihah gelap artinya bagi saya. Saya tidak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ini, dia menjadi terang benderang sampai kepada makna tersiratnya. Sebab, Romo Kyai telah menerangkan dalam bahasa jawa yang saya pahami.” Ucap kartini dengan bangga.

***

Sejak saat itu, Kartini mulai banyak berinteraksi dengan Al Qur’an. Berkali kali ia membaca untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Salah satu yang menjadi  favorit untuk dibaca adalah surat Al Baqoroh ayat 257.

“minazh zhulumaati ilannuur”

“Allah pelindung orang orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)……. (Al Baqoroh  : 257)”

***

Kumpulan surat surat Kartini oleh  Abendanon dibukukan pada tahun 1911.  Berbahasa Belanda, “Door Duisternis Tot Licht”, secara harfiah bermakna “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Apakah buku kumpulan surat surat kartini ada hubungannya dengan petikan ayat dalam Al Qur’an  ? Biarlah itu bagian dari misteri sejarah.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to “minazh zhulumaati ilannuur” Adalah Inspirasi Kartini

  1. utie89 says:

    “minazh zhulumaati ilannuur”:mrgreen:

  2. tidak hanya untuk ibu kita kartini ini juga bisa jadi inspirasi buat aq mas hehehe

  3. tinsyam says:

    eh habis gelap terbitlah terang itu terinspirasi albaqarah?
    islami ya raden ajeng kartini kita..

  4. Catatan penting seperti ini yang tersembunyi dari berbagai catatan sejarah nasional.

  5. debapirez says:

    salah satu referensi utk belajar sejarah Kartini🙂

  6. Sepertinya memang sudah menjadi budaya atau tradisi atau rutinitas atau entah apa namanya, dimana setiap tahunnya, sekitar tanggal 21 April selalu banyak tulisan yang mempertanyakan, menolak, atau menggugat hari Kartini. Si A, B, C lebih hebat dari Kartini karena turun di medan perang. Menurut saya, semuanya hebat. Hanya saja saya ingin mengajak untuk memandang Kartini dari sudut pandang yang lain:

    Jika dilihat dari lingkungan sosialnya, Kartini hidup dalam lingkungan feodal Jawa yang melarang pendidikan bagi kaum wanita. Tindakan ayahnya, R.M. Sosroningrat yang memberikan pendidikan padanya hingga menguasai beberapa bahasa bahkan dikecam banyak kalangan pada waktu itu. Namun hal itu sangat berarti, surat-surat Kartini pada teman-teman Belandanya membuktikan bahwa orang-orang Hindia Belanda tidak terbelakang dan berhak untuk mengenyam pendidikan layak sehingga memuluskan berjalannya Politik Etis di Hindia Belanda. Politik Etis adalah sistem yang membuat banyak orang Hindia Belanda seperti Tjipto Mangunkusumo, Agus Salim, Soekarno, Hatta dan lain lain mendapat pendidikan sehingga mewujudkan pergerakan nasional yang membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia. Mungkin Kartini tidak pernah memanggul senjata dalam perjuangannya, namun pemikiran dalam tiap suratnya ternyata lebih dahsyat dari senjata apa pun sehingga bisa membuka gerbang menuju kemerdekaan Indonesia.

    Sudut pandang seperti inilah yang seharusnya dikedepankan… untuk mewujudkan masyarakat yang gemar menulis dan semangat belajar, kritis dan bermanfaat.

    • lambangsarib says:

      Menurut saya semua hebat, kelebihan Kartini adalah karena dia menulis. Sementara yang lain belum.

      Setelah politik etis diterapkan, embrio persatuan dan intelektualitas anak bangsa mulai tumbuh.

      • Betul.
        Bangsa ini masih terjebak pada sesuatu yang bukan esensinya. Silakan lihat ada ribuan tulisan yang bertema “Menggugat Hari Kartini” via searching google, di sini

      • lambangsarib says:

        Memang benar ada pendapat itu, perdebatan yang lama. Menurut saya itu baik, dalam rangka meluruskan sejarah.

        Kalau saya sendiri tidak mampu beropini. Karena kedangkalan ilmu dan referensi. Semoga dengan sama sama menulis, kelak akan terkuak fakta sejarah sebenarnya.

      • Saya juga memahami itu dalam rangka meluruskan fakta sejarah. Ada benarnya juga. Seharusnya saling melengkapi sejarah, bukan beropini seolah-olah apa yg dilakukan Kartini adalah sesuatu yg absurd, sehingga menjelek-jelekkan dan menggugatnya.

      • lambangsarib says:

        Sepakat. Perbedaan sudut pandang pak. Ada yang beranggapan bahwa berjuang adalah dengan heroisme semata. Ada pula yang memandang menulis lebih penting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s