Semuanya Bermuara Pada Konsistensi

Suara adzan lohor belum berkumandang. Langit biru  tanpa gumpalan  awan berarti. Aku berdiri di atas lapangan granit bercat hijau dengan garis putih persegi panjang. Sebuah jaring setinggi lutut orang dewasa membelah lapangan menjadi dua bagian sama besar. Terikat pada tiang besi yang kokoh.

Kursi setinggi orang dewasa  angkuh berdiri ditepi lapangan. Sederet angka dan kanopi warna  biru menghiasi singgasana sang pengadil pertandingan.

Aku  sibuk berlari kekanan,  kekiri, kedepan dan kebelakang mengejar bola kuning. Fokus  memukul balik, dari sudut sempit, mataku mencari ruang kosong.   Jangan sampai nyangkut di net, apalagi keluar dari base line.  Bermacam teknik seperti backhand, forehand, follow thrue, smash dan  spin berkali kali dipekikkan teman teman dari luar arena.  Mereka menyoraki, sesekali bertepuk tangan riuh.

Sementara itu, bayangan tubuhku tak mau sedikitpun beranjak,  tepat berada  dimana kaki berpijak.

Keringat mengucur tiada henti dari setiap lobang pori. Dua gelas air minum seolah tiada berarti. Dehidrasi yang sangat, memaksaku untuk berhenti berlari. Mengalah dalam hitungan. Berjalan tertunduk keluar lapangan.

“Ah payah…, masak lo main kayak gitu. Mana bisa menang ?” Kata Mursidi mengolok olok bercanda.

“Lho kamu  belum tahu ya ?  Federer aja   belum pernah mengalahkanku.”  Jawabku tak mau kalah.

“Hahaha….” Mursidi tertawa lepas. “Lawan gue aja, lo dapat enol. Apalagi musuh juara dunia ?”

“Hahaha…..” Kami terpingkal pingkal bersama.

“Federer itu memiliki bakat alam, susah dikalahkan,” kata Kalangi tiba tiba menyela. “Tanpa bakat alam, tidak mungkin seseorang bisa menduduki puncak prestasi hampir 5 tahun lamanya.”

“Menurut gue bukan begitu !” Jawab Mursidi.  Disekanya keringat di kening, kemudai ia menambahkan, “Federer itu punya keistimewaan di back hand. Tekniknya buah dari kerja keras, nggak ada itu yang namanya bakat alam. Belajar terus menerus untuk sebuah akurasi. Timingnya pas, sehingga arah bola sesuai dengan yang dikehendaki. Itu bukan bakat alam, melainkan latihan.”

Beberapa teman ikut bergabung dan berpendapat. Aku hanya bisa diam mendengarkan  mereka berargumentasi. Semakin lama diskusi itu tidak menarik lagi, karena tidak berdasar fakta dan data. Tak ubahnya sebuah debat kusir.

Dalam keriuhan itu tiba tiba aku teringat pada Munaki. Ia pernah berkata bahwa, “seluruh juara tennis dunia memiliki satu karakter yang sama, yaitu konsistensi.”

***

Sesampai dirumah, aku buka blog pribadiku.  Kutanya diriku sendiri, “apakah aku masih konsisten untuk tetap menulis setiap hari ?”

Menurutku, hanya konsistensi yang mampu mengubah segalanya. Pisau tumpul akan tajam jika  konsisten diasah.  Kebodohan  akan menuai  kejeniusan  jika konsisten belajar. Pedangan keliling akan  bermetamorfosa menjadi sudagar, jika konsisten mengemban amanah dunia perdagangan.

Harus diakui  bahwa aku tidak mampu  menulis dengan baik dan benar. Untuk merubahnya, dibutuhkan  konsistensi  menulis setiap hari. Hingga suatu saat, dimana masa yang dijanjikan itu tiba.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in inspirasi, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

19 Responses to Semuanya Bermuara Pada Konsistensi

  1. aku juga nih, susah konsisten

  2. nyonyasepatu says:

    Hehe susah ya mas nulis tiap hari. Lah sibuk ini itu lupa deh nulis

  3. Siip, sepakat. Practice makes perfect

  4. bundamuna says:

    Komitmen dan konsisten.. sama beratnya! hehe..
    Aku lbh suka bewr alias blog walking drpd posting🙂

  5. ryan says:

    asik. dah mulai konsisten setiap hari lagi ya mas?

  6. Wong Cilik says:

    memang untuk sukses (dalam hal apapun) perlu yg namanya konsistensi ya pk …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s