Wasiat Pada Diri Sendiri

Sobat blogger,

Pernahkah diantara kita membuat  wasiat tertulis  buat diri sendiri ? Sebagi  sebuah renungan  tentang apa yang telah dikerjakan dan  yang  dicitakan.  Salah satu tokoh  yang melakukannya  adalah KH. Ahmad Dahlan. Tokoh pendidikan, tokoh pergerakan, dan tentu seorang pahlawan nasional.

Wahai Dahlan.

Sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati.

Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat. tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya.

Wahai Dahlan.

Coba engkau bayangkan seolah olah engkau berada seorang diri bersama Allah. Sedang engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga dan neraka.

Dan dari sekian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya.

(Pesan dalam bahasa Arab, diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

***

Beberapa puluh tahun yang lalu. Sewaktu masih duduk di semester pertama sebuah universitas swasta tak ternama.  Terangkai  sebaris kata kata sarat makna. Paling tidak buat diriku sendiri, bukan kamu, dia, apalagi  mereka.

Foto diri berukuran 4 X 6, diperbesaran hingga beberapakali  lipat.   Tidak berbingkai, hanya tertempel pada tripleks  setebal 3 mm. Tanpa kaca  layaknya sebuah pigura, melainkan hanya terlapis selembar plastik bekas   alakadarnya. Sangat sederhana.

Dengan spidol hitam, aku bubuhkan tanda tangan tepat di pojok kanan bawah. Tertulis  sangat jelas  tanggal miladiyah  dan  sebuah wasiat untuk diri sendiri.

Lambang,
Tuhan menciptakan sesuata di dunia ini dengan  sebuah proses.
Proses itu sepenuhnya milikmu.
The Present is the Key to the Future.

Kalimat terakhir adalah saduran dari ucapan seorang   Skotlandia bernama James Hutton. Geolog ini terkenal dengan teori dasarnya, “the present is the key to the past, apa yang terjadi pada hari ini pun terjadi pada masa lampau”.

Yang kumaksud dengan “the present is the key to the future” adalah,  hari ini merupakan kunci masa depan.  Saat dinyalakan sebatang lilin dalam kegelapan, berharap esok  ada sinar menerangi.  Jika sekarang  bersusah payah dalam kesulitan, semoga kelak  ada kemudahan bersamanya.

Mungkin saja untaian kata  saduran diatas  salah. Kalau toh memang keliru, dengan segala kerendahan hati aku mohon maaf.  Mengakui  sebuah kesalahan bukanlah sebuah aib, melainkan prinsip hidup.

Setelah berpuluh tahun masa itu berlalu. Foto dan wasiat  itu masih ada ditempat terhormat.  Sebagai kenangan seorang  anak manusia, dalam perjuangan  mendapatkan cita dan cinta.

Aku yakin istriku beberapa kali membaca tulisan itu.  Walau tak pernah terucap, sorot matanya tak kan mungkin mampu berbohong.  Kuharap, kelak anakku pun tak bosan membacanya.  Foto dan wasiat itu akan menjadi   pintu masuk  lorong waktu,  bagi  mereka untuk lebih   mengenal leluhurnya.

Semoga…

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Wasiat Pada Diri Sendiri

  1. pokoknya slalu kagum deh sama tulisan2 mas lambang ini …..

    wasiat apa yg yg mau aku tulis heheheh

  2. kalau begitu marilah kita mulai membuat wasiat untuk diri kita sendiri seperti yang dilakukan kyai Dahlan

  3. tinsyam says:

    the present’s key is the future..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s