Suara Tangisan Bayi Di Sepertiga Malam Terakhir

Suara itu terdengar sangat jelas. Bukan mimpi.  Bukan pula suara yang berasal dari televisi, radio ataupun  handphone.  Nyata. Seperti suara tangis bayi yang  menghiba dan  meronta. Membangunkanku dari tidur panjang  di sepertiga malam terakhir. Membuyarkan seluruh mimpi.

“Apakah itu suara  tangis anakku ?”

Dalam kesadaran belum sempurna,  aku tengok ranjang. Mata mereka masih tertutup rapat. Tubuh mereka nyaris tak bergerak,   hembusan nafas dan dengkuran lirih menghiasi keheningan malam.  Anak manis  itu    terlelap dipelukan  ibunya.  Menyatu, tak mau dipisahkan walau hanya dalam mimpi.

“Syukurlah, bukan suara tangis  anakku. Lalu,  yang barusan terdengar itu suara tangisan  anak siapa ?” Tanyaku dalam hati.

Anganku terbang, menerawang, mengingat ingat kejadian dua malam yang  lalu.

***

“Ada apa Min ?” Tanyaku

“Ada orang membuang bayi pak ?!”

“Apa… !?” Aku tak percaya atas ucapan Jamino.

“Iya pak, anaknya sekarang berada di rumah pak RT.”

Aku perhatikan orang kampung  mulai berdatangan dari empat penjuru mata angin. Bergerombol memadati halaman rumah Pak RT. Petugas hansip dari kelurahan tampak hadir dan  sibuk mengatur kerumunan. Seorang aparat kepolisian dari  Polsek Tebet terlihat mondar mandir, entah apa yang dikerjakan.

“Kenapa ada orang tega membuang darah dagingnya sendiri ya Min ?” Kataku lirih.

“Paling orok itu punya salah satu kawan mereka pak.” Jawab Jamino. Tangannya mengepal, ibu jarinya menunjuk suatu lokasi. Dibawah pohon besar itu memang tempat mangkal gelandangan untuk tidur dan beristirahat.  Disekitar Setasiun Manggarai.

“Jangan seenaknya menuduh Min !”

“Kejadian seperti ini sudah sering dan berulang ulang, pak.”

“Apapun alasannya, orang tuanya tetap bersalah.  Anak kan tidak minta untuk dilahirkan ? Anak itu suci, tidak berdosa.   Anak memiliki hak untuk  hidup. Membuang anak itu melanggar HAM. Dilarang agama, hukumnya dosa.” Kataku berceramah.

“Ya…, begitulah pak disini.”

“Maksudmu apa ?” Tanyaku.

“Di setasiun manggarai banyak anak jalanan dan gembel. Ketika masih berwujud  orok, orang tuanya masih mau merawat. Karena mampu menumbuhkan perasaan iba saat  diajak mengemis. Namun, saat ia tumbuh dan besar, anak itu akan dibuang.  Ia hanya  dianggap beban hidup. Kalaupun  diajak meminta minta, tidak ada lagi orang yang tersentuh perasaannya.”

“Membuangnya …… ?”

“Iya pak, membuang anak mereka  dengan cara  menaikkannya  ke  salah satu rangkaian gerbong. Begitu kereta api berjalan, ibunya langsung loncat dari kereta, meninggalkannya. Maka, tinggallah anak itu hidup seorang diri, sebatang kara, tak tahu mau kemana.”

“Miris ya Min ? Lalu apa hubungannya dengan membuang orok ?” Tanyaku tidak faham.

“Anak yang dibuang itu akan menjadi  gembel baru. Lalu, mereka akan bertemu dengan kawan  seusia senasib. Hidup bersama dua puluh empat jam. Mencari makan bersama, dengan cara mengemis.  Bermain  dan tidur pun bersama.”

“Lalu ?”

“Tidak ada yang mendidik, mengarahkan atau melarang. Mereka hidup merdeka, tanpa hukum dan aturan. Mereka memiliki hukum sendiri.”

Jamin tampak melirikku. Mungkin ia tahu kalau sedang penasaran.

“Anak lelaki dan perempuan bergaul sebebas bebasnya.  Mereka tumbuh dewasa lebih cepat. Oleh sebab itu, sering dijumpai  mereka  hamil  di usia  sangat dini. Karena  jiwa mereka masih anak anak dan  belum siap memikul beban tanggungjawab,  membuang bayi adalah sebuah kelaziman.”

“oh…. Gitu ya Min ?

Aku mengangguk dan menggaruk garuk kepala, padahal tiada  satupun kutu yang bersarang di rambut. Sebuah refleks tangan yang entah digerakkan oleh saraf motorik mana.

Orang semakin menyemut dimuka rumah pak RT.   Aku membuka  smartphone yang ada di saku.  Ternyata masyarakat twitterland  dan  facebooker sudah bereaksi.  Berita ini sudah tersebar, seolah beradu cepat untuk  memberitakan.

***

“Ya Allah, semoga kejadian dua malam yang lalu tak berulang lagi.” Pintaku dalam hati.

Aku bangkit dari ranjang.  Perlahan…, untuk menghindari suara berisik, yang mungkin saja  merusak mimpi kedua bidadari. Berjalan berjinjit dengan ujung jari, menuju pintu. Membukanya dengan  menahan nafas  agar tak  berdenyit.

Mendekati pintu utama  jantungku berdegup kencang. Keringat dingin satu persatu menetes. Keheningan malam membuat laju  aliran darah terdengar nyaring. Mendesir, bagai ular sanca di semak belukar.

Saat sampai tepat di depan pintu utama, aku pegang handle berwarna keemasan.  Suara itu tiba tiba tak terdengar lagi. Hatiku semakin berkecamuk. Tangan kananku bergetar. Seolah handle itu sangat berat.

Pintu  kubuka  lebar, sejenak keduanya  memandangku. Matanya tak  berkedip, beradu pandang, berlomba adu kuat menahan kelopak. Dalam hitungan detik,  meninggalkanku. Berlari  secepat kilat, sekuat tenaga menghilang dalam kegelapan malam. Meninggalkanku mematung seorang diri.

Ada kardus bekas minuman air kemasan disamping pintu. Saat kutengok, ternyata isinya hanya sampah kering. Tidak ada bayi !

Hati dan perasaanku lega. Seolah melepaskan seluruh energi yang tersimpan lama.  Malam kembali sunyi, tenang dan damai.

“Ah…, ternyata itu tadi hanya suara kucing kawin.”

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Suara Tangisan Bayi Di Sepertiga Malam Terakhir

  1. capung2 says:

    fenomena yg seringkali terjadi dikala kemiskinan dan tipisnya keimanan menyeruak dlm sendi2 masy kls bwh…

    Pada tanggal 11/04/13, Lambangsarib’s Blog

  2. danirachmat says:

    Sedih tapi jadi lingkarans etan yang tak terputus ya Mas. Peran kita sbenarnya ya buat bantu mereka..

  3. utie89 says:

    uapiik!!!

  4. ryan says:

    ngakak pas akhirnya.😀

  5. genthuk says:

    lagi-lagi, Tak kiro…..

  6. Denny Leo says:

    Ternyata oh ternyata …..😀

  7. tinsyam says:

    ya begitulah, mereka ada buat kita berkaca.. ada hidup seperti itu..

  8. kucing kawinn hihihihi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s