Ini Budaya Kami

Malam minggu. Salah satu toko buku terbesar di jalan Matraman Raya  penuh sesak.  Orang menyemut memburu bacaan bermutu. Antrian mengular menunggu giliran bertransaksi di kasir. Lebih ramai dibandingkan  sebuah mall di kawasan pasar senin.

Maklum saja, ini adalah hari pertama pesta discount untuk bermacam bacaan  keluaran penerbit ternama. Bahkan, hujan dan dinginnya malam  tak menyurutkan niat pengunjung  berbelanja.

“Ini pak, Kiky mau beli ini….”  Jari telunjuknya tertuju pada sebuah buku bergambar mickey mouse. Aku ambil dan  dan memasukkan kedalam  tas plastik yang sudah dipersiapkan sebelumnya.

Kami pun melanjutkan langkah, berkelok, meliuk, menghindari orang orang berdiri tak beraturan. Mereka mematung, menunduk,  bergerombol mengelilingi rak buku yang menggunung tak beraturan. Tangan kami  tetap bergandengan, malah semakin erat.  Tak ingin kulepaskan gandengan tangan mungil ini, barang sedetikpun.

Beberapa buku telah kami pilih. Selain buku bergambar tikus miki, ada beberapa yang lain. Puzzle timmy kesukaan anakku tak ketinggalan. Begitu pula  novel “GIRI – Raja dan Sunan Besar yang Terlupakan” dan “Sang Pencerah”.

Kami pun masuk dalam deretan antrian yang panjang. Kali ini kami tidak lagi bergandengan tangan. Anakku nangkring duduk diatas pundakku.

“Nduk, bapak bahagia sekaligus bangga bisa selalu menggendongmu.” Gumamku dalam hati.

****===****

Sesampai dirumah, istriku sudah menyiapkan segelas teh poci hangat kesukaan kami berdua. Ditambah dengan pandangan  cinta dan senyuman, teh ini seolah bagai mesin  waktu yang membawa imajinasi kami ke surga.

“Nduk, ayo ikut ke ruang kerja bapak. Tolong bawa buku yang kita beli tadi”.

Kiky diam tak mengucap sepatah katapun. Ia turun dari kursinya, dan berjalan membuntutiku.  Dari sudut pandang mata sempit, aku melihat  tangan kanannya menyeret sebuah tas plastik warna putih bertuliskan Gramedia.

“Nah, duduk sini dulu ya  nduk.” Kataku.

sunan giriTak lebih dari dua menit, kami berdua telah duduk bersebelahan di kursi kecil khas anak TK. Aku buka bungkus plastik buku yang tadi dibeli.  Kotak stempel tinta merek Artline pun sudah terbuka.

Kami pun melakukan ritual budaya baru.  Membubuhkan tanda tangan  di halaman depan, mencantumkan  tanggal dibeli serta  menempelkan label harga. Cap jempolku dan cap lima jari anakku terekam pula disitu.

Sebuah warisan,  buat  kelak jika saling merindu.

— @lambangsarib —

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Ini Budaya Kami

  1. chris13jkt says:

    Ide bagus tuh, Mas

  2. metamocca says:

    boleh ditiru ni, Om. nanti semakin waktu berjalan, selembar halaman gak cukup lagi memuat kelima jari Kiki.😀

  3. capung2 says:

    kebiasaan yg patut dicontoh… goresan yg kelak akan dikenang pstinya..

    Pada tanggal 09/04/13, Lambangsarib’s Blog

  4. nyonyasepatu says:

    Cap jempolnya itu ide keren mas, biasanya aku cuman nempelin label harga n tgl doang

  5. lieshadie says:

    budaya tanda tangan dan cap tangan..seperti budayaku Pak Lambang ..bahkan di tabloid juga begitu..awalnya sih iseng aja…hehe

  6. ryan says:

    Giri ini tentang apa mas?
    Kiky sejak kecil dah suka baca ya.

  7. Larasati says:

    Kami pun melakukan ritual budaya baru. Membubuhkan tanda tangan di halaman depan, mencantumkan tanggal dibeli serta menempelkan label harga…..untuk ini larass juga melakukan hal sama bedanya hanya tgl pembelian, nama kota dimana aku beli, tanda tangan dan juga pasti ada selipan sebait puisi hehehehehe

    • lambangsarib says:

      Kereeen, berarti budayahku dah ketinggalan jaman yah ? Hehehe

      • Larasati says:

        dari dulu selalu begitu, selalu meninggalkan jejak dimanapun dan apapun medannya termasuk bangku sekolah hehehehe eh jadi inget dulu jaman sekolah juga selalu buku tulisnya pasti ada catatan sebait puisi ampe pernah dipanggil ke BP gara2 buku tugasnya penuh puisi hahahaha lucu kalau ingat itu, bener2 gak sadar😀

      • lambangsarib says:

        Umumnya blogger biasa menulis semenjak sekolah, Saya ketuaan yah…. ?

        Hahaha…

  8. Ilham says:

    aha manis banget mas. moga kebiasaan ini diteruskan sampe kiky besar nanti.

  9. utie89 says:

    weh, sama kita om.
    Aku juga terbiasa begitu.
    Tanda tangan di pojok kanan bawah halaman pertama,
    Tanggal pembelian di pojok kanan atas halaman pertama,
    Harga beli di pojok kiri atas halaman terakhir.:mrgreen:

    tapi kadang2 suka kelewatan trus lupa dech tanggal and harganya. -_-

  10. danirachmat says:

    mengharukan kalau suatu saat bukunya dibaca lagi mas.

  11. budaya yg akan selalu terkenang 🙂

  12. chiil says:

    hah keren banget pak, idenya.. saya kok ga kepikiran ya bikin ginian? contek idenya ah:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s