HAMKA, Karyamu Abadi Di Relung Hati Anak Negeri

Haji Abdul Malik Karim Amarullah  lebih dikenal dengan sebutan HAMKA. Seorang ulama, penulis, dan novelis besar  kelahiran Maninjau Sumatera Barat.

Majalah Panji Masyarakat adalah bukti kepiawaiannya sebagai seorang editor. Dibawah Lindungan Ka’bah menjadi  landmarknya sebagai novelis.  Ilmu, ketokohan dan derajat keulama’annya  bisa dibaca dari karya besar  Tafsir Al Azhar.

24 Juli 1981, hujan air mata tumpah  dari seluruh pelosok negeri. Seorang pujangga dan bapak bangsa   pergi untuk selamanya. Meninggalkan  79 karya emas berupa goresan pena, untuk menemui sang pencipta.

Kemarin,  aku  membaca  novel fiksi  itu. Berwarna biru dongker, bergambar pusat kiblat orang Islam.  Jutaan  orang  menyemut  sedang thowaf, bagai tata surya yang tiada henti mengelilingi matahari.

Buku yang sangat tipis, tak lebih dari 72  halaman.  Karya itu paling tidak sudah 32 kali naik cetak pada penerbit bulan bintang. Entah sudah berapa juta orang membaca dan terinspirasi.

Buku dengan setting tahun 1927’an, saat berbondong bondong jama’ah haji dari negeri ini mencukupkan kewajiban. Bahkan dua orang tokoh nasional, H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansyur pun turut serta.

Menceritakan roman percintaan antara Hamid dan Zainab.  Kisah asmara  dua anak manusia yang berbeda kasta. Kasih sayang mereka tiada bertepi, melewati batas geografis, ruang dan waktu.

Tuhan menciptakan cinta sebagai sesuatu yang sederhana.  Sesuatu yang sakral dan penuh makna. Sekat budaya  yang diciptakan manusia, menjadikannya sangat  rumit. Bahkan terlalu rumit untuk dituangkan dalam coretan pena.

Saat membaca novel ini, air mataku satu persatu menetes. Bagai seorang cengeng kehilangan pegangan.  Aku tertunduk, seolah  HAMKA hidup dan duduk tepat didepanku. Membacakan  romantisme kehidupan. Memberikan wejangan dalam dimensi lain, yang  tiada ternilai.

Aku dan HAMKA.  Jarak, ruang dan waktu teramat jauh memisahkan. Kini, sekat itu runtuh sudah. Berkat coretan penanya. Berkat sebuah buku, aku bisa berjumpa dan berkawan dengan pikirannya.

“Buya….. Ucapan terimakasih rasanya tidaklah cukup.  Sungguh, karyamu abadi di relung hati anak negeri.”

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to HAMKA, Karyamu Abadi Di Relung Hati Anak Negeri

  1. mamayara says:

    kirim al fatihah…
    Sama mas… aku pengagum berat HAMKA… karya beliau.. kepribadian beliau…

  2. Reviewnya keren pak. Bukunya Hamka yang pernah kebaca judulnya “Tenggelamnya Kapal Van derwich”

  3. danirachmat says:

    Baru pernah baca yang tenggelamnya Kapal Van Derwich sama kayak Mba Ika Mas. Jadi pengen baca juga

  4. ogieurvil says:

    Air mata saya juga ngalir deras mas waktu dulu baca novel itu… huhu… Saya pun penggemar berat Hamka.. Waktu kuliah dulu baca yang “Falsafah Hidup”… dan buku yang ini buat saya pribadi sangat berjasa mengubah cara pandang saya terhadap cara2 hidup di dunia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s