Ngadimin Naik Gaji

Pagi penuh semangat.  Meskipun jam masuk kantor masih 60 menit kedepan,  banyak karyawan sudah datang.    Lebih awal dari biasanya.  Keceriaan terukir jelas diwajah mereka.  Di ruang packing, Ujang sudah bermandi keringat  menyelesaikan tugasnya.  Ndaru, sopir paling senior sedang  mencuci mobil, diiringi   alunan musik dangdut membahana.  Suara keluar dari HP yang terhubung pada speaker  truk,  memberi aura keceriaan.

Tanggal muda selalu disambut dengan suka cita.  Memberikan nuansa berbeda, di akhir bulan ini.  Terlebih lagi  ada kenaikan gaji pokok dan tunjangan. Semua menunggu dan berharap dengan segudang asa.

“Ngadimin, Kamu diminta datang ke ruang bapak.”  Seseorang  dari ujung telepon meminta.

Ngadimin mendatangi ruangan Pak Harto.   Setelah mengetok pintu,  dipersilahkannya  masuk.    Mejanya bersih kalis dari debu. Kertas kertas dan buku tertata rapi di ujung meja.  Laptop di ujung kanan mejanya  terbuka.  Ngadimin duduk berhadap hadapan dengan seorang  perfeksionis  sempurna.   Tak ada orang lain diruang itu.

“Ngadimin,  terus terang saya harus meminta maaf padamu.  Karena telah memandang remeh kemampuanmu menjual. “ Kata Pak Harto membuka pembicaraan.

“Eh… iya pak, tidak mengapa.”  Ngajiyo menjawab dengan tersenyum.

Kebahagiaannya memuncak,  memenuhi setiap rongga dan relung hati. Terpancar dalam setiap guratan wajah, tak kuasa untuk disembunyikan.  Seseorang yang  suka mencela itu memberikan pujian. Pengkritik setajam sayatan silet itu memberikan apresiasi.

“Ini Hp saya, silahkan kamu pakai.” Pak Harto mengeluarkan telepon seluler berukuran sangat tipis. Selebar setengah lebar saku atas baju. Berwarna hitam.  Di pojok kanan atas HP sesekali berkelip warna merah. Memancarkan cahaya sinar pengharapan. Ditaruhnya benda itu  tepat di depan Ngadimin.

Belum sempat Ngadimin menjawab,  ia lanjutkan  kata katanya, “Besok sepeda motormu ganti dengan mobil kantor”.

Ngadimin ingin  mengucap  terimakasih, sekaligus menjelaskan bahwa ia belum mampu  nyetir mobil. Pulsa telepon mobile pun terlalu mahal  untuk  kantongnya.

Sepertinya mulut Ngadimin terlalu berat untuk digerakkan.  Jangankan merangkai kata, mengucap sebuah pun tak mampu. Dia  bengong. Dilema !  Antara senang  menerima barang mewah dan kegalauan karena belum pernah memilikinya.

“Kamu tidak perlu memikirkan bagaimana membeli bensin, semua di bebankan kantor. Jika belum mahir  nyetir, biar nanti dibelajari sama si  Joko. Mengenai pulsa HP, silahkan diskusikan dengan Pak Markus, HRD kita.” Kata pak Harto menjelaskan.

Tubuh terasa terpatri,  terikat erat di kursi. Kaki  seolah  tertancap  ke lantai, layaknya paku bumi.  Mulut  masih terkunci rapat. Satu satunya hal  yang mampu dilakukan Ngadimin  hanyalah diam.

“Kamu saya anggap sudah lulus menjadi salesman.  Informasi dari Hariman Siregar  kamu mau belajar banyak tentang dunia marketing.  Kata beberapa orang  kurir, kamu mampu mengorganisir mereka untuk dengan senang hati membantumu.  Pak  Markus bilang bahwa  hampir  dua tahun ini kamu baru sekali terlambat masuk kerja dan dua kali pulang lebih awal.” Kata Pak Harto dengan intonasi sangat jelas.

“Meski  targetmu belum tercapai, akan tetapi  trenmu meningkat tajam dan sangat cepat. Saya sebagai pimpinan di perusahaan ini merasa wajib memberikan apresiasi.  Fasilitas mobil dan HP layak kamu dapatkan,  disamping kenaikan gaji dan tunjangan. Sekali lagi, saya mengucapkan selamat dan terimakasih sudah ikut membesarkan perusahaan ini.”

Selesai berbicara, Pak Harto berdiri dari kursinya dan menyerahkan kontak mobil.  Tersenyum dan mengaja Ngadimin  bersalaman.  Begitu hangat dan erat.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Ngadimin Naik Gaji

  1. chris13jkt says:

    Kebayang gimana kagetnya Ngadimin . . .

  2. danirachmat says:

    Pak Harto bos yang bijaksana sekali. Meskipun terlihat belum memenuhi target tapi bisa menilai potensi yang ada.

  3. Pasti Ngadimin bahagia sekali. Seadainya banyak bos seperti bosnya Ngadimin, para karyawan akan lebih bekerja keras karena merasa dihargai😉

  4. nyonyasepatu says:

    Ohhhhh hebat ceritanya mas

  5. nengwie says:

    Pak Harto yang mana nih? hehehe….
    Pemimpin memang harus pandai menilai potensi yg ada di anak buahnya ya…buka mata buka telinga..eehh kesannya tepo😀

  6. duh enak ya pnya bos kya pa harto yuaaaa !!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s