Pandangan Mata Mampu Melunturkan Kegugupan

“Kamu, anak baru. Tolong maju kedepan. Perkenalkan dirimu, lalu paparkan  hal apa saja yang  akan kamu lakukan minggu ini”, kata Mas Hari.

Aku berdiri dan  maju kedepan dengan  jantung berdegup kencang. Keringat dingin mulai bercucuran. Ruangan ber AC ini membuatku  kegerahan. Mungkin ini yang dimaksud dengan demam panggung. Untuk pertama kali dalam hidup aku harus memaparkan visi dan misi hidupku ditinjau dari sisi salesman.

“Ehm…. E…., nnamaku Ngajiyo…. E…, aku…”.

“Stop ! Kenapa kamu gugup ? Mana mungkin kamu bisa jadi salesman ? Bicara saja tidak becus.”. Kata Mas Hari memotong.

Sorot matanya tajam menghunjam, seolah langsung menusuk nusuk ulu hati. Aku semakin gugup. Beberapa kawan salesman lain  tersenyum mengejek.

“Aku harus bisa. Aku pasti bisa.  Aku tak boleh menyerah. Mereka semua bukan siapa siapa,  hanya rekan kerja, tak lebih dari itu.  Boss pun tak tampak diruangan ini. Santai saja lah….”. Kataku dalam hati, memotivasi.

Aku ambil nafas panjang dan menghembuskannya  secara perlahan. Mengulanginya hingga tiga kali. Degup jantung berangsur  normal dan terkontrol. Cucuran keringat terhenti bagai mata air di musim kemarau. Kegugupanku menghilang dengan sendirinya.

Mata teman teman semua tertuju padaku. Mereka mengamati setiap gerak gerikku. Mata mereka setajam pandangan mata  elang yang hendak menangkap seekor ular.

“Aku harus tatap mata mereka satu persatu.  Inilah pertarungan pertama. Aku tidak boleh kalah.”. Batinku bicara.

Mata Burhan aku tatap tajam,  beradu. Menatapnya terus dan terus.  Kuniatkan untuk tidak memberi kesempatan mata untuk  berkedip. Aku paksakan untuk tidak memalingkan wajah dan pandangan. Setelah beberapa detik, akhirnya Burhan pun tertunduk.

“Yes…! I Can !” Teriakku dalam hati.

Burhan sebagai salesman paling senior pnadangan matanya mampu aku tundukkan. Artinya, semua sekarang dibawah kontrolku. Aku harus segera memperkenalkan diri dan tetap menundukkan satu persatu.

“Hei…. Ngajiyo !? Kenapa malah bengong ? Ayo, kenalkan dirimu dan apa visimu menjadi seorang salesman ?” Teriak Mas Hari.

“Eh…. Iya  Mas Hari maaf, aku gugup dan tidak percaya diri.” Kataku pura pura.

“Ayo berlatihlah untuk bicara. Disinilah tempatnya kamu berlatih. Di depan pelanggan mereka memiliki beribu kata untuk membantaimu !” Kata Mas Hari

“Iya Mas….” Jawabku.

Aku mulai memperkenalkan diri. Kali ini tidak grogi lagi. Semuanya lancar lancar saja, bagai ngomong dengan orang dirumah. Kepercayaan diri sudah pulih. Visi menjadi salesman mampu kupaparkan dengan runut, tanpa halangan. Satu persatu pandangan mata teman teman tunduk. Tak terkecuali Mas Hari, Manajer pemasaran.

“Aku akan menjadi top sales disini !” Kataku setelah memperkenalkan diri.

“Hahaha……” Semua teman teman tertawa.

Ruangan gaduh akibat pernyataan itu. Agus tertawa melengking menunjukkan gigi giginya yang runcing. Tangannya memukul meja, entah apa maksudnya. Suara Mas Hari terdengar paling keras.  Juarsa hanya tersenyum sambil membenarkan posisi kacamatanya. Burhan terbahak untuk beberapa saat.

“Kamu ngimpi apa ?”  Tanya  Mas Hari disela sela tawa yang tersenggal.

“Aku ingin menjadi Top Sales disini mas.” Jawaku.

“Kamu mimpi apa sih ?” Mas Hari Menimpali.

“Iya mas, aku sedang bermimpi. Tapi aku yakin tak lama lagi mimpi itu menjadi kenyataan. Trust me !” Jawabku spontan dengan penuh keyakinan.

“Apa yang akan kamu lakukan ?” Tanya Mas Hari lagi. Saat ini dia menanya  dengan mimik serius. Tangan kirinya tampak membenarkan posisi kaca matanya.

“Belum tahu mas. Tapi aku akan menemukannya minggu ini. Itu sebuah kepastian dan janji. Tiga bulan pertama, jika aku tidak mampu mencapai target, silahkan dipecat.” Tantangku.

“Well…. OK.  Teman teman, kita catat janji Najiyo !  Jika dalam tiga bulan tidak mencapai target, ia minta dipecat ! Kita semua adalah saksi. Tolong dicatat !” Mas Hari mengakhiri pertanyaannya sambil memulai bertepuk tangan. Diikuti oleh semua salesman.

Tepuk tangan meriuhkan suasana ruangan. Semua bertepuk tangan, kecuali Udin. Ekspresinya sedikit  berbeda. Sepertinya ia tidak menyukai mimpi dan janjiku.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cargo, Motivasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Pandangan Mata Mampu Melunturkan Kegugupan

  1. Denny Leo says:

    Pak, saya perlu nasihat dari Bapak, bagaimana kita menghadapi situasi seperti itu? Kita sudah tentukan target dan dituntut untuk mewujudkannya, padahal target itu keluar secara spontan. Jadinya ya gelisah.

    • lambangsarib says:

      Kalau saya dalam membuat target selalu diatas kemampuan hitungan realistis matematis. Kalau toh gagal, kita masih tetap diatas kemampuan kita.

      Misalkan kemampuan kita dalam hitungan matematis mampu menaiki tangga langit hingga ke 3, hendaknya kita targetkan menaiki tangga langit ke 5. Kalaulah gagal, kita masih bertengger di tangga ke 4.

      Ada baiknya target dipikirkan masak masak sebelum terucap. Kalau diatas saya tulis “spontan”, itu semata mata hanya “fiksi”. Kebetulan baru belajar menulis dengan moto “fiksikan duniamu sekarang juga”.

      Maaf, yah,…

  2. ryan says:

    semua dimulai dari mimpi diiringi dengan tekad dan kerja keras serta doa…😀

  3. utie89 says:

    revisi dikit om: semua lancar-lancar saja seperti “bicara” di rumah.
    Dari awal kata-katanya udah baku, jadi ngga enak aja bacanya pas tiba2 ada kata-kata “ngomong”.
    Tapi itu pendapat awamku sih om, hehe..

    Bravo!!! Makin mantaph fiksinya om.😉

    • lambangsarib says:

      betul, terimakasih…

      Waktu menulis sudah kerasa ada yang nggak beres dengan kata “ngomong”. Tapi dilanjutin aja….

      Hehe….. sekali lagi kritiknya luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s