Haruskah Seorang Salesman Berpakaian Bak Kolonial ?

Hari pertama menjadi salesman menjadi pengalaman tak ternilai. Aku harus berpenampilan berbeda. Tidak harus uniform mahal memang, karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian bermerek.

Aku  mesti   berhijrah dari gaya  berpakaian sederhana  ke kebiasaan para  wira niaga. Dari gaya berdandan  rakyat jelata ke gaya  kaum priyayi ningrat dan  kolonial. Budaya yang sangat ditentang leluhurku.  Kini, keadaan memaksaku untuk berperilaku seperti mereka.

Konflik di batinku tak kunjung reda.  Sebuah pilihan yang teramat  sulit.

“Mengikuti aturan  atau tidak usah bekerja di perusahaan ini !”,  kata Pak Markus sangat tegas.  Kata katanya setajam silet. Seberat godam. Sebising desingan peluru. Diucapkannya waktu kucoba bernegosiasi berkenaan denga gaya berpakaian.

Aku dalam kondisi labil. Bagai  perahu  tanpa nahkoda, terombang ambing ombak besar  di tengah samudera. Tak ada tempat bergantung. Tak ada tempat bersandar. Tak ada jangkar untuk bertaut.  Tak ada tempat terbaik untuk berkeluh kesah,  selain kepada orang  terpercaya.

Sri adalah orang yang paling tepat. Ia bagai sebuah baju. Yang melindungi, menghangatkan dan menutup seluruh aib.  Bukan hanya sebagai istri, ia bagai seorang mursyid tempatku  meminta fatwa.

“Untuk sementara waktu,  kenakanlah baju itu mas.  Kelak di kemudian hari,  saat  mas Ngajiyo  sudah menjadi  pemilik perusahaan.  Ubahlah kewajiban yang tidak ada dasar hukumnya itu. Perintahkan anak buah untuk  kembali ke gaya pakaian leluhur kita. Kurang  tepat  meniru dan memaksakan budaya asing di negeri sendiri.”, kata Sri sewaktu aku minta pendapatnya.

Baju  lengan panjang dengan lipatan seterika setipis pisau.   Mengancingkannya  hingga ujung  leher.   Seutas dasi  melingkari penyangga kepala,  membuatku semakin sulit bernafas. Baju itu sungguh menyiksaku. Keringatku  membasahi  setiap lekuk tubuh. Terlebih saat berkendara sepeda motor.  Jaket tebal memaksa pori pori di tubuhku memuntahkan air keringat berpuluh kali lipat.

— @lambangsarib—

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Haruskah Seorang Salesman Berpakaian Bak Kolonial ?

  1. 9ethuk says:

    fotonya mana pak ?🙂

  2. semangat pak😀, istrinya baek banget

  3. suka atau tidak kita harus patuh sama peraturan perusahaan ya pak,,,,

  4. danirachmat says:

    bener mas dasi emang ga ada gunanya…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s