Maafkan Aku Nduk, Telah Mengacuhkanmu…..

“Pak, kiky pinter nih…., kiky pinter, Kiky bisa pakai aju ndiri…..”.

Dari balik pintu ia berlari, sekuat tenaga. Menubrukkan tubuhnya yang mungil. Menghantamkannya  ke  tubuhku. Berlari sekencang jerapah.  Menyeruduk  sekuat badak.

Dua binatang itu sering ia gunakan sebagai perumpamaan. Mungkin karena bentuk tubuhnya, ia percaya badak memiliki kekuatan melebihi rata rata. Sedangkan jerapah  berkaki panjang, ia memaknainya sebagai pelari tercepat.

Jari jemari  kecil dan ringkih itu memegang erat tanganku. Menggoyang goyangkan tubuhku.  Berusaha sekuat kemampuan mencuri perhatianku. Kalaulah mungkin, ia akan mengkudeta seluruh kasih sayangku.

Aku tak bergeming. Aku tak bereaksi  sedikitpun. Dahiku berkerut. Tangan kananku memijit  jidat. Konsentrasi  tak kualihkan. Fokus mendengarkan suara yang keluar dari kotak hitam. Dengan tangan kiri  aku menggenggam kotak itu semakin erat.  Walau  terasa semakin  panas, tetap saja kutempelkan  ditelinga.

“Pak…. Bapaakk…….”

Ia memanggil setengah menjerit. Memekik. Meminta perhatianku barang sesaat. Menarik narik celana dan baju yang kukenakan.

Aku tak bergeming. Tak berbicara, bahkan menolehpun tidak. Pandanganku kosong, menatap kedepan, entah kemana. Seluruh inderaku tertuju pada suara yang keluar dari kotak hitam itu.

Pak…. Bapaaakkk…. Kiky pinter pak….”.

“Baik pak….., iya pak……, terimakasih atas masukannya.  Besok kami lebih berhati hati…. Iya pak…., terimakasih pak….., betul pak….., itu semua salah kami….., next time kami akan lebih hati hati ……..”.

Aku berbicara  sendiri layaknya orang kurang waras. Komat kamit mirip cenayang membaca mantera. Jangankan anak anak, orang dewasapun pasti susah memahami pembicaraanku. Tidak jelas.

Suara  dari kotak hitam itu nerocos terus tak berhenti. Berjeda pun tidak.  Aku hanya mampu menjawab sepotong sepotong. Mengakui kesalahan adalah jalan terbaik. Mendengarkan suara apapun yang keluar dari kotak itu adalah bagian dari solusi masalah.  Bahkan kata kata kasar dan  makian harus mampu kutelan dengan keikhlasan.

Anakku yang sedari tadi  berdiri mematung, tak bergeming memandangku. Ia tak menggoyang goyangkan tubuhku lagi. Tak berteriak lagi. Ia hanya diam mengamati,           dengan pandangan aneh. Pandangan asing.

Kotak hitam itu menjauhkan kami yang dekat. Merubah cinta menjadi keterasingan. Mungkinsaja ia mampu merangkai  kata, “Bapak tidak  memperdulikanku lagi”.

Walau tak terucap, cukuplah itu bak palu godam menghantam  kepalaku. Maafkan bapakmu nduk,…..

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Maafkan Aku Nduk, Telah Mengacuhkanmu…..

  1. abi_gilang says:

    Cup…cup…cup…Kiky yang sabar yah…. bapak lagi sibuk tuh🙂

  2. katacamar says:

    romantika hidup, anakpun kadang2 memang harus belajar memahami orang tua,
    tapi apakah sedari kecil seperti kiky? mungkin ada ahlinya yang tahu psikologi anak…
    judulnya mungkin maksudnya mengabaikanmu ya mas lambang… kalau mengacuhkan sama dengan memperdulikan=memperhatikan…

  3. Ilham says:

    teknologi itu memang begitu ya kadang2, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.😕

  4. yisha says:

    kiky, yuk ngambek,……….

  5. bundamuna says:

    rasa bersalah ke anak itu gampang banget muncul dan susah ngilanginnya yaa pak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s