Cincin Itu

Krisis ’98 menyapu seluruh  aset yang kumiliki. Uang yang dikumpulkan dengan susah payah selama  lima  tahun  lenyap. Mobil ditarik leasing. Rumah mungil  tempat kami merajut asa berganti kepemilikan.  Tak terhitung sebanyak apa kolektor memadati rumah,  hampir setiap hari. Hutangku menumpuk semakin tinggi, bunga berbunga, anak beranak. Mungkin malah sudah bercucu dan cicit.

Aku benar benar pada posisi terpuruk. Seperti terjerembab pada pusaran air terdalam.  Pada dasar  nadir paling bawah. Aku merasa paling miskin diantara orang termiskin di negeri ini.

Mengawali karir  sebagai  seorang pedagang kaki lima, sebenarnya kaki kakiku cukup kuat menahan badai krisis. Mungkin saja aku salah melangkah dan mengambil keputusan.  Zona nyaman membuatku terlena. Berbagai fasilitas yang kudapat ternyata justru membuat kakiku rapuh. Keropos. Tak mampu berdiri diterpa badai.

Kini aku kembali  terjun bebas, seolah tanpa dasar. Dari zona nyaman  menuju lembah penderitaan. Kehidupan yang dijalani layaknya sebuah  roler koster kehidupan.

“Kamu tidak boleh menyerah !”, kata Sri

Aku pandangi  wajahnya dengan perasaan bersalah.  Bagai seorang  tertuduh. Membawa anak gadis bergelimang harta, kemudian diajak merana. Sri mengatakan itu disaat keimananku goyah. Saat keyakinanku terkoyak. Saat semangatku lumer.

Jari tangan  kanannya yang  lentik  menghampiri jari manis kirinya perlahan. Sangat perlahan penuh penghayatan.  Memegang sebuah cincin berwarna kuning mengkilat yang melingkar. Perlahan dilepaska benda itu.

“Ini cincin pertunangan kita. Juallah. Buat modal.”

Aku  terdiam tak mengeti. Batinku menangis. Meronta. Sedih. Pilu. Seabrek kata lain yang tertulis pun tak kan mampu melukiskannya.

“Jual ini mas. Buat modal”, katanya mengulangi.

Terbata bata. Kata yang keluar dari bibirnya  bergetar, menahan tangis. Aku tahu ia ingin menumpahkan segala kesedihannya. Aku tahu air matanya hampir jatuh. Tampaknya ia berusaha tabah. Berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman. Ia tahan itu semua dalam batinnya yang tersayat.  Setegar pucuk  nyiur dihempas angin.

“Jangan Sri. Itu satu satunya kebanggaanku. Cincin itu pengikat tali cinta kita. Itu bukti  terakhirku mampu membelikan sesuatu padamu. Tolong pakai lagi,  jangan pernah  dijual”, kataku setengah memaksa.

“Tidak mas. Apalah arti ini semua, karena  aku sudah menjadi  milikmu. Apalah emas berlian dibanding kehormatanku  mengabdi pada suami. Cincin seperti ini, kelak kita bisa membelinya lagi”.

Kata kata Sri dengan penuh keyakinan. Berusaha meneguhkan hatiku yang goyah. Berusaha mengubah pendirianku untuk tegar dan mau  menjualnya.

Lama sekali perdebatan ini. Antara keinginan  menjual dan harapan untuk mempertahankannya.  Sebagai lelaki, aku pantang meminta apa yang sudah aku berikan. Sebagai perempuna, Sri ingin memberikan segala yang dimiliki buat suaminya.

“Kalau kamu tetap memaksa. Ijinkan aku meminjam ini Sri. Besok pagi aku gadaikan ini. Aku berjanji untuk menebusnya kelak”, kataku mengalah.

Sri tersenyum. Akupun tersenyum. Kami tersenyum bersama. Ia beranjak dari tempat duduknya. Menghampiri dan mencium keningku. Hangat dan lembut. Entah berapa lama bibirnya mendarat di keningku. Menenangkan. Aku ingin jam berhenti berdetak. Aku ingin mentari berhenti beredar.  Sebenarnya aku tak hendak ingin melepaskan.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in cinta, inspirasi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Cincin Itu

  1. Hu,,hu,,hu T_T jadi inget 5 tahun lalu. Saya juga mengalami hal serupa

  2. Febriyan says:

    sebuah bagian dari upcoming book-nya juga mas?

  3. Mengharukan,, cara perempuan dan lelaki berpikir, cara perempuan menenangkan lelakinya… *menyusut air mata🙂

  4. metamocca says:

    😥 mengharukan😦

  5. pitaloka89 says:

    makin mantap tulisan ceritanya….

  6. Denny Leo says:

    speechless, tanpa kata, luar biasa.

  7. Dzulfikar says:

    Wah inspiring bgt storynya. Klo di kumpulin bisa jadi cerpen nih. Pasti laku mas klo dibukukan🙂

  8. Semoga bisa segera bangkit ya, jadi cicncinya bisa ditebus kembali🙂.

  9. yisha says:

    hiksssssssss…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s