Saminisme, Gerakannya Pupus Karena Tidak Menulis

Kegagalan Perang  Diponegoro tahun 1830 berbuntut panjang.  Raja Willem mengirim  Johannes Van Den Bosch ke Hindia Belanda,  dimulailah era Cultuurstelsel atau tanam paksa.  Lahan tanah disewa pemerintah untuk ditanami tebu, petani dijadikan buruhnya. Pabrik gula didirikan hampir diseluruh jawa. Rel kereta api dibangun untuk memobilisasi hasil bumi. Semuanya untuk kepentingan Nederland.

Pemilik kebun di daerah tandus sepeti Blora, Pati, Purwodadi dan Cepu  diwajibkan menanam jati untuk perluasan hutan.  Pemerintah kolonial membutuhkan banyak kayu jati untuk di ekspor dan pengembangan jalur kereta api.

Samin Surosentiko dan pengikutnya menolak keras ide kapitalisme. Pemerintah kolonial menyebutnya sebagai pembangkang. Gerakan orang kampung ini disebut Saminisme.

Aku bangga dengan leluhur.   Darah samin mengalir dalam tubuhku. Tulangku terbuat dari kristalisasi karbonat bebatuan gamping tanah warga samin.  Aku  sendiri  sering memberontak. Anti kemapanan dan kenyamanan. Tidak mau menyerah oleh nasib dan kebijakan penguasa dholim.  Berperilaku ngeyel pada ketimpangan dan kebijakan yang merugikan rakyat banyak. Mungkin karena  itu teman teman memanggilku  Samin.

Itu  argumenku pada  Silalahi saat ia  menanyakan mengapa aku dipanggil Samin.

“Wah…. hebat juga leluhurmu, Min ?  Sepertinya kamu tahu banyak. Konsep Saminisme itu bagaimana  ?”

Saminisme memiliki beberapa ajaran pokok. Pertama, tidak  menyekolahkan anak anaknya  di  sekolah   pemerintah.  Kami  mendirikan lembaga pendidikan  sendiri. Beberapa diantaranya yang berpikiran maju  menyekolahkan  di  madarasah salafiah. Kami dulu beranggapan  bahwa sekolah  kolonial  adalah sekolah kafir. Mengajarkan budaya kafir.  Mengirim anak sekolah disana dimaknai sebagai kafirisasi.

Kedua, Kami  tidak mau mengenakan topi  atau blangkon. Topi adalah budaya musuh kami, Menggunakannya saja kami tidak mau, apalagi menerima ide idenya.

Blangkon kala itu banyak digunakan  kaum priyayi. Umumnya mereka bekerja pada pemerintah belanda. Kami menganggap mereka adalah antek antek kolonial. Oleh sebab itu, budayanya wajib dijauhi.

Dalam  kehidupan sehari  hari kami   tidak menggunakan  celana panjang seperti orang Belanda, apalagi jas dan dasi.  Batik juga menjadi pantangan, karena umumnya digunakan kaum  priyayi.  Sebagai gantinya,  kain  iket  warna hitam  melingkar dikepala, celanak  setinggi lutut berwarna hitam dan baju menyerupai gamis berwarna hitam juga.”

“Hanya itukah, Min… ?”

Kami  anti poligami,  perilaku  sangat umum bangsawan di Jawa.  Walau halal, perceraian adalah sesuatu yang tabu.  Kesetian terhadap pasangan adalah harga mati. Sesuatu yang sudah disatukan Tuhan, pantang untuk dipisahkan.

Kami tidak berdagang dengan  pemerintah kolonial dan antek anteknya. Hasil panen  harus mencukupi untuk  kebutuhan sendiri. Mungkin istilah sekarang adalah Swasembada.  Kadang terfikir bahwa kampanye swasembada yang digalakkan pemerintah saat ini mencontek ide leluhurku”, jawabku dengan bangga.

“Apa lagi yang kamu ketahui tentang samin selain itu ?”

Pokok saminisme ada beberapa hal, agama adalah senjata dan pegangan hidup.  Jangan sekali kali  mengganggu orang lain,  bertengkar, iri hati, dan mencuri. Bersabar dan semampu mungkin menjauhi kesombongan. Menjaga lisan dalam bertutur, jujur dan wajib menghormati orang lain.

“Silalahi ketahuilah bahwa saminisme mendapat dukungan luar biasa dari masyarakat pedesaan. Pemerintah kolonial pun berang. Hingga Samin Surosentiko diasingkan ke Sumatera Barat, daerah negeri leluhurmu”, kataku denan memberikan penekanan pada negeri asal Silalahi.

Selama di pengasingan, Samin surosentiko banyak merenung. Kenapa perjuangannya dengan mudah bisa ditumpas. Hanya dengan mengasingkannya, cita citanya pupus. Belakangan ia baru  sadar. Kesalahan terbesarnya adalah karena  tidak menulis.

“Terus terang saja, sebenarnya aku sendiri tidak terlalu faham dengan pergerakan Saminisme. Kalau kamu ada waktu, mainlah ke daerah Klopo Duwur. Sampai hari ini masih ada sekelompok orang yang melanjutkan cita cita Samin Surosentiko. Sebagai orang terdidik melayu,  tentu kamu  bisa  menuliskannya.  Dengan senang hati aku  akan menemani”. Jawabku  menghentikan pertanyaan Silalahi yang ingin tahu lebih banyak.

Lebih baik aku akhiri pembicaraan ini. Sebelum  malu karena ternyata aku tidak faham dengan bangsaku sendiri. Aku tidak memahami leluhurku sendiri. Jangankan mewarisi semangat perjuangan mereka, mempelajari dan sekedar menuliskannya pun tidak.

“Oh…. iya Min, sekarang aku faham  kenapa kamu dipanggil  Samin. Sepertinya  pantas  buatmu, hehehe……”, kata Silalahi menghakimi.

—@lambangsarib—

.

Butuh jasa cargo murah ? Via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Motivasi and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Saminisme, Gerakannya Pupus Karena Tidak Menulis

  1. Menginspirasi sekali Om… Dan saya jadi tertarik untuk mengunjungi masyarakat Samin, jika masih ada….🙂🙂

  2. DailyZy says:

    tulisan ini keren pak… saya mau menyalin makna,,,,, sukses pak

  3. danirachmat says:

    Pas belajar sejarah duku sempat disinggung tentang saminisme. Kalo ga salah ingat duku guru menerangkan gerakan pemberontakan ini dengan nada yang positif. Tapi sayang karena masih sekolah ga terlalu peduli. Cita-cita yang mulia.

  4. dwy says:

    Aku suka gaya loe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s