Saminisme Menolak Liberalisme Pemerintah Kolonial

Seorang temanku bernama Sinukaban,  yang berasal dari Medan pernah bertanya, “mbang,  sebenarnya kamu sering disebut  samin itu kenapa ?”.

Saya menjawab dengan senyuman.   “Samin itu  disematkan karena aku suka ngeyel.  Mirip sekali dengan  perilaku orang orang samin di pelosok jawa tengah. Kebetulan kami dari daerah yang sama”.

Aku menjelaskan dengan sok ilmiah, “Ajaran Samin  sering disebut juga dengan Saminisme. Tokoh utama dan penyebarnya adalah Samin Surosentiko  pada akhir tahun 1990’an.  Kami tidak pernah melawan penjajahan belanda dengan kekerasan. Namun  konsep kami adalah menolak  budaya kolonial  yang banya  ditiru aparat  desa,  golongan priyayi dan kaum terdidik  yang menjadi  kaki tangannya.  Kami menolak  mentah mentah ide  kapitalisme yang dibawa pemerintah belanda ke Indonesia”.

“Ajarannya yang istimewa apa min ?”,

“Pengikut ajaran Samin mempunyai lima ajaran pokok. Pertama mereka tidak mau menyekolahkan anak anak mereka di  sekolah sekolah yang didirikan pemerintah kolonial. Mereka menyekolahkan anak anak mereka di lembaga pendidikan mereka sendiri, atau di madarasah madarasah salafiah. Kedua, mereka tidak mau mengenakan peci atau blangkon. Mereka menggantinya dengan iket warna hitam  melingkar dikepala”.

“Yang ke tiga sampai kelima apa, min ?”

“Hehe….. sabar dikit lah, sabar…… Assobru minal iman,” kataku.

“Mereka sangat anti pada poligami, apalagi poliandri. Kesetian mereka dalam rumah tangga sangat teruji. Dalam  kehidupan sehari  hari mereka tidak mau mengenakan celana panjang seperti pakaian belanda, apalagi jas dan dasi. Mereka menggunakan celana setinggi lutut berwarna hitam”

“Yang paling luar biasa adalah mereka menolak  mentah mentah ide  kapitalisme. Mereka anti pati  berdagang dengan pemerintah kolonial dan antek anteknya. Hasil panen mereka digunakan sendiri diantara mereka. Itu tadi yang ketiga, keempat dan kelimanya”.

“Terus, apa yang kamu ketahui tentang samin selain itu ?”

“Jika Diponegoro melawan dengan mengangkat senjata. Pramoedya Ananta Toer dan Kartini melawan dengan tulisan. Hasyim Asy’ary dan Achmad Dahlan melawan dengan pendidikan. Maka Kaum Samin melawan  dengan caranya sendiri. Mereka melawan dengan diam tak mau berkompromi”.

“Kaban, terus terang saja.  Sebenarnya aku tidak terlalu faham dengan pergerakan Saminisme. Kalau kamu ada waktu luang, mainlah ke Blora. Dengan senang hati aku  akan menemani”, begitu jawabku untuk menghentikan pertanyaan yang terkesan menginterograsi.

Lebih baik aku akhiri pembicaraan ini, sebelum aku malu karena ternyata aku tidak faham dengan bangsaku sendiri. Aku tidak faham dengan leluhurku sendiri. Aku tidak bisa mewarisi semangat perjuangan keluargaku.

“Oh…., sekarang aku faham mbang, kenapa kamu sering dipanggil  Samin. Mungkin karena kamu  nyleneh dan ngeyelan.  Kebetulan kamu juga   berasal dari daerah yang sama. Maka teman teman memanggilmu dengan sebutan Samin.  Samin kayaknya pantas  buatmu sob, hehehe……”, kta sinukaban menghakimi.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Saminisme Menolak Liberalisme Pemerintah Kolonial

  1. nyonyasepatu says:

    Ihhhh mas aku penasaran bgt pengen ke blora tp gagal trus hhu. Seneng bc tulisan tentang samin disini. tfs ya mas

  2. Sepatutnya memang liberalisme dan kapitalisme itu ditolak.
    Wujud Pak Lambang tidak mau kompromi seperti apa, pak?

    *sepertinya lama sekali saya tidak nge-teh di sini🙂

    • lambangsarib says:

      Waktu itu di Blora ada kebijakan untuk mengganti tanaman padi dan polowijo dengan jati. Itu yang kaum samin tolak.

      Karena tidak berdaya jika dilawan dengan senjata, mereka melawan dengan diam dan tak mau berdagang dengan orang yang berbau kolonial.

      Monggo tehnya pak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s