Jadilah Salesman Biasa Saja. Jangan Menjadi Salesman Biasa Biasa Saja

Sesampai di ruangan Pak Markus, saya dipersilahkan masuk. “Ini pak orang baru, namanya Hermawan Kertojoyo. Sebagai salesman. Silahkan bapak jelaskan peraturan peraturan di perusahaan kita,  berapa gaji pokok, uang makan dan lainnya”.

“Baik pak Hartono. Kapan dia mulai masuk ?, tanya Pak Markus pada Boss.

“Besok pagi saja. “, kata boss singkat.

“Hermawan, setelah ini kamu ke ruangan saya lagi”, kata Boss sambil meninggalkan kami berdua. Aku pun mengiyakan, sebagai tanda hormat dan tunduk pada perintah atasan.

“Saya catet dulu di komputer dulu.  Nama lengkap  Hermawan Kertojoyo, Umur 26 tahun. Jabatan salesman. Mulai kerja di sini sekarang. Pengalaman kerja di tempat lain tidak ada. Lho ini kok alamat KTP mu di Jawa Tengah ?”

“Oh iya benar Pak Markus. Saya sudah menikah, Alhmdulillah belum memiliki anak dan ngontrak rumah petak di aerah  Ciracas – Jakarta Timur. Karena belum memiliki rumah, maka KTP masih lama, tempat kelahiran saya”.

“Baik tidak masalah. Langsung saja tentang gajimu ya Her….”, kata katanya berhenti, matanya tertuju pada file holder berwarna biru yang ada di rak buku. Diambilnya file itu dengan tangan kiri, menaruh di atas meja dan tampak sibuk  membuka buka  file mencari sesuatu.

Sejenak suasana hening. Saya memperhatikan semua yang dikerjakannya tanpa sedikitpun keberanian untuk bertanya. Berumur sekitar 50 tahun an dan  berkaca mata tebal. Tubuhnya tegap agak kehitaman. Dari gaya bicaranya aku bisa simpulkan bahwa Pak Markus berasal dari Indonesia timur. Mungkin berasal dari Ambon, Ternate atau  sekitarnya.

Kepalanya masih tertunduk, matanya masih sibuk membaca sesuatu, begitupun jari jemarinya masih menari nari diatas kertas. Tiba tiba dia bertanya, “Kamu kerja disini sedang mencari pengalaman ya ?”.

“Bukan pak”, saya menjawab dengan jantung berdegub kencang.

Tiba tiba jemarinya berhenti membuka buka file. Kepala yang menunduk dia angkat dan pandangan tajam matanya langsung kearahku.

“Apa Her !!!?”, sedikit membentak dan penuh tanya.

“Maaf pak Markus kalau saya salah omong. Saya melamar kerja disini memang bukan mencari pengalaman. Saya sangat berharap bekerja disini,  untuk mencari uang pak”.

“oh begitu …….”, jawabnya datar. Aku pun tak mengerti dengan maksud perkataannya tersebut.

“Nah ini ketemu. Hermawan, gaji pokokmu 350 ribu rupiah. Uang makanmu sehari 30 ribu rupiah. Uang kerajinan 150 ribu rupiah, diberikan jika dalam sebulan kemu tidak pernah telat masuk kerja. Jam masuk kerja dari 07:30 hingga 17:00. BBM dan parkir diganti sepenuhnya oleh perusahaan. Saya fikir itu, ada pertanyaan ?”

“Maaf pak Markus. Saya kan salesman, ada bonus penjualan ?”

“Ada. Tapi tolong tanyakan hal itu pada Pak Hartono sendiri. Itu wewenang Boss sendiri, saya tidak tahu. Ada pertanyaan lain ?  Kalau tidak ada, saya fikir cukup sekian.”

Saya tidak menjawab pernyataan HRD tersebut. Saya berdiri, menyalaminya dengan dua tangan dan memohon diri untuk meninggalkan ruangan.

Setelah keluar ruangan, dalam hati aku mengucap “Alhamdulillah ya Allah…, akhirnya aku dapat kerjaan. Akhirnya aku dapat survive tinggal di jakarta. Akhirnya aku menemukan semangatku kembali yang hilang dicuri seseorang, bersama barang barang daganganku di Tanah Abang”.

Zona nyaman bekerja di Freeport sudah beberapa tahun aku tinggalkan. Dunia perdagangan dari Masjid ke Masjid, dengan segala suka dukanya pasti akan  segera terlupakan. Diganti era baru, dengan semangat baru. Harapan baru  untuk esok yang lebih baik.

“Man Jadda Wa Jadda, Man Shobaro Zhafira. Wong Kang Temen Bakal Tinemu. Orang Yang Bersungguh Sungguh Pasti Akan Mendapatkan”.

Kebetulan didepan ruang HRD ada kursi sofa warna merah. Aku rebahkan tubuhku. Layaknya melepaskan puluhan ton  beban hidupku. Ingin kukabarkan kebahagiaan ini pada istriku dirumah.  Ingin kukabarkan kebahagiaan ini pada kedua orang tua dan mertuaku dirumah.

Tanpa kusadari bibirku bergumam, “oh angin, sampaikan ini semua pada mereka yang aku cintai. Sampaikan niat baikku untuk bekerja dan membahagiakan mereka semua”.

Tiba tiba aku teringat oleh seseorang yang tidak kukenal. Ia duduk disebelahku  sewaktu naik kereta api ekonomi Empu  Jaya yang berangkat dari Stasiun Kereta Api Lempuyangan Yogyakarta menuju  Jakarta – Pasar Senin. Sudah lama sekali kejadiannya. Sewaktu saya hendak kerja praktek di BATAN (Badan Tenega Atum Nasional) Jakarta.  Ia berkata begini, “ayo dik, kita takhlukkan JAKARTA. Jika kita mau, pasti  bisa”. Entah mengapa, kata itu masuk ke alam bawah sadar dan tak terlupakan hingga bertahun lamanya.

Saya juga teringat oleh sebuah spanduk di Fakultas Tehnik UGM. Spanduk putih sederhana  bertuliskan “Jadilah Mahasiswa Biasa Saja. Jangan Jadi Mahasiswa Bisa Biasa Saja”. Tanpa mohon ijin sang empunya, aku merubah menjari, “Jadilah Salesman Biasa Saja. Jangan Menjadi Salesman Biasa Biasa Saja”.

Aku masih tetap membisu di sofa merah empuk itu. Hingga seseorang menegurku, “Assalamualaikum”. Aku kaget dan baru sadar telah melamun. Sesorang berperawakan kecil duduk disampingku. Wajahnya berseri, jidatnya menghitam. Rambut ikal dan jenggotan. Ia mengulurkan tangan sambil berkata “Rosin, Muhammad Rosin”. Saya sambut tangannya dengan dua tanganku dan berkata, “Hermawan, Hermawan Kertojoyo”.

Kami pun tertawa.  Pembicaraan meluncur begitu saja. Tutur katanya halus, sedikit beraroma aksen sunda. Untaian kata yang terucap dari bibirnya bermakna kebaikan. Mendengar kata katanya, seolah kita sedang mendengarkan Ustadz  Abdullah Gimnastiar berceramah. Rosin adalah sahabat pertamaku disini, jabatannya sebagai kurir senior.

“Maaf Sin, aku harus keruangan Pak Hartono. Nanti kita sambung lagi ya ?”

“Silahkan Her…., silahkan. Nanti kita ngobrol di musholla”, katanya mempersilahkan.

Aku pun berangkat ke ruangan pak Hartono denga  kecamuk pertanyaan. “Kira kira apa yang akan dibicarakan ?”

— @lambangsarib —

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Jadilah Salesman Biasa Saja. Jangan Menjadi Salesman Biasa Biasa Saja

  1. yisha says:

    ”Man Jadda Wa Jada” ya pak…………

  2. Jadi salesmen itu memang gak mudah ya..

  3. bundamuna says:

    ini lanjutan cerita yg kemaren itu ya pak? kalau diterusin bisa jd novel dong… amin🙂

  4. ini bersambung ya pak….
    saya tunggu sambungannya….😀

  5. lieshadie says:

    penasaraaaaaangggg…..# ngomongin naik gaji tuuu…

  6. suka banget sama kta2 ini “Man Jadda Wa Jadda, Man Shobaro Zhafira. Wong Kang Temen Bakal Tinemu. Orang Yang Bersungguh Sungguh Pasti Akan Mendapatkan”

    penasaran deh ditunggu klnjutannya ya mas lambang😀

  7. capung2 says:

    sya jga sales, hanya sifatnya kerja sendiri…

  8. genthuk says:

    salesman oh salesman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s