Menjadi Seorang Salesman

Tepat jam 8 pagi saya sudah ada di PT. Transindo. Pintu kantor masih tertutup rapat, artinya aktivitas perkantoran belum dimulai. Syukurlah ada sederet kursi kosong di depan kantor, sehingga aku bisa melepas kepenatan setelah satu jam perjalanan menembus kemacetan ibu kota.

Beberapa karyawan mulai berdatangan, ada yang jalan kaki, menggunakan sepeda motor dan mobil. Masuk lewat pintu gerbang di samping yang tampaknya tidak pernah ditutup.

Satu persatu karyawan yang lewat saya amati. Mereka melakukan absensi dengan menempelkan sidik jarinya di sebuah kotak mirip ATM  di samping pos  satpam. “Perusahan besar”, pikirku.

“Kantor masih tutup ya mas ? buka jam berapa ?”, tanyaku pada seseorang yang berlalu tepat didepan tempatku duduk. Seorang anak muda, mungkin sekitar 20’an tahun.  Dari pakaian dan apa yang dibawa, aku tahu kalau dia adalah seorang office boy.

Dia hentikan langkahnya dan segera melemparkan pandangannya kearahku. “Jam 8.30 pak, sebentar lagi”. Hanya itu katanya, dan ia berlalu.

“Terimakasih ya mas”, tampaknya ia tak mendengar ucapanku.

Detik demi detik kulalui untuk menunggu jam buka kantor. Hanya duduk dan menunggu. Kala itu belum ada smart phone ataupun black berry. Bahkan hand phone pun penggunanya masih sangat terbatas. Itupun masih HP jadul yang berukuran sebesar batu bata merah.  Yang namanya Nokia pisang dan nokia seribu umat pun belum pernah terdengar sama sekali.

Saatnya pun tiba. Seorang perempuan dengan kerudung putih membukakan pintu dari dalam kantor. Pintu kaca dengan bingkai aluminium pun terbuka lebar sudah.

“Assalamualaikum pak, silahkan masuk”.

“Waalaikum salam mbak, terimakasih banyak sudah dibukakan pintu”, aku pun masuk ke front office kantor. Ia sudah berdiri di belakang meja  front office yang terbuat dari kayu jati khas Jepara. Dengan ramah ia  menanyakan perihal maksud dan kedatanganku.

“Saya mau ketemu dengan Pak Hartono mbak, saya diminta menghadap”.

“Maaf pak, beliau belum datang, apakah bapak bisa menunggu ?”.

“Oh iya, bisa mbak. Aku diminta menghadap jam 9 pagi”.

“Baik pak, silahkan duduk. Nanti jika bapak datang saya kasih tahu”.

Aku pun kembali duduk. Kali ini tidak lagi diluar kantor. Melainkan didalam ruang tunggu kantor yang bersih, dipenuhi  furniture dari kayu jati berukir.  AC didalam kantor cukup sejuk dan wangi.

Tak berapa lama kemudian seorang lelaki datang dan tersenyum. Ia menghidangkan segelas air putih hangat, “silahkan diminum pak ?”.

Ternyata seorang office boy yang saya temui beberapa menit yang lalu. “Iya mas, terimakasi banyak minumnya ya”, untuk kedua kali saya ucapkan terimakasih pada orang yang sama dalam waktu kurang dari satu jam.

“Sama sama pak, silahkan diminum”, sambil tersenyum ia pun berlalu.

Jam 9 pagi pun berlalu. Seolah waktu bergerak sangat lambat.  Belum ada tanda tanda aku dipanggil untuk menghadap. Sebagai pencari kerja, tentunya tidak ada kata lain selain sabar dan menunggu.

Aku mulai  menghayal. “Andai saja aku  diterima bekerja disini, betapa senangnya ? Betapa bahagianya ? Aku akan ………….”, belum selesai berkhayal, tiba tiba suara itu mengusik.

“Pak, mari saya antar bertemu beliau”.

Suara itu membuyarkan lamunanku. Suara itu sekaligus sebagai tanda berhentinya waktu menunggu. Sebagai tanda saatnya bertemu dengan seseorang. Akupun berdiri, bergegas dan mengikutinya masuk kedalam kantor.

“Assalamualaikum”, perempuan berkerudung itu mengetok pintu dan segera membukanya. Seseorang dari dalam ruangan samar samar terdengar suarnaya, “waalaikum salam, silahkan masuk”.

Aku pun dipersilahkan masuk. Dan kini dihadapanku berdiri seseorang dengan jas warna hitam. Bajunya warna putih garis biru, tampak serasi dipadu dengan dasi warna kuning bergaris putih.

Mungkin usianya sekitar 55 tahun dan tidak terlalu gemuk.  Kaca mata yang menempel diatas hidungnya mengesankan bahwa beliau seorang terdidik. Rambutnya klimis, menyiratkab bahwa ia seorang melankolis sempurna. Semerbak harum mewangi dari parfum  memenuhi ruangan.

Dia menyodorkan tangannya, “Hartono”. Saya kaget dan gelagapan. Kuraih tangan itu dengan dua tanganku, “e… saya Hermawan pak, lengkapnya Hermawan Kertoyoyo”.

“Silahkan duduk. Mana surat lamaranmu yang aku minta kemarin ?”.

“Ini pak, sudah siap”. Saya keluarkan map warna hijau dari dalam tas, dan segera aku serahkan. “Didalam map itu ada surat lamaran kerja, foto 4×6 sebanyak dua lembar dan  foto copy ijazah terakhir saya pak”.

Pak Hartono menerima dan membuka  surat lamaran tersebut. Setelah beberapa menit membacanya, ia meletakkan map itu diatas meja. Kemudia ia memandang tajam kearahku. Sorot mata itu seolah mencekik leherku. Menikam jantungku.

Aku hanya diam. Tak tahu harus berbuat apa dan mengatakan apa. Keadaan berubah menjadi hening. Waktu seolah berhenti.

“Nama Lengkapmu Hermawan Kertojoyo. Ehm……. namamu mirip sekali dengan maestro pemasaran kita, Hermawan Kertajaya.  Kamu berasal dari  Grobogan, lulusan S1  jurusan teknik Geofisika,   UGM,  lulus 3 tahun yang lalu. Hm…. benarkah itu ?”

“Betul pak”, sebenarnya aku ingin menjawab panjang lebar. Tetapi hanya dua kata itu yang mampu terucap. Mulut seolah berat untuk mengucap.

“Kamu lulus 3 tahun yang lalu, dengan Index Prestasi, 3,5. Tapi kenapa tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali ? Kamu tidak laku kerja ya ?”. Pertanyaan yang sangat dalam dan menghujam relung hatiku.

Untunglah pelan pelan aku mulai menguasai keadaan, dan mampu sedikit berbicara.

“Saya ada pengalaman pak. Tetapi memang pengalaman saya tidak bisa dituliskan disitu. Kalau toh saya tulis, mungkin malah menjadi bahan olok olokan”.

Pak Hartono nampak mengernyitkan dahi. Kedua alis matanya seolah mendekat, hampir hampir beradu. “Lalu, apa pengalamanmu ?”

“Setelah lulus kuliah, saya langsung diterima di Freeport pak, sebuah perusahaan tambang terbesar di Indonesia. Namun karena fisik saya jelek, Timika tidak pas buat saya. Saya sering sakit sakitan. Tepat 11 bulan saya bekerja disana, dengan baik baik saya mengundurkan diri. Karena belum genap setahun bekerja, perusahaan tidak mau mengeluarkan surat pengalaman kerja”.

“Lalu ?”, nada bicara pak Hartono sepertinya ingin tahu lebih banyak.

“Lalu saya ke Jakarta pak. Dengan berbekal gaji yang ada,  saya dagang macam macam. Dari masjid ke masjid dan dari keramaian ke keramaian”.

“Daganganmu apa  ?”

“Saya pernah dagang sarung dari pekalongan. Saya pernah dagang kaos. Saya pernah dagang buku produk Gema Insani Press. Saya pernah dagang gula. Terakhir saya dagang baju muslim pak”.

“Kok aneh ya ? Kamu dagang macem macem. Kenapa malah pingin kerja ? Tidak masuk di akal saya !!”, nada suaranya sedikit meninggi.

“Bangkrut pak.”, jawabku spontan.

“Haha…ha.ha…ha…aha……”, pak Hartono tertawa sejadi jadinya. “Hermawan….. Hermawan, lha kamu dagang bangkrut kok diceritakan. Lha gitu kok malah pingin jadi salesman disini. Nanti perusahaanku ikut ikutan bangkrut……..!!!!!”.

Jleb…… kata itu seolah menikamku dengan pedang, begitu dalam. Saya terdiam. Seolah kesalahanku sudah stadium 10, tidak terampuni.

“Ok. Ceritakan kenapa usahamu bisa bangkrut”.

“Maaf pak, waktu itu saya hendak kulakan baju koko di pasar tanah abang. Seluruh uang modal  saya masukkan kedalam tas. Waktu saya ambil air wudlu hendak sholat, tas saya letakkan diatas tempat wudlu. Selesai ambil air wudlu, ternyata tas saya raib tak berbekas. Dicuri orang. Itulah kenapa saya bangkrut pak….”

Pak Hartono tampak serius mendengarkan ceritaku. Beliau tidak tertawa lagi. Lalu berkata, “kenapa kamu mau jadi salesman ?”

“Saya sadar pak, kalau ilmu  saya hanya laku jika  bekerja di pertambangan. Padahal saya juga ingin maju dan mendapatkan penghasilan yang layak. Untuk mewujudkan mimpi mimpi saya, caranya hanya satu. Menjadi seorang salesman. Kalau bapak berkenan, ijinkan saya bekerja disini sebagai salesman. Tapi kalau bukan salesman, mohon maaf pak, saya tidak pantas”.

“Baiklah  Hermawan, tapi gaji disini sangat kecil. Apalagi jika dibandingkan dengan gaji di pertambangan”.

“Tidak mengapa pak, itu jauh lebih baik bagi saya”.

“OK. Kamu boleh jadi sales disini !”. Pak Hartono berdiri dan mengajakku salaman untuk kedua kalinya.

“Ayo, bapak kenalkan kamu pada pak Markus. HRD disini. Gaji dan uang makan nanti biar dijelaskan pak Markus”.

“Terimakasih pak, terimakasih banyak pak,……”, aku ucapkan itu dan segera bergegas berdiri. Mengikuti langkahnya yang panjang dan tegap.

Dibelakang Pak Boss saya melangkah. Mengikuti kemanapun beliau mengajak. Dalam hati aku berucap “Alhamdulillah…… Beserta kesulitan ada kemudahan. Terimakasih ya Allah, sekali lagi Engkau tunjukkan kebesaranmu”.

— @lambangsarib —

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Menjadi Seorang Salesman

  1. ryan says:

    ini kisah nyata mas?

  2. yisha says:

    wah….berapa lama bapak kerja disana?

  3. Ceritaeka says:

    Lagi mengenang awal2 kerja dulu, Mas?

  4. Ilham says:

    oh fiksi toh. bagus mas ditunggu episode berikutnya hehe (kayak sinetron)

  5. lieshadie says:

    Fiksinya mantebbb dan menginspirasi….# eh tapi pengalamanya kayak ceritanya Pak Lambang ya ? ^_^

  6. Ely Meyer says:

    panjang amat pak postingannya🙂

  7. afan says:

    Asikkk, bagus. tak disangka. lulusan geofisika UGM yang sudah pada jalur cita2nya ketrima di Freeport eehh ternyata fisik tak merestui, dan punya keyakinan menggeluti bidang marketing sbg salesman.
    Dibumbui sisi ilmiah sewaktu kerja di freeport lebih nonjok🙂

    Ditunggu posting part selanjutnya pak,🙂

  8. mastur songenep says:

    bagus itu bang

  9. bundamuna says:

    jadi salesman itu tidaklah mudah…
    salam kenal pak Lambang🙂

  10. Roy Saputra says:

    wah ternyata fiksi ya? keren euy!

    salam kenal!😀

  11. Erit07 says:

    Kisah asli pak?
    menarik kisahnya..

  12. danirachmat says:

    keren si Hermawan kalo menurut saya Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s