Harapan Buat Guru Menulisku

“Waalaikum salam waroh matullahi wabarokaatuh”. Tanpa dikomando anak anak berbaju warna putih dengan bawahan  abu abu serempak menjawab. Jawaban serempak itu membuat suara gemuruh memenuhi ruangan kelas tersebut.

Itulah awal proses belajar mengajar di kelas pendidikan. Sudah menjadi kebiasaan. Hal yang sama seperti itu entah semenjak kapan, mungkin semenjak sekolah ini berdiri 27 tahun yang lalu.

Tanpa sengaja aku melihat  itu dari pintu depan kelas yang terbuka.  Oh…. prosesnya masih sama persis  dengan saat  aku sekolah SMA, di akhir tahun ’80 an.  Hm…… aku berlalu  tersenyum sendiri. Membayangkan saat masih sekolah. Membayangkan guru guruku dulu yang mungkin sebagian sudah almarhum. Membayangkan sahabat sahabat yang tak tahu dimana kini berada. Membayangkan saat kami bernyanyi lagu semut merah karya Obie Mesakh

Aku pun berlalu. Memang tujuanku adalah bertemu dengan seorang sahabat. Kebetulan ia saat ini menjadi kepala sekolah disini.

“Hai mbang…., apa kabar ? ayo… ayo… mlebu, iki ruanganku. Tidak usah sungkan sungkan. Kebetulan aku belum ada jadwal mengajar pagi ini”

Kami pun duduk, minum teh hangat yang dihidangkan seseorang. Mungkin ia seorang staff atau pesuruh sekolah. “Terimakasih pak sudah menghidangkan minuman”. Ia tersenyum, sambil berlalu ia ucapkan “sama sama pak. Silahkan diunjuk”.

Ah…. sepertinya dia tahu kalau saya orang jawa.

“Hm…. lebih dua pulauh tahun kita tak bertemu ya mbang ? bagaimana keluarga ? anakmu berapa ? dima sekarang tinggal  ? bla…bla…bla……”.

Percakapan kami tak lebih dari nostalgia. Mengabarkan keadaan keluarga masing masing. Memang tidak ada sesuatu yang istimewa dalam pertemuan ini selain reuni dua orang sahabat.

“Eh…. Wan, kok ngajarnya sama persis dengan guru kita waktu itu  ya ?”

“Iya lah mbang…., lha memang kenapa ? Ngajar ya begitu. Dari dulu hingga kini tak berubah”, jawab dia dengan keyakinan yang tinggi,

“Hasilnya bagaimana  Wan ?”

“Aku cuma bisa mengucap syukur Alhamdulillah kok  Mbang. Lihat tuh di rak sebelah sana. Beragam piala tersusun rapi. Album2 foto kejuaraan yang kita raih bisa kamu lihat di album foto dibawahnya.  Itu artinya bahwa  semenjak saya memimpin sekolah ini, saya berhasil membawa prestasi. Membanggakan buat anak anak dan orang tuanya. Membanggakan kami sebagai staff pengajar dan guru”.

“Wah, dedikasimu untuk anak anak sungguh luar bias Wan”.

“Kamu sekarang ngapain aja Mbang ? Masih suka jalan jalan dan menulis ?”

“Masih”, jawabku singkat.

“Ke kota ini dalam rangka apa Mbang ?”

“Kemarin ikut seminar Wan. Seminar pendidikan. Katanya sih sistem pendidikan yang lebih baik. Tapi entahlah, aku pusing. Aku kan penulis, bukan pendidik ?”

“Seminar pendidikan ya Mbang ? Isinya apa ? Boleh dong di bocori. Siapa tahu bermanfaat buat sekolah ini”.

Aku pun menyodorkan sebuah buku panduan yang didapat dari seminar kemarin. “Iki Wan, woconen dewe….”.

Wawan membuka lembar demi lembar materi seminar yang aku berikan. Pada halaman tiga tampak ia berhenti membuka lembaran. Sejenak ia memandangku, dan segera pandangannya kembali ke materi seminar ditangannya.

Tiba tiba ia bergumam sendiri. Samar samar suaranya mampu kudengarkan.

“Salah satu hal yang selayaknya dilakukan seorang guru adalah :

  • Bahan bahan atau  materi pelajaran  untuk pertemuan  selanjutnya, lebih baik  diberikan di pertemuan sebelumnya. Sehingga  murid  sudah mempelajari sebelum pelajaran  dimulai
  • Misalkan pertemuan minggu depan akan membahas buku “88 kiat menjadi penulis hebat”, maka pada pertemuan sebelumnya disampaikan terlebih dahulu akan dibahas bab berapa.
  • Karena saat ini sudah era internet, maka tugas tugas  menulis sastra ada baiknya  ditulis didalam  blog atau forum bersama. Sehingga  seluruh peserta bisa dengan mudah mengakses kapanpun dimau. Keuntungannya adalah seluruh siswa bisa interaktif, saling membaca hasil karyanya dan saling berkomentar atau mengkritisi. Sedangkan guru  tinggal menuliskan apa apa yang harus diperbaiki di kolom komentar.”

Tiba tiba Wawan terdiam. Ia berhenti membaca dan memandangku dengan tajam. Pandangan mata yang tidak asing. Seperti  pandangan matanya  semasa kami duduk sebangku di SMA dulu.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Kami sama sama diam dalam lamunan masing masing.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Harapan Buat Guru Menulisku

  1. edofaqeeh says:

    hmm.. agak nggantung pak ceritanya hehe..
    tapi poin2 yg di akhir cukup ngena juga. memang bisa jadi itu yang perlu dilakukan jika kita menjadi pengajar, tapi kalo bapak pernah menonton film “Monalisa Smile”, disitu malah si guru dihadapkan kepada tantangan bahwa anak2 didik sudah memiliki buku acuan dan akhirnya apa yg dia ajarkan sudah diketahui semua murid. tantangannya adalah bagaimana agar si anak tidak terpaku kepada buku pegangan🙂
    oiya, dari sisi pengajar, persiapan untuk materi di pertemuan selanjutnya adalah suatu kebutuhan yang niscaya. saya pernah dapat nasihat dari seorang pengajar senior: “jika besok kamu mengajarkan suatu materi A, B dan C, apa yang kamu persiapkan sebelumnya haruslah A, B, C, D dan seterusnya. harus melebihi apa yg akan diajarkan”.
    maaf kalo terlalu panjang🙂

  2. kurang begitu ngerti tapi aku suka hehe😀

  3. lieshadie says:

    Sukaaa……udah merambah ke fiksi juga ya Pak….jempolllllll !!!!!!!!

  4. yisha says:

    met diam dalam lamunan masing masing…………..

  5. bundamuna says:

    bagus bgt pak ceritanya… saya jarang kasih tau ke murid2 materi apa yg mau diajarkan utk pertemuan berikutnya…
    tp saya sudah sering menggunakan media internet dlm proses belajar mengajar, misalnya mengerjakan quiz online🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s