Mengarang Adalah Bekerja Untuk Keabadian

“Lihat, Tuan Minke. Ini pemberitaan Betawie. Ini bintang Soerabaia. Ini Suratkabar Taman Sari. Sedangkan surat kabar muda ini, Tuan, Penghantar, terbitan Ambon. Ini Melayu lagi, terbitan Sumatra Timur, Pertja Barat. Coba tuan pelajari selembar demi selembar. Semua dipimpin dan dimiliki oleh orang Belanda. Indo Eropa dan satu saja yang Cina Pertja Barat, terbitan Medan.”

“Perduli amat orang eropa mau baca Melayu atau tidak. Coba, siapa yang mengajak bangsa bangsa pribumi bicara kalau bukan pengarang pengarangnya sendiri seperti tuan ?”

Sebaris kata kata yang menohok. Seolah seperti tangan Mike Tyson yang menghantam kepala disiang bolong. Rasa kantuk sirna seketika hanya karena tulisan almarhum pak Pramoedya.

Rangkaian kata kata itu  membuat jantung berdegup kencang. Tangan mengepal, seolah ingin meninju sesuatu, entah apa.

Gelombang semangat menulis dan membaca tiba tiba datang bagai tsunami.

Ditengah kelelahan yang sangat, ijinkan kami menyapa. Ijinkan menulis ulang kata kata Kartini, “mengarang adalah bekerja untuk keabadian“.

Selamat malam, selamat beristirahat, Sampai berjumpa esok pagi untuk sebuah rajutan keabadian.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Mengarang Adalah Bekerja Untuk Keabadian

  1. Masya says:

    mengarang untuk keabadian”—> suka kata-katanya😀

  2. zaki19482 says:

    Saya sudah baca semua Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Semuanya masterpiece, kayaknya belum ada yang mengalahkan dia sampai saat ini. ( agak lebay….!!! hehehehehehe). Sekarang Novel Tetralogi Pramoedya Ananta Toer dipajang sebagai kebanggaan padaha dulu memajang buku ini bisa ditangkap pihak keamanan

  3. Alifianto says:

    ‘Mengarang Adalah Bekerja Untuk Keabadian’

  4. mintarsih28 says:

    ayo menulis sebagai prasasti di dunia maya

  5. Ilham says:

    dapet kutipan-kutipan yang mantap nih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s