Presiden Dan Putra Mahkota #1

Jam dinding digital di atas televisi menunjukkan angka 02.25 dinihari. Saat orang baru pulas di peraduan.  Beberapa orang lelaki sedang asyik menikmati segelas kopi panas. Mata mereka semua tertuju pada obyek yang sama, televisi.

Lima menit lagi  acara  siaran langsung  el classico antara Real Madrid melawan Barcelona dalam laga copa del ray.  Disaat yang sama, jutaan pasang mata menantikan acara yang sama. Tontonan wajib penggila  bola hampir di seluruh belahan dunia, tak terkecuali Indonesia.

Bola adalah pemersatu. Bola mampu menghancurkan tembok pemisah ras, suku dan ideologi. Bahkan di beberapa belahan dunia lain, ada yang menganggap bahwa  bola sebagai  agama baru.

Gambar di layar televisi tiba tiba berganti. Komentator yang sedang membahas sepak bola tiba tiba menghilang. Digantikan sebuah tulisan ” Kita menantikan BREAKING NEWS”.

Mata beberapa penonton yang mulai meredup tiba tiba  terbelakak, kaget penuh tanya. “Ada berita apa ini ? Dini hari begini ada breaking news ?”

Seorang penyiar yang tidak asing lagi. Sosok Sambas muncul dengan suara baritonnya yang khas.

“Selamat pagi saudara. Lagi lagi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menangkap tangan transaksi suap senilai milyaran rupiah. Untuk mengetahu lebih jauh proses penangkapan itu, kami akan bergabung dengan reporter Safitri di tempat kejadian. Silahkan safitri”.

“Terimakasih Sambas. Selamat pagi pemirsa TVOndelOndel, saat ini kami melaporkan dari depan  Hotel  Gunung Jati. Beberapa saat yang lalu KPK  menangkap tangan transaksi miliar rupiah yang diduga sebagai tindak pidanan korupsi atau penyuapan. Seseorang berinisial  JT  ditangkap bersama  seorang  wanita di kamar nomer 1007”.

“Sampai saat ini,   perempuan  tersebut masih misterius. Ada dugaan, perempuan itu adalah seseorang yang  selama ini dikenal  sangat dekat dengan anak pejabat”.

Gambar reporter Safitri di layar televisi berganti  dengan gambar seseorang dengan perawakan ganteng, tinggi tegap, rambut ikal. Wajah yang tak asing lagi. Selain sebagai publik figur, ia juga seorang artis yang membintangi film laga “satria gunung lantang”.

Tangannya tamapak diborgol. Wajahnya menunduk lesu, tanda bersalah yang sangat. Meski kilatan blitz dan kamera televisi tak henti  membidik, tiada tampak senyum mengembang dari wajahnya. Hanya tertunduk lesu.

Sementara itu di belakangnya tampak seorang wanita dengan baju super  ketat dan rok mini 10 cm diatas lutut. Namun, tidak jelas siapa gadis berumur belasan tahun tersebut. Seluruh kepalaya terbalut kain batik  berwarna biru muda. Dikenakan  mirip cadar khas timur tengah. Hanya  matanya yang tampak.

Seolah mengakui kesalahan, ia tak tampak berani menengadahkan pandangan. Hanya tertunduk lesu. Tangan kanannya diborgol mengikat dengan  dengan tangan kiri  JT, sementara tangan kirinya digandeng aparat.

Mereka berdua dikerubuti banyak orang. Bercampur baur. Ada polisi, ada aparat KPK, ada wartawan, dan masih banyak lagi. Beberapa orang tampak mengambil foto dengan ponsel. Dari caranya, bisa disimpulkan bahwa  ia bukanlah seorang wartawan. Mungkin saja ia orang biasa yang mengambil foto dan menguploadnya di jejaring sosial.

Suasana sungguh ramai. Dari layar televisi tampak warga sekitar ikut berdatangan menyaksikan momen langka tersebut.

“Malam ini juru bicara KPK,  Joko Budiman, tidak bersedia memberikan keterangan pers  seperti biasanya. Rencananya,  besok pagi  jam 9,  KPK akan memberikan pernyataan resmi”.

“Sekian. Saya Safitri bersama kameramen roni,  melaporkan dari depan Hotel Gunung Jati.  Silahkan rekan Sambas”.

“Terimakasih safitri. Pemirsa, demikian headline news yang kami sampaikan. Silahkan menikmati acara kami selanjutnya, el classico. Selamat pagi”. Kata kata sambas mengakhiri headline news tersebut.

Pemirsa bola lover heboh. Pembicaraan beralih. Dari topik perseteruan ronaldo – messi berganti topik KPK versus koruptor. Dari topik strategi memenangkan el classico menjadi strategi memenjarakan  penjahat kerah putih.

“JT itu  kan Joko Tole”, kata seseorang yang duduk di korsi merah.

“iya bener, itu Joko Tole. Lalu perempuannya siapa ya ? kok pakaiannya kayak artis banget”, kata yang lain menimpali.

“maklum bro…., dunia malam. Dugem gitu loh…..”

“Gila…! masak transaksinya di hotel tepat di sebelah kantor KPK. Apa itu bukan penghinaan ? Jan…. Gila tenan. Edyan kabeh”.

“Joko Tole itu kawan dekat  Lesmono Wuyung, anak  presiden kita. Wah…. jangan jangan ini melibatkan anak presiden. Jangan jangan wanita itu Dewi Asmoro, selingkuhannya Lesmono. Bener nggak dul ?”

Si dul hanya tersenyum  mendengar analisa Cacuk  tadi. “Wis lah, gak usah mikir itu cuk !  Awake dewe kui  wong cilik, ora paham babar blas. Mendingan kita lanjutkan taruhan. Wani opo ora ?  Ayo…. saya pegang barca, yang berani cemban,  duitnya taruh diatas meja. Pur setengah !”.

**********

“Maaf pak presiden, malam malam membangunkan bapak. Saya dapat laporan dari internal KPK bahwa Joko Tole tertangkap tangan transaksi uang tidak jelas beberapa menit yang lalu.  Saya mencoba mengontak Mas Lesmono Wuyung, tapi HP nya tidak aktif. Asistennya pun tidak bisa dihubungi”.

“Lalu  ?”, tanya presiden dengan nada agak panik.

“Saya takut, Mas Lesmono dibawa bawa. Ada isyu  kalau  Mas Lesmono  sedang di hotel yang sama. Bersama teman temannya dilantai atas dalam keadaan kurang segar. Sudah saya pastikan kalau penyidik KPK hanya menggerebek kamar 1007. Jangan ke yang lain. Saya sudah mendapat jaminan dari ketua KPK lewat  juru bicaranya Joko Budiman.”

“Juki, Apa maksudmu Lesmono mabuk lagi  ?”

“Maaf pak presiden. Tapi kabarnya mabuk sedikit,  tidak terlalu payah”.

“Yo wis. panggil  orang kita di KPK  dan  seluruh pucuk pimpinan partai ke rumah besok pagi. Jam 6 pagi kita rapat di Ciracas. Ingat ini super rahasaia. Media tidak boleh tahu”.

Bruaak…. suara gagang telpon dibanting. Itu artinya pucuk pimpinan negeri ini sedang galau dan marah.  Julkipli melanjutkan pekerjaannya. Satu persatu petinggi partai dihubungi, begitupun orang dalam KPK yang dimaksud presiden.

“jam 6 pagi kita sudah harus mulai rapat di Ciracas. Ini operasi senyap. Wartawan tidak boleh ada yang tahu. Sampai ketemu di Ciracas esok pagi”.

********

“Media tidak boleh tahu. Kalau sampai terbongkar ini semua ada hubungannya dengan Lesmono, bisa dipastikan partai kita  akan terkena dampak. Elektabilitas turun. Partai kita kalah dalam pemilu. Cita cita partai untuk memperbaiki negeri ini gagal. Cita cita partai untuk menghapus praktik korupsi di negeri ini gagal”.

“Partai kita dengan jargon santun, bersih dan anti korupsi harus tetap dipertahankan. Tidak boleh rusak hanya oleh oknum. Mengenai anak saya, nanti siang akan saya panggil. Itu urusan saya sebagai ayah. Urusan kalian adalah menyelamatkan partai”.

Presiden menambahkan, “ada yang memiliki ide untuk membungkam media ?”

Usulan silih berganti, perdebatan semakin memanas diantara orang orang didalam lingkaran istana. Mereka saling beradu argumentasi. Para loyalis berlomba agar idenya dipakai. Sementara loyalis yang lain berusaha mati matian mematahkannya.

Rapat begitu riuh. Semua merasa paling benar. Perdebatan politikus ini  mengingatkan  bagaimana sengkuni beraksi sebelum barata yudha. Pada prinsipnya, mereka bukanlah  mencari solusi. Melainkan ingin  di anggap sebagai orang yang paling loyal pada peresiden. Itu saja.

“Kita harus melokalisir masalah !”, kata presiden menghentikan perdebatan.

“Dalam perdebatan tadi, saya mencatat beberapa hal penting yang mungkin bisa kita laksanakan. Kita harus mampu membuat opini publik bahwa ini adalah masalah pribadi Joko Tole. Tidak ada  hubungan  sama sekali dengan Lesmono. Walau Lesmono memiliki jabatan di partai, sekali lagi saya tegaskan bahwa partai kita tidak tahu”.

“Apa idemu untuk membuat propaganda itu Juki ?, lanjut  presiden.

“Maaf pak presiden. Pertama kita harus membeli media mainstream. Saya sudah coba mengontak semua media mainstream yang ada. Semuanya mendukung langkah langkah penyelamatan negara. Kecualai satu media yang selalu mengkritisi dan mengorek kesalahan kita. Harian dietuk namanya. Bahkan, jajaran redakturnya  tak mau saya temui”.

“Bagaimana dengan media online dan alternatif ? Bukankah itu tidak bisa dikendalikan ? Faktanya begitu kan, Juki ”

“Bapak presiden, seluruh media online main stream sudah kita kuasai. Kecuali media media kecil yang tidak jelas siapa pemiliknya. Namun begitu, media media kecil ini berpotensi menimbulkan kegaduhan politik. Terlebih jika mereka berkolaborasi  dan didukung penuh facebooker dan twitterland”.

“Kita harus berani membayar  akun2 peseudomim di twitter yang memiliki jutaan follower, seperti akun @rajabayaran1M.  Berapapun ongkosnya. Mereka harus mengkampanyekan bahwa media  dietuk berbohong. Akun akun itu juga harus mampu meredam  blogger,  facebooker dan twitterland yang liar”.

“Walau   tidak  mungkin dikendalikan, paling tidak kita melakukan upaya peredaman”

Tiba tiba  seseorang masuk ruang rapat. Katanya disuruh ibu negara  untuk memberikan sebuah smart phone pada presiden. Presiden tampak serius membacanya.

“Gila……!!!!  Media  http://www.janganpernahpercaya.com menulis dengan judul “Joko Tole  diseret KPK saat beduaan di kamar 1007, dengan selingkuhan  putra mahkota”“, presiden mengataka hal itu dengan muka geram penuh amarah.

Cepat cepat peserta rapat mengeluarkan smart phonenya masing masih. Mereka membuka situs yang dimaksdu presiden. Dibawah tulisan penangkapan itu, terpampang jelas kotak kotak sharing dengan sederet angka angka.

Muka presiden tampak merah padam meredam amarah. Dengan tetap menjaga wibawa ia berkata, “sudah di share 17.000 kali lebih  di facebook dan di twitter hampir sejuta  kali. Padahal baru di publish dalam hitungan jam saja”.

Semua terdiam. Semua membisu. Seolah semua tak mengerti apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

“SELESAIKAN….!!!!”, terika presiden sambil menggebrak meja.

Masih dengan  menahan amarah,  ia  berdiri. Lalu berjalan  masuk ke dalam ruangan,  meninggalkan para  loyalis.

Kemudian hening. Para loyalis  membisu. Mereka  hanya berpandangan satu dengan yang lain. Tak tahu apa yang mesti dilakukan.

**********

Di koran koran, media televisi, media online dan mendia alternatif pun heboh…..

Kemanakah Lesmono Wuyung saat ini ? Akankah ia berani menemua Joko Tole dan Dewi Asmoro ? Bagaimana pula murka ayahanda sang presiden ?

Semoga berlanjut……………

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Presiden Dan Putra Mahkota #1

  1. lieshadie says:

    hihihihihi…asik nih critanya Pak…lanjuuuuuttt….# ganti chanel dulu ah, mumpung iklan🙂

    • lambangsarib says:

      oh iya….. ?

      Baru membaca buku “88 kiat menjadi penulis hebat” karangan Syamsa Hawa (pemred annida_online dan irawan senda). Halaman 87 tentang melatih imajinasi. Salah satunya dengan mengajukan sebuah pertanyaa, kemudian dijawab sendiri dengan menciptakan dunia khayalan.

      Pertanyaan yang saya ajukan : “bagaimana cara presiden menyelamatkan anaknya jika ia tertangkap tangan korupsi”.

      Menjawabnya dengan imajinasi sendiri. Terus terang beraaat………. Menulis seperti itu ternyata 3 jam baru selesai.

      Yuuuk bikin yuuuuk

  2. mamayara says:

    Wah kirain ini hasil investigasi pak… ternyata imajinasi.. top bgt deh …🙂

  3. Imajinasinya sampai ke Sambas.. penyiar acara Dari Desa Ke Desa dan reporter jaman PSSI masih bersama Dede Sulaiman. Wahh… kereeen.

    Soal SBY yg gebrak meja itu lagi heboh juga sekarang

  4. Ilham says:

    waha keren idenya. ngasih pertanyaan yang mengundang imajinasi ya mas. mungkin bisa dipraktekkan kapa2n.😀

  5. ya ampuun..kirain sungguhan..

  6. nyonyasepatu says:

    Keren mas walo pas baca mikir2 siapa si joko tole dll hohi

  7. abi_gilang says:

    Aduh ceritanya nanggung nih…bikin penasaran. Saya tunggu lanjutannya deh…! Kayaknya Kiky udah ngacak2 pameran buku di Istora nih???

  8. Erit07 says:

    LAnjut pakkk,menarik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s