Anak Polah, Bopo Kepradah

“Jika sekiranya Fathimah bin Muhammada mencuri, niscaya akan aku potong tangannya”.

Itulah kata kata yang terucap dari  mulud yang mulia Muhammad Bin Abdullah. Junjungan kita. Kekasih kita, dan pembawa risalah kebenaran dari Tuhan.

Mengerikan kah ?

Nduk, “tahukah kamu mengapa bapak menuliskan ini untukmu  ?”

“Bapak sangat mencintaimu. Bapak sangan menyayangimu. Bapak tidak ingin kamu kehilangan salah satu tanganmu. Bapak tidak akan mungkin tega memotong tanganmu”.

“Bapak sangat mengharapkan kamu kelak menjadi orang jujur.  Jangan sekali  pun berbohong. Sekali berbohong, maka akan ada kebohongan kebohongan lain untuk menutupi kebohongan yang pertama.”

“Jujurlah…….., itu saja.”

Sebuah media  online memberitakan. Seorang pejabat nomer dua di partai terbesar terindikasi menerima uang hasil korupsi beberapa milyar jumlahnya. Berita yang cukup menggemparkan dan membuat  miris akan praktik korupsi di negeri ini.

Twitterland, facebooker dan  blogger   seolah mendapat amunisi. Berita itu layaknya mata air  ide yang tak kunjung kering. Entah sudah berapa ribu status di facebook, entah sudah berapa juta  kicauan di twitter dan entah sudah berapa ratus artikel ditulis di blog. Semuanya menyoroti kasus ini.

Media televisi pun menambah  semarak. Headline news, breaking news dan running tex silih berganti seolah tanpa jeda. Bahkan acara berita intertainment pun tak segan untuk mengulasnya.

Belum lagi dengan media cetak. Para kuli tinta menyemut di KPK memburu informasi dari mulut orang orang berpengaruh.  Sebuah rumah gedong di kawasan  duren sawit dan Cikeas tak ubahnya seperti daerah kunjungan wisata khusus pemburu berita dan paparazi.

Tulisan itu laksana pedang. Menggores bagaikan silet. Menusuk hingga ulu hati.

Ini berita besar. Ini baru permulaan. Ini baru halaman pertama. Akan ada halaman halaman selanjutnya yang menyita perhatian publik.

“Itu fitnah, tidak betul. Jadi, menurut saya kita janganlah lontarkan sesuatu yang bisa menjadi masalah. Fitnah itu sangat kejam. Saya kira masyarakat kita sudah cukup cerdas, segala sesuatu yang tidak berdasarkan bukti dan fakta, apalagi melontarkan seperti itu bagi kita itu berbahaya. Saya kira tidak baik”, kata HR pada suatu kesempatan.

Orang jawa sering berucap, “Anak polah, bopo kepradah”

Nduk, “kelak kamu pasti mengetahui siapa itu seseorang yang berinisial  HR. Dia adalah mertua dari salah satu tokoh penting yang diindikasikan menerima gelontoran uang beberapa milyar tersebut”.

HR bukanlah seorang nabi, apalagi seorang rosul. Kejujurannya pun masih harus di uji kelak di hari akhir. Yang pasti adalah,  manusia itu tempatnya salah, lupa dan dosa.

Nduk, “Jika Nabi kita belum pernah sekalipun berbohong sepanjang hidupnya, bapak yakin  HR pernah melakukan kebohongan. Entah besar, entah kecil, bapak tidak tahu.”

Karena yakin akan kejujurannya, seorang nabi dengan lantang   berani mengatakan “akan memotong tangan anaknya jika terbukti mencuri”.  Tentu berbeda dengan manusia yang lemah. Apalagi seorang pejabat yang sedang berkuasa bergelimang harta.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo, Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to Anak Polah, Bopo Kepradah

  1. anak plah bapak kepradah itu apa artinya mas ??😀

  2. nengwie says:

    Semoga anak2 kita tumbuh menjadi pribadi2 yg jujur… soleh dan solehah…aamiin.

    • lambangsarib says:

      Semoga, itu semua tanggung jawab kita sebagai orang tua.

      Mana mungkin kita tega memotong tangan anak kita ?
      Keimanan kita tidak ada 1% dibanding keimanan Nabi Ibrahim bukan ?

  3. Hidup di lingkaran politik itu mengerikan ya. Saya salut bagi yg kuat bertahan di sana, membawa perubahan yg baik, padahal setiap hari digempur fitnah dari segala penjuru mata angin untuk menghancurkannya.

    Tapi soal HR itu duhhh…

    • lambangsarib says:

      Sepertinya ungkapan “politik itu kejam” ada benarnya ya pak ?

      • Kejam sekali. Mereka pemangku kepentingan sekarang sudah mulai memasukkan anggaran “membeli berita di media” untuk melindungi kepentingannya.

        Saya masih ingat bagaimana dulu AM Fatwa dihajar habis-habisan oleh opini media yg sudah “dibeli” penguasa Orba. Saat itu belum ada twitter, blogger2 jurnalis independen yg membelanya secara gratis.

        Yang jujur namun lemah secara finansial akan sangat sulit mengatasi gempurannya, kecuali ia mempunyai tim buzzer social media. Dan penguasa itu kini ternyata juga mempunya buzzer spt @cuapolitik cs

      • lambangsarib says:

        AM Fatwa pernah bilang, “alhamdulillah saya dipenjara, sehingga saya bisa banyak belajar dan menulis. Berdo’alah untuk selalu di zalimi”.

        Bahkan karya besar Buya Hamka juga dihasilkan di penjara ya pak ?

  4. Ely Meyer says:

    HR itu si itu ya pak ?

  5. Dyah Sujiati says:

    ternyata saya salah sangka wkakwa kirain tadi mau nulis soal AU juga eh ternyata HR. Tapi AU dan HR itu siapa ya pak?😛

  6. genthuk says:

    semoga halaman terakhirnya memberikan pelajaran berharga buat kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s