Like Father Like Son

keluargaNduk, bisakah kamu mengenali wajah wajah mereka dari  foto di atas ? Bapak yakin kalau kamu tidak akan pernah melupakan mereka. Itu adalah kakek dan nenekmu bersama dengan dua orang paman mu.

Lebaran tahun lalu,  tampaknya kamu bahagia  bermain main dengan mereka di kampung.

Kakekmu membelikan mainan  wayang wayangan yang terbuat  kertas. bentuk, ukuran, motif  dan warnanya mirip dengan wayang kulit sungguhan. Sama persis dengan mainan bapakmu    seusiamu. Untunglah keempat  wayang wayangan  itu tidak ada tokoh sengkuni berkepala merah, sehingga bapak tidak perlu repot repot menjelaskan  bagaiaman kelicikan sengkuni sebelum perang barata yudha.

Nenekmu hampir setiap hari mengajakmu belanja ke pasar tradisionl. Belanja lauk pauk seperti  tempe, tahu dan ikan asin. Nenekmu sangat paham dengan sayur mayur kesukaan bapak dan juga kesukaanmu, yaitu  sayur gambas atau oyong. Kalau krupuk uyel, tenang saja, tidak mungkin nenekmu lupa.

Oh iya nduk, nenekmu sudah mengenalkan kamu dengan makanan bapak sewaktu kecil  belum ? Namanya nasi jagung. Yaitu nasi yang terbuat dari bahan dasar jagung. Kalau belum, tahun depan kamu harus mencobanya. Makanlah dengan lauk gereh, tentu kamu kan merasakan bagaimana kehidupan bapak waktu seusiamu.

Kedua pamanmu itu…, ingatkah kamu ? Mereka berdua suka sekali momong. Bergantian, sering mengajakmu membeli nasi pecel atau kue serabi  selepas sholat subuh.

Kamu ingat mereka semua  kan nduk ?

Dalam kesempatan ini bapak tidak hendak bercerita tentang bagaimana kehidupan leluhurmu dan pamanmu, melainkan hal lain. Mungkin ada yang menyebutnya dengan karakter psikologi.

Foto ini diambil tahun 2008, di pagi hari, spontan dan tanpa ada rekayasa sedikitpun. Ini adalah foto natural, apa adanya.

Nduk, cobalah fokuskan pandanganmu pada  tangan om agung, tangan kakek dan tangan om aik yang ada  di foto. Cermati itu nduk, berkali kali, jangan alihkan  pandangan matamu dari tangan mereka.

Apakah kamu menemukan sedikit perbedaan ?

Kalau perbedaan warna kulit, memang benar. Om aik kulitnya tampak lebih hitam, sementara om agung dan kakekmu tampak lebih putih. Kalau perbedaan dari  ukuran tubuh, om aik lebih  kurus. Om agung lebih berisi dan gemuk. Sementara kakekmu tampak paling kurus dan berkeriput.

Maklumi saja perbedaan itu nduk, karena perbedaan adalah rahmad. Perbedaan adalah fakta. Perbedaan adalah sunatullah.

Apakah kamu menemukan sedikit persamaannya ?

Yah benar sekali. Cara meletakkan tangan dan posisi jari jemari mereka bertiga nyaris sama.

Mungkin itu yang disebut dengan  persamaan karakter. Bapak yakin kalau kedua pamanmu itu mengikuti dan meniru karakter kakekmu. Mungkin disaat kedua pamanmu seusiamu, ia melihat dan mengamati bagaimana kakekmu duduk dan memposisikan kedua tangannya. Ia tirukan itu dan  menjadikannya sebuah kebiasaan yang tidak mungkin untuk dirubah.

Nduk, sekali waktu lihat cara bapakmu duduk dan meletakkan tangan. Kamu pasti akan menemui persamaan daripadanya.

Anak adalah plagiat ulung. Saat  anak  berusia emas atau sering dikenal sebagai “golden age”, ia  akan menirukan  banyak hal dari banyak orang. Anak anak  akan belajar dari  orang yang paling dekat dengannya. Ia  akan menirukan apapun  dari orang yang pertama kali mengajarkan.  Ia mengikuti   orang orang yang dianggapnya  menyenangkan. Serta  akan menirukan  orang orang yang dicintainya.

Oleh sebab itu nduk, maafkan bapak,  karena telah selektif memilihkan kamu dengan siapa kamu boleh bergaul dan bersahabat.

Kelak disaat kamu telah dewasa, bapak akan membebaskanmu bergaul dengan siapa saja. Karena disaat kamu telah dewasa, tentu  kamu  mampu memilah dan memilih hal hal baik dan buruk.

— @lambangsarib —

.

butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Like Father Like Son

  1. metamocca says:

    hihihi… bisa gitu ya Om fotonya sama semua gayanya.

    hmm… mungkin gak ya kalau sewaktu nanti saatnya ‘dibebaskan’, anak – anak menganggap hal buruk bukan sebagai sesuatu yang buruk tetapi sebagai pengalaman dan tantangan baru, Om?

  2. Dewi says:

    tak kira itu fotonya Pak Lambang waktu masih muda..hehehehe😀

  3. Setelah membaca “..cara bapakmu duduk dan meletakkan tangan.” yaa ternyata mirip sekali😉.

  4. mintarsih28 says:

    hal yang menggelitik selalu kuamati mengapa kebanyakan laki laki ketika berpose hampir semua spti itu.

  5. lieshadie says:

    gaya yang oke punya ya Pak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s