Bisnis Itu Sebuah Perjalanan Panjang

“Sampean enak Yong, omah’em  gedhong, tokonem wis pirang pirang, modalem ora ono serine. Memang enak, uwong cino koyo sampean. Selain menguasai jalur  distribusi,  kelompokmu menguasai jalur ekonomi dan kuangan”. Begitu kataku dalam bahasa jawa samin yang fasih.

Dalam bahasa Indonesia, mungkin kurang lebih artinya demikian. “Anda enak Yong, rumah besar, tokomu sudah banyak tersebar, modalmu hampir tiada berseri. Memang enak jadi orang cina seperti anda. Selain menguasai jalur distribusi, kelompok bisnis anda menguasai jalur ekonomi dan keuangan”.  Kurang lebih  begitu.

Kata kata itu terucap begitu saja di depan keluarga besarnya.  Di  sebuah acara  jamuan makan siang bersama keluarga besar Young He.

Beberapa kawan peranakan jawa yang sering memanggilnya Himawan tiba tiba memandangku. Tanpa dikomando. Pandangan mereka seolah menghakimiku sebagai seorang pesakitan. Mungkin mereka menganggap aku seorang rasialis. Pandangan mata mereka tajam menusuk, seolah hendak menampar mulutku yang dianggap menebarkan  kebencian.

Untunglah Yong He segera menguasai keadaan dengan lelucon mata sipitnya. Tak sampai dalam hitungan menit, suasana pun mencair dengan gelak tawa.

Beberapa kawan memanggilnya Himawan. Entah mengapa, ia lebih suka kalau aku panggil Yong He. Bahkan kalau sedang berkelakar, sering aku panggil ia dengan sebutan “cino edyan”.

Ia tetap tersenyum,  dengan memperlihatkan barisan  gigi miji timunnya yang berderet rapi.

Yong He tahu, bahwa aku bukanlah seorang rasialis. Yong He tahu bahwa aku suka menggunakan bahasa batak jika ketemu dengan Tunggul Sipahutar. Yong He tahu bahwa aku sering beraksen ke arab araban jika mengunjungi rumah Habib Assegaff. yong He pun sangat faham kalau aku sering berbicara dengan bahasa sunda saat bertemu dengan Cecep Ruhiyatna.

Mungkin kebiasaanku itulah yang membuat dia tak tersinggung saya sebut “cino edyan”. Mungkin karena kebiasaanku itulah yang membuatnya sering mengejekku sebagai “wong samin gendheng”. Mungkin karena kami telah bersahabat lama. Kami  yakin bahwa tiada dusta diantara kita.

Gaya bahasa kami memang kurang ajar dan fulgar. Namun tiada satu  sel darah rasial pun yang mengalir pada nadi kami.

Ibarat kata, “agamu adalah agamamu dan agamaku adalah  agamaku”. Aku percaya semua manusia equal dimata Tuhan, yang membedakan hanyalah derajat keimanannnya. Tuhan sengaja menciptakan umat manusia berbeda, bersuku dan bermacam ras, agar saling menghargai dan menghormati.

**********

“Mbang, boleh saya  menceritakan sedikit tentang leluhurku ?”.

“Wah, wajib didengarkan nih yong. Kebetulan pingin juga dengar cerita leluhurmu sampai di tanah jowo”, kataku semangat.

“Kamu lihat foto di ujung sana ?”, ia mulai ceritanya dengan menunjuk sebuah foto tua yang gambarnya nampak kusam dimakan usia. Sebuah foto ukuran 4 R dengan bingkai kayu seadanya. Tampak foto seorang lelaki dan seorang perempuan dengan tiga orang anak kecil.

“Itu foto kakek buyutku”, kata Yoh He dengan mimik  serius.

Lelaki di tengah itu adalah Kakekku. Mereka berlima berlayar dari Guangzhou naik perahu tak bermesin. Mereka berlayar kearah selatan, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Kemana arah angin bertiup, kesitu biduk diarahkan.

Singakat cerita, kakek buyutku terdampar di sebuah  kampung nelayang pesisir jawa. Daerah itu sekarang dikenal dengan nama Semarang.

Untunglah, Kakek buyutku tidak di usir oleh penduduk pribumi kala itu. Untuk itu, dengan kerendahan hati, atas nama leluhurku, harus saya ucapkan terimakasih. Mungkin kamu mewakili orang jawa, terimalah ucapan terimakasihku.

Walaupun tidak di usir, namun leluhurku  tidak memiliki tempat untuk tinggal. Hanya gubug alakadarnya di pinggir pantai, mereka berlindung dari teriknya panas matahari dan dinginnya siraman air hujan.

Sebuah keluarga kecil  terdampar di sebuah kampung nelayang. Tanpa sanak saudara. Tak bisa berkomunikasi sedikitpun. Bahkan kata  untuk sekedar meminta pertolongan pun tidak bisa.

Bisakah  kamu membayangkan kesulitan mereka  ?

Leluhurku tinggal di pantai untuk waktu yang lama. Untuk menyambung hidup, mereka makan apa saja yang diketemukan di laut. kalau ada kapal  nelayan merapat, leluhurku membatu menambatkan kapal dan mencucinya. Berharap belas kasihan untuk  beberapa potong makanan. Hanya itu yang mampu dilakukan.

“Kapan leluhurmu mulai berdagang ?”, sergahku tidak sabar.

Waktu itu kakek buyutku melihat orang orang di kampung nelayan membuang hajat besar di pinggir pantai. Mereka belum mengenal apa itu jamban.

“Loh…, apa hubungannya jamban  dengan berdagang ? Apa leluhurmu menyewakan jamban ? Seperti yang bisa kita lihat di Monas ? “, tak sabat aku menanya ulang.

Kakek buyutku mengumpulkan tinja  yang berserakan di pantai, lalu  dikumpulkan di suatu tempat. Berbulan bulan ia  mengumpulkannya. Orang orang kampung nelayang mengolok olok dan mengatakan bahwa leluhurku telah  gila. Penduduk pribumi mempercayai bahwa kami adalah orang tak waras, yang kerjanya mengumpulkan tinja.

Beberapa tahun kemudian, disaat tinja tinja itu sudah terkumpul banyak. Leluhurku membawanya ke daratan dan menjajakan tinja tinja itu sebagai pupuk organik. Dijajakannya pupuk itu ke orang orang  priyayi dan pejebat kolonial yang rumahnya dikelilingi taman indah.  Kala itu hanya leluhurku yang menjual pupuk organik tinja manusia.

Itulah awal dari segalanya. Itu adalah awal dari bisnis keluarga yang diturunkan hingga kini. Kami memulainya dari bawah. Kami memulainya dengan air mata. Kami merintis bisnis ini  tiga generasi lamanya.

“hm….. wah luar bisa Yong.  Matur nuwun, ceritamu sungguh sungguh menginspirasi”.

Cerita Yong He benar benar membuat kami sadar bahwa bisnis itu sebuah perjalanan panjang, butuh tetesan keringat dan air mata. Sebagai penduduk pribumi, kita harus belajar pada mereka. Bukan sebaliknya, mencaci dan memfitnah.

Belajar dan terus  belajar adalah karakter pemenang. Mencaci, memfitnah dan mengeluh adalah karakter pecundang. Pilihan ada di diri kita masing masing.

@lambangsarib

.

butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Bisnis Itu Sebuah Perjalanan Panjang

  1. ryan says:

    wah… inspirasional mas.
    tak ada sukses yang instant. dan selalu siap dianggap gak waras utk sukses.

  2. nyonyasepatu says:

    Mereka itu emang ulet dan pekerja keras bgt. Kalo mrk lbh sukses yahhh udh wajar juga ya hehe

  3. abi_gilang says:

    Seringkali kita melihat kesuksesan orang lain tanpa menghargai perjuangan dibelakangnya…sangat menginspirasi Pak…!

  4. lieshadie says:

    Inspiratif sekali Pak…tapi memang benar kok, bahwa kesuksesan bisnis itu pasti perlu darah dan air mata untuk memperjuangkanya…

    Keuletan Young He dan saudara2nya di sini memang patut di acungi jempol, saya juga banyak berteman dg Young He Young He lain di sini…🙂

  5. Dhiyas kn says:

    Perjalanan yang sangat panjang dan mengesankan. Mantap mas. Ditgg kunbalnya

  6. Kata2 itu sering dilontarkan orang yang punya keinginan untuk berbisnis tetapi tidak segera melangkah pak. Banyak yang melihat hanya ketika suksesnya aja.

  7. utie89 says:

    masalahnya adalah apa aku bisa menelusuri jalanan panjang ituu??
    -_-

  8. Denny Leo says:

    Halo, Mas. Salam Kenal.

    Ceritanya sangat memberikan inspirasi, good scene. Mulai dari nol.🙂

  9. Ilham says:

    inspiratif sekali pengalamannya. butuh pemikiran kreatif kalo mau sukses ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s