Wong Njowo Ora Njawani

Jarum jam menunjukkan pukul 05:01. Dengan sangat perlahan saya buka pintu utama  diiringin suara berdenyit yang menyayat. Begitu pintu terbuka, hembusan udara pagi yang sejuk  menyeruak masuk tanpa dipinta. Membawa kabar gembira dan harapan.

Alhamdulillah ini hari senin. Tuhan menganugerahkan kenikmatan  umur, kesehatan dan kebahagiaan.

Seorang motivator pernah berkata bahwa jika kita bersyukur saat bangun pagi, biasanya rejeki kan menghampiri. Jika kita mengeluh saat bangun pagi, biasanya rejeki menjauhi.

Apakah kata kata itu telah mempengaruhi hidup saya ? Apakah kata kata itu telah mengubah kepribadian saya ? Apakah kata kata itu telah mengganti  sudut pandang kehidupan saya ? Ah…. entahlah.

Yang pasti bahwa  saya sering menunjukkan ketidaksetujuan pada  orang yang mengatakan bahwa hari senin (Monday)  diartikan dengan MONster DAY.

Beberapa orang sahabat saya sering berpuasa di hari senin dan kamis. Pernah saya tanyakan kenapa hal itu dilakukan, mereka menjawab dengan penuh optimisme  bahwa puasa senin kamis adalah sunah nabi.

Kekerdilan otak dan kedangkalan logika yang saya bangun adalah, tidak ada yang salah dengan hari senin. Yang salah adalah sudut pandang manusia dan bagaimana mereka memaknainya.

******

Pada saat yang bersamaan dua orang tetangga lewat. Kami beradu pandang. Saya lemparkan senyum persahabatan, dibalasnya dengan senyum persaudaraan. Aha….. dunia ini memang begitu indah.

“sugeng enjang pak lambang”, ia memulai sapaannya. “sugeng enjang pak Pudji, wah…. subuh subuh  sampun siap berangkat nggih ?”

“lha injih meniko pak lambang, pados rejeki pak”

“atos atos dateng mergi pak pudji njih…….”

Wah bahasa itu lagi…., ia menyapa dengan bahasa jawa yang sangat halus. Digunakannya bahasa jawa   “kromo inggil”. Sebuah gaya bahasa yang banyak digunakan oleh orang orang golongan priyayi dan ningrat.

Sementara saya ? hanya orang kampung yang terlahir di pelosok jawa tengah. Ditengah hutan gunung jati. Berasal dari  golongan rakyat   jelata, masyarakat umum kelas bawah. Bahkan dulu teman teman sekolah mengolok olok saya sebagai orang kolot dan samin.

Oleh sebab itu, dengan kerendahan hati harus saya berikan penghormatan yang tulus. Bukan saja karena lebih tua, namun juga karena trah. Menjadi  keturunan kerabat kesultanan Solo, pewaris darah biru ningrat jawa.

Pak Pudji dan anakkya pun berlalu. Mereka harus berangkat pagi pagi untuk mengejar kereta dari stasiun Manggarai ke arah Bekasi. Pernah saya menanyakan kenapa harus berangkat dari rumah jam 5 subuh ?

“Menawi  berangkat jam enem, biasanipun  kejebak macet wonten pondok ungu pak, dugi kantor telat. Menawi berangkat  jam gangsal, dereng macet, dugi kantor wentawis jam pitu”, begitu argumentasinya.

Intinya, jika kita berangkat pagi tidak terjebak kemacetan dan sampai kantor tepat waktu. Begitupun yang terjadi sebaliknya.

Entahlah…. Dalam kehidupan sehari hari, ia selalu berkomunikasi dengan  bahasa jawa halus. Kadang kala  saya pun tidak mengerti apa yang dimaksd. Mungkin benar kata sahabat, bahwa saya termasuk “wong njowo kang oran njawani”, orang jawa yang tidak faham akan jawa itu sendiri.

*******

“pak enndong…..”.

Hm…. suara yang tidak asing lagi. Sepertinya berasal dari belakangku, mungkin suara itu berasal dari  dipintu rumah. Saya coba balikkan pandangan 180 derajat.

Oh….. putriku menatap dengan muka pengen digendong. Tangan kanannya berpegangan pada kusen jati. Tubuhnya berdiri tegap mematung. Hanya pandanga matanya  yang menyorot tajam ke mata saya. Tembus ke lubuk hati terdalam.

Saya tersenyum, berbalik arah, dan berjalan perlahan mendekatinya. Saya rengkuh tubuhnya yang mungil, mungkin sekarang sudah 13,5 kg beratnya. Saya angkat tinggi tinggi, dan kami pun  langsung berpelukan. Itu artinya, ia sudah ada di gendonganku.

Nduk, ….. itu dadah sama pak Pudji, teman bapak. “dadah…. dadah…. dadah……”, ku katakan itu sambil melambaikan tangan kanan. Sementara tangan kiriku meneggendong erat tubuhnya.

Dari sudut mata terlihat  bahwa lambaian tangannya menirukanku.  “dadah…. dadah…. dadah….”, ucapan itu meluncur begitu saja  dari mulutnya, tanpa diminta.

“Itu teman bapak nduk, Pak Pudji dan anaknya. Mereka berdua berangkat pagi pagi untuk bekerja”. Dengan menggendongmu, bapak memahami bahwa hari  senin adalah hari pengharapan.

@lambangsarib

.

butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Wong Njowo Ora Njawani

  1. boesta says:

    Samimawon pak, Kulo Jowo Mboten Njawani Lebih banyak Sumatrani..😀

  2. Heri Purnomo says:

    Matur suwun sanget pak, mugi-mugi tasih saget ngendiko mawi kromo inggil, nangin mboten inggil sanget. Ngapunten, sampun dangu manggen wonten kitha.🙂

    #bener nopo mboten nggih 🙂

  3. afan says:

    Saya pujakesuma pak, putra jawa kesasar di sumatra. dan ora njawani.
    Kalau masalah bahasa ngoko bagai saya gak masalah tuh pak, yang jadi masalah kalau baru 5 bulan di jakarta udah pake lu-gue🙂

  4. metamocca says:

    Aq juga suka gitu Om, ngenalin siapa2 aja temen aq ke anak2.

    Jadi inget, Aq pernah baca dimana gitu Om *lupa* katanya kalo ingin anak2 merasa dihargai, diakui, dsb… Hendaknya kita mengenalkan anak-anak kpd teman2 kita.😀

  5. mintarsih28 says:

    aku yo wong jowo sing rak njawani, kromo inggil kulo mboten saget

  6. Erit07 says:

    Hari senin hari masuknya saya ke sekolah,hehe..

  7. waah.. semangat, pak!
    *emmm… sy jd mau belajar bahasa jawa hehe

  8. lieshadie says:

    Kulo nggih mboten saged kromo inggil Pak…sagetipun basa ngoko !

  9. Saya ǰαϑΐ inget sabda Rosulullah SAW yang menganjurkan kίτά untuk bergegas mencari rizky Allah diwaktu pagi dengan mengibaratkan seekor burung pergi pagi2 dalam keadaan lapar δαή pulang dalam keadaan kenyang. Δαή burung itu bergerak cepat dalam menjemput rejeki dari Allah. Burung adalah contoh makhluk yang memiliki keyakinan kuat akan Rizky dari Allah.

  10. Ilham says:

    wah ngeliat komennya ternyata banyak juga ya blogger yang pujakesuma.😛 saya juga suka minder kalo orang ngomong dengan bahwa jawa halus. ngerasa ketinggalan sekali sebagai orang jawa. jawa kasar pun saya gak lancar betul.
    tentang memulai hari, bener yang dibilang mas lambang emang sebaiknya diisi dengan bersyukur dan berdoa.

  11. danirachmat says:

    kalo di pikiran kerjaan itu beban emang jadi beban ya mas. Apalagi kalo sampe mikir senin itu hari yang dibenci. WUih semakin malas rasanya berangkat. HArus dicontoh sikap Pak Pudji ini Mas.🙂
    Makasih sudah cerita ya Mas Lambang.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s