Becoming a Better Writer : Fiction on non Fiction

Alhamdulillah kemarin hari Rabu tanggal 20 Febriuari 2012 punya kesempatan hadir di acara kedua “Seminar Gratis” dengan tajuk “Becoming a Better Writer : Fiction or non – Fiction”.  Acara luar biasa ini adalah buah kolaborasi antara Komunitas Sukses Mulia, FOKUS – The Writing School  dan Majalah ANNIDA-Online. Pingin tahu lebih banyak tentang mereka ? lihat disini

Awalnya ada sedikit keraguan untuk hadir di acara ini.  Gak enak hati, masak maunya datang pas ada acara gratisan melulu. Apa kata dunia….?

Akhirnya saya coba SMS dan mention ke twitternya Citra Laksmi (managernya Sendra Irawan), dan mendapati jawaban luar biasa. Ia tulis begini, “mas koneksi disini agak susah, aku jawab twiter disini aja yah ?  Boleh banget datang kok, tidak terpaku yang datang kemarin atau baru. Free untuk umum….”. Bahkan SMS nya masih berlanjut, “untuk materi flyer nanti aku emailin, mudah mudahan modem mobile ku nembus di ruangan”.

Setelah terima SMS  dan beberapa mention, akhirnya saya putuskan untuk datang ke acara “super penting” ini.

Setiba di lokasi, langsung terperangah dan tanpa sadar  mengucap “wow….. kereeeen !!!”, ternyata Citra bukan hanya seorang manager, tetapi juga seorang MC yang luar biasa.  Gaya bicaranya mengundang gelak tawa dan seolah mengikat pandangan seseorang untuk tidak berpaling.

Walaupun Syamsa Hawa berhalangan untuk hadir,  namun ternyata mas Sendra Irawan dibantu dengan  Citra Laksmiasih  mampu mencairkan suasana dan membuat acara  semakin menarik,

Untuk mencairkan kebekuan, acara dibuka dengan meminta seluruh peserta seminar berkenalan satu dengan yang lain. Kami diminta untuk berinteraksi dan menanyakan nama tiap peserta, termasuk alamat dan profesinya.

Setelah mendapatkan seluruh  data base peserta, kami diminta untuk mendiskripsikan seseorang tanpa menyebut nama, pakaian yang dikenakan serta ciri fisik khusus. Setelah selesai ditulis, satu persatu diminta tampil untuk membacakannya. Tugas  audiens adalah  menebak siapa yang dimaksud.

Itulah pengalaman luar biasa yang saya dapatkan. Pengalaman pertama saya dalam membuat diskripsi tokoh dalam konteks bagaimana menulis yang baik dan benar.

Gelak tawa dan senyuman menghiasi sesi ini, terlebih lagi bagi yang paling banyak  ditokohkan.

Menginjak ke materi utama seminar, diawali dengan  penjelasan apa itu tulisan  Fiksi dan apa itu tulisan  Non Fiksi.  Apa saja yang disampaikan mas Sendra Irawan, saya  mencoba mengikatnya disini agar ilmu itu  tidak hilang musnah tertiup angin.

Non fiksi adalah tulisan yang berdasarkan fakta fakta tanpa gaya bahasa.  Contoh tulisan jenis ini adalah koran, artikel, kolom dan majalah.

Fiksi adalah tulisan yang diinspirasikan oleh fakta fakta sebenarnya, namun ditulis dengan gaya bahasa tertentu. Contoh tulisan jenis ini adalah buku buku novel seperti, Laskar Pelangi (Andre Hirata), Negeri Lima Menara (Ahmad Fuadi) dan Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer).

Ada pertanyaa, kenapa kita mesti  menulis Fiksi ?

Pertama, tulisan non fiksi bersifat informatif dan “lebih kering” dari sentuhan gaya bahasa penulis dan hampir lepas dari pengaruh  sastra. Sementara itu tulisan fiksi dipenuhi  sentuhan gaya bahasa penulis dan kaya makna sastra.

Contoh tulisan fiksi :

Suatu ketika Fulan  dan anak perempuannya sedang  duduk duduk  di teras rumah. Mereka berdua sedang asyik menyanyikan lagu “ambilkan bulan bu” diiringi sebuah okulele. Tawa dan canda mereka sesekali menyela antara bait bait lagu.

Belum selesai lagu itu dinyanyikan, tiba tiba datang seorang perempuan setengah baya  dengan baju compang camping. Tangan kirinya memegang sebuah tongkat kayu, sementara itu tangan kanannya membawa sebuah bungkusan didalam tas plastik warna hitam. ———–> selanjutnya klik disini

Contoh tulisan fiksi :

Fulan sedang duduk berdua dengan anak di teras rumah. Tiba tiba datanglah seorang pengemis. Fulan masuk kedalam rumah untuk mengambil uang receh. Anaknya mengikuti dari belakang.

Uang yang diambil Fulan dari lemari tenjatuh. Anaknya mengambil uang tersebut dan menyerahkannya ke pengemis.

Sobat blogger, dari kedua jenis tulisan diatas bagaimana menurut anda ?

Kedua, bahwa tulisan non fiksi lebih terkesan menggurui dan kaku, sebagai contoh adalah buku buku sekolah, buku manajemen dan motivasi. Sementara itu tulisan fiksi lebih smooth dan mengalir begitu indah. Pembaca tidak merasa diceramahi, namun secara perlahan mampu masuk dan mempengaruhi.

Ketiga, tulisan fiksi ternyata lebih mempengaruhi pikiran pembaca dibanding non fiksi. Didalam fiksi selalu ada tokoh, dialog, penggambaran detail. Alur ceritanya bisa dengan mudah masuk kedalam pikiran alam bawah sadar seseorang. Oleh sebab itu fiksi selalu lebih diingat pembacanya dibandingkan non fiksi.

Contoh perbandingan dua buah buku klasik yang bisa digunakan sebagai contoh adalah  buku Max Havelar (karya Multatuli)  dan buku  Adabul ‘Alim  Wal Muta’alim (karya KH. Hasyim Asy’Ari).

Max Havelaar adalah sebuah novel karya penulis Belanda bernama Eduard Douwes Dekker (nama pena : multatuli). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1860, yang diakui sebagai karya sastra Belanda yang sangat penting.

Kenapa dengan novel ini  ?

Novel ini adalah  salah satu contoh tulisan fiksi yang mampu menginspirasi tokoh tokoh pergerakan di Indonesia. Dari Gerakan Budi Utomo, lalu generasi tokoh sumpah pemuda, revolusi proklamasi 1945, hingga gerakan reformasi 1988. Hampir semua  tokoh tokoh pergerakan tersebut diatas pembaca buku ini, dan  mengakui terinspirasi. Bahkan sampai hari ini pun, buku ini masih dibaca banyak kalangan.

Sementara itu buku Adabul ‘Alim Wal Muta’alim adalah  sebuah buku non fiksi luar biasa karya salah satu tokoh besar negeri ini, yaitu KH. Hasyim Asy’Ari. Beliau adalah pahlawan nasional, tokoh pergerakan, dan tokoh pendidikan khususnya kalangan nahdliyyin.

Buku ini banyak menjadi pegangan wajib bagi  anak anak pesantren tradisional dan modern di Indonesia. Buku ini pun sangat menginspirasi kaum santri dan menjadi rujukan utama. Namun karena gaya penulisannya non fiksi, maka inspirasi buku ini sangat terbatas dan lebih banyak untuk kalangan sendiri.  Pengaruhnya tidak mampu menandingi   gaya tulisan  fiksi.

Mohon maaf,  dalam hal ini kita hanya mencoba membandingkan kedua buku tersebut dalam konteks gaya bahasanya  saja.

Bisa disimpulkan bahwa gaya bahasa fiksi ternyata selalu lebih berpengaruh  dibanding gaya bahasa non fiksi. Bahkan kitab suci yang kita kenal pun (dalam hal ini Al Qur’an) itu non fiksi yang ditulis  dengan gaya bahasa fiksi.  Ada istilah asbabul nuzul,  yang menceritakan bagaimana kronologi sebuah  ayat itu turun.

Jadi sobat blogger…..,  menulislah sekarang juga !

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, Motivasi and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

42 Responses to Becoming a Better Writer : Fiction on non Fiction

  1. ~Ra says:

    Sret.. sret… sret…

    Ini Om..

    (Bar nulis surat, “Om, utangi duite..”)
    😆

  2. lieshadie says:

    Keren banget ulasanya Pak….siaappp…aku juga mau nulis !!!!

  3. Bisa disimpulkan bahwa gaya bahasa fiksi ternyata selalu lebih berpengaruh dibanding gaya bahasa fiksi.

    Sepertinya typo error.

  4. Bahkan kitab suci yang kita kenal pun (dalam hal ini Al Qur’an) itu ditulis dengan gaya bahasa fiksi.

    Supaya tidak disalah-pahami, bagaimana kalo seperti ini:
    Bahkan kitab suci yang kita kenal pun (dalam hal ini Al Qur’an) itu adalah non fiksi yang ditulis dengan gaya bahasa fiksi.

  5. Ceritaeka says:

    Pengen ikutan deh kalau ada acara begini

  6. capung2 says:

    mantab nie penjelasan fiksi dan non fiksinya… tengkyuh sob !

  7. wah saya semakin paham perbedaan antara fiksi dan non fiksi,,
    trimakasih infonya pak🙂

  8. ryan says:

    akhirnya keluar juga…
    gaya non fiksi dalam bentuk fiksi… hmmm.

    makasih banyak ya mas atas informasinya. kalau menurut saya sih, sekarang banyak yang gaya non fiksi dibuatnya dengan model fiksi ya? seperti biografi orang-orang terkenal ya.

  9. genthuk says:

    memang lebih mengena kalo ada sisi emosionalnya

  10. nengwie says:

    Menulis..nulis apa sajaaa…. ayo berkreasi…*nyemangatin diri sendiri🙂

    Matur nuwun mas Lambang, tambah lagi ilmu saya…:)

  11. Erit07 says:

    Tambahan ilmu nih..

  12. mintarsih28 says:

    maka Rasulullah pun dikatain penyihir oleh orang kafir karna Alquran. meskipun Alquran gaya bahasanya bersastra bukan berarti kita menyebut, “tulisan nonfiksi yang bergaya fiksi” sebab Al Quran sudah punya nama nama sendiri dan Allah yang memberinya sebutan itu.

  13. Ely Meyer says:

    Ikut nyimak nggih pak

  14. Ilham says:

    harus banyak belajar dari karya2 klasik ya

  15. yisha says:

    yang lagi senang dapat pengalaman baru…
    *pengin

  16. Dyah Sujiati says:

    Kalau tulisan2 saya itu bagaimana Pak?

  17. JNYnita says:

    tulisanku non fiksi, tp gak spt buku sekolah.. :p

  18. rinibee says:

    Ulasan yang bagus. terima kasih sudah berbagi..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s