Anak Dan Seorang Pengemis

Suatu ketika Fulan  dan anak perempuannya sedang  duduk duduk  di teras rumah. Mereka berdua sedang asyik menyanyikan lagu “ambilkan bulan bu” diiringi sebuah okulele. Tawa dan canda mereka sesekali menyela antara bait bait lagu.

Belum selesai lagu itu dinyanyikan, tiba tiba datang seorang perempuan setengah baya  dengan baju compang camping. Tangan kirinya memegang sebuah tongkat kayu, sementara itu tangan kanannya membawa sebuah bungkusan didalam tas plastik warna hitam.

Dari caranya berjalan  bisa langsung disimpulkan bahwa ia  adalah seorang pengemis  tuna netra.  Ia berjalan sangat perlahan, dengan kaki agak diseret. Sejenak kemudian ia berhenti dan  berucap, “pak sedekahnya pak…., tolong…..”.

Melihat kejadian itu, sepasang ayah – anak yang sedang bernyanyi pun terdiam. Dawai okulele tidak lagi dipetik. Kemudian diletakkannya alat musik itu diatas meja kaca disamping bangku tempat mereka duduk.

“Tunggu sebentar ya bu ……..”, kata Fulan  sambil berdiri dan bergegas  melangkah masuk rumah. Melihat kejadian itu,  anak perempuannya  mengikuti  masuk kedalam rumah.

Tepat di depan lemari warna coklat di ruang tengah, ia menghentikan langkanya dan langsung membuka laci atas. Kemudian diambilnya sebuah dompet warna coklat dan  membukanya.  Sementara anaknya berdiri diam disampingnya memperhatikan apa yang dilakukan sang ayah.

Tiba tiba, “klinting…………”, sebuah uang koin terjatuh dari dompet yang dipegang Fulan.

Tanpa banyak kata  sang anak langsung  berlari mengejar koin yang jatuh menggelinding tersebut. Dia memungutnya dan segera berlari keluar.

Melihat kejadian itu, Fulan  sama sekali tidak memahami akan  apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya bisa melihat anaknya lari mengejar dan memungut uang koin yang terjatuh. Setelah mendapatkan uang tersebut, dilihat anaknya berlari  keluar rumah.

Fulan hanya mampu mengikuti dan mengamati apa yang diperbuat anaknya dari balik kaca jendela.  Tampak anaknya menghampiri ibu pengemis dan dengan senyum cantiknya ia memberikan uang koin  tersebut.

Saat ibu  pengemis itu  mengucapkan terimakasih, sang anak pun masih dengan senyum cantiknya menjawab, “sama sama….., hati hati di jalan ya ?”.

Sobat blogger, kira kira mengapa  anak  balita  mampu melakukan hal tersebut ?

Jawabannya adalah “Anak Itu Peniru Ulung”, ia hanya menirukan apa yang biasanya  orang tua perbuat jika menghadapi sebuah  situasi.

Anak selalu bersifat  netral,  ia tidak mampu menyimpulkan sebuah perbuatan adalah baik atau buruk. Yang ia tahu hanyalah melihat, mengamati dan menirukan.

Jika orang tua melakukan  perbuatan baik, maka itulah kebenaran. Andaikata orang tua melakukan perbuatan buruk pun, itu juga dianggap sebagai sebuah kebenaran.

Anak bagaikan kertas putih  yang siap dilukis dengan crayon berwarna warni. Kita boleh memilih untuk menjadi pelukis dominan diatas kerta tersebut atau hanya sekedar  menjadi pelukis pelengkap.  Pilihan ada di diri kita masing masing dan semua pilihan  memiliki konsekuensi.

@lambangsarib

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Anak Dan Seorang Pengemis

  1. Betul, Pak Lambang.
    Karena anak selalu/suka bertanya, maka ajarkan kepadanya iman.
    Karena anak selalu meniru (taqlid) maka ajarkan kepadanya akhlak yang baik.

  2. Masya says:

    betul om. Semoga semua orang tua memilih mengajarkan yang benar

  3. lieshadie says:

    Idealnya begitu Pak, tapi dalam prakteknya kadanf2 kok susyeee yaa…hehehe

  4. Ely Meyer says:

    Aku ikut nyimak dulu

  5. mintarsih28 says:

    anak adalah peniru ulung
    sedang ABG pengaduk hati karena apa yg dikatakan ortu inginnya dimentahkan

    • lambangsarib says:

      ABG (perempuan) butuh sosok ayah yang kuat untuk melindunginya. Kadang mereka melawan perkataan orang tua, namun sebenarnya sangat mengharapkan perlindunganmya.

      Itu yang saya baca di buku strong father strong doughter.

  6. easy says:

    idealnya memang anak mengikuti apa yang dilakukan ortunya. tapi tak melulu kenyataan seperti itu. anak pak ustad sekalipun kadang ada yang nakal😀

  7. cumakatakata says:

    Peniru Ulung, saya suka istilahnya Pak, dan juga ceritanya….

    selain itu kulo nyimak mawon Pak…

  8. rurimadani12 says:

    kenapa kebanyakan contoh perbuatan kebaikan menggunakan tokoh Fulan ya pak? hohoho
    anw, bener banget paak. apapun yang saya omongkan biasanya tertiru oleh adek saya:mrgreen:

  9. Pingback: Becoming a Better Writer : Fiction on non Fiction | Lambangsarib's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s