Penyambung Lidah Blogger ?

“Buk inta uit”, kata kiky pagi tadi.  Kontan saja perkataanmu  membuat bapak dan ibumu   terdiam membisu. Sejenak mata kami saling  berpandangan, lalu segera mengalihkan pandangan kepadamu.

Kemudian ibumu bertanya dengan nada yang tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar, “nduk, kamu minta duit….?, duit buat apa nduk ?”

Tanpa ekspresi kamu menjawab, “Kiky inta uit buk, uat eli eh kotak”.  Mendengar jawabanmu tanpa ekspresi, kami pun tanpa dikomando  tersenyum. Lalu ibumu meletakkan segelas teh hangat  yang ada di genggaman tangan kanannya diatas meja. Bergegas ibumu  berdiri, melangkah pelan kearahmu, menggendong dan menciummu sambil tertawa.

Melihat kejadian itu, bapak hanya diam dan tersenyum memandangi tingkah kalian berdua.

“Kiky minta duit buat beli teh kotak ? memangnya mau beli teh kotak dimana ?”, begitu jawab ibumu dengan terus menggendongmu. Kamu tidak menjawab nduk, kamu malah semakin erat memeluk ibumu sambil tertawa.

Nduk, ketahuilah bahwa ini adalah hari pertama dalam hidupmu meminta duit. Terus terang bahwa bapak dan ibumu tidak pernah sekalipun mengajarimu untuk meminta duit. Apalagi untuk membeli teh kotak atau teh botol sosro kesukaanmu.

Memang seringkali ibumu minta dibelikan teh botol atau teh kotak ketika kita jalan jalan ke monas di hari minggu pagi, atau jalan jalan ke pasar Jatinegara dihari sabtu siang. Mungkinkah kamu mengamati gerak gerik ibumu dan kemudian  menirukannya ?

Benar kata  orang bahwa anak akan menirukan apa saja  yang dilihat, didengar dan dirasakan. Sebagai orang tua, bapak  mesti berhati hati dalam berperilaku ya nduk ?

Bapak sadar nduk, tidak  mungkin untuk menyuruhmu memilah mana hal  baik dan mana yang buruk. Bagi anak balita seusiamu, tidak ada hal baik maupun buruk, semuanya netral. Semua hal yang kamu lihat adalah makna kebenaran.

Seorang anak balita yang  sering melihat orang tuanya marah marah dan memaki, maka cacian itu  dimaknainya  sebagai sebuah kebenaran. Suatu saat nanti,  anak tersebut pasti  akan memcaci teman teman sebayanya. Apa yang dilakukan itu  dianggap sebagai hal yang patut dan sebuah kewajaran.

Seorang anak balita yang sering melihat orang tuanya mengucap “assalamualaikum”   saat keluar rumah, maka ucapaan salam itu dimaknai sebagai sebuah kebenaran yang harus dilakukan. Tanpa disuruh pun, kelak anak tersebut pasti akan menirukannya.

Nduk,  bapak  adalah manusia biasa seperti orang lain pada umumnya. Tidak mungkin terbebas  dari salah, dosa dan khilaf. Namun,  ijinkan bapak berharap  agar  kamu menirukan hal hal baik dari kami. Buanglah jauh jauh hal hal buruk dari kami.

Mengenai permintaan uang untuk membeli teh kotak  tadi, bapak jadi teringat akan uang saku pemberian kakekmu pada masa sekolah dulu.

Dulu disaat bapak masih sekolah di SD Jetis I, setiap hari kakekmu memberikan uang saku pada bapak sebanyak  dua keping Rp. 1,- (satu rupiah). Mungkin selama hidupmu nanti kamu tidak akan pernah tahu bagaimana bentuk rupa uang Rp. 1,- yang bergambar burung sikatan.

Pada akhir tahun 70’an, uang logam pecahan  Rp. 1,- itu sudah lumayan banyak. Dengan uang segitu, dulu  sudah bisa jajan  dua buah singkong rebus  atau dua buah es lilin.

Saat bapak bersekolah di SMP N 1 Blora, nominal  uang saku bapak  sudah agak lumayan, yatu sebesar Rp. 50,- (lima puluh perak). Uang logam ini ukurannya  lebih kecil namun lebih berat, bergambar burung cenderawasih.

Yang paling bapak ingat adalah uang tersebut bisa dibelikan dua bungkus permen  “cocorico” kemasan besar, berisi sepuluh butir permen. Atau bisa juga dibelikan dua bungkus  permen “sugus” kemasan yang sama. Dua jenis permen itulah dulu yang paling terkenal di kota tempat bapakmu dibesarkan.

Semasa  sekolah di SMA N 2 Blora, uang saku bapak lebih lumayan lagi, yaitu sebesar Rp. 250,- (dua ratus limapuluh rupiah). Bagaimana menurutmu nduk, agak lumayan kah  ?

Tapi nduk,  uang sebanyak itu  bukan untuk jajan semuanya.  Setiap hari bapak harus membayar  Rp. 100,- untuk biaya angkot pulang pergi dari rumah ke sekolah. Sementara sisanya baru  bisa dipakai untuk  jajan.

Yang bapak ingat untuk sebungkus nasi rames  adalah Rp. 75,-.   Jika  bapak lapar, maka uang jajan itu akan  habis untuk membeli  sebungkus nasi dengan dua buah lauk tempe goreng, serta  segelas es sirup segar.

Nduk, untuk masa masa bapak kuliah tidak usah diceritakan yah ? Kamu kelak  bisa tanya ibumu, pasti dengan senang hati  akan bercerita . Sedikit banyak ibumu  tahu tentang kehidupan  pribadi  bapak semasa kuliah.  Atau kamu boleh juga menanyakan hal ini ke Mbah Darno di Yogyakarta.

Mungkin kamu  bingung dan  bertanya tanya,  kenapa nominal uang saku bapak bertambah dari waktu kewaktu, namun kualitas jajanan kok sama ?

Nduk, inilah  permasalahan sebenarnya  negeri ini, yaitu INFLASI.

Inflasi  bisa diartikan sebagai keadaan dimana  harga-harga barang naik. Ini berkaitan langsung dengan hukum permintaan dan penawaran pada mekanisme pasar.  Inflasi juga bisa dimaknai sebagai  proses penurunan  nilai mata uang.

Nduk, dulu sewaktu bapak seusiamu memang belum ada yang namanya teh kotak atau teh botol. Harga teh botol eceran saat ini Rp. 3,000,-/botol dan harga teh kotak eceran saat ini lebih mahal, yaitu Rp. 4,000,-/pcs.  Mungkin  saja harga teh botol atau teh kotak  saat ini,   seharga  Rp. 1,- di pertengahan tahun 70’an.

Nduk, ketahuilah bahwa esensi inflasi  adalah “pemiskinan” secara kontinyu dan perlahan. Terus terang, bapak sebenarnya tidak suka dengan kondisi seperti ini.

Jika dimasa revolusi Ir. Sukarno terkenal dengan “penyambung lidah rakyat”,  maka kelak bapak berharap kamu bisa berperan sebagai “penyambung lidah blogger” atau “penyambung lidah penulis”. Semoga………………

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

34 Responses to Penyambung Lidah Blogger ?

  1. Larasati says:

    hehe jadi ingat uang 5 rupiah kalau di pekalongan bahasanya mampe😀

  2. peta says:

    nice post pak..🙂

    masalah inflasi, coba kalau pake ‘mata uang sunah’ dinar dirham.. klo dulu barangkali 1 dirham dapet 1 sapi, kedepan jg sama 1 dirham dpet sapi.. -_-

    • lambangsarib says:

      Jika mata uang kita dirubah menajdi “Indonesia dinar” apakah akan serta merta menghilangkan inflasi ?

      • peta says:

        saya belum memahami betul ttg inflasi dan mata uang dinar.. jk menggunakan mata uang dinar, maka tdk hanya berlaku di indonesia tapi jg di negara lain yg menerapkannya.. setidaknya inflasi terminimalisir atau malah tdk ada sama sekali, dibandingkan dg kondisi sekarang dimana uang 1.000 di indonesia kalah dg uang 100 di australia..
        kalau menurut bapak bagaimana..🙂

      • lambangsarib says:

        Kira kira maukah Arab saudi menyamakan nilai dinarnya dengan dinar Indonesia ?

      • peta says:

        klo kondisinya sperti saat ini, kayaknya tidak.. nunggu khilafah islamiyah berdiri dulu kali ya bru bs nerapin sistem ekonomi islam..

      • lambangsarib says:

        Dulu khilafah pernah tegak di jazirah arab, kesultanan2 di Indonesia adalah bagian daripadanya.

        Kira kira kenapa khilafah islamiyah yang dulu runtuh ?

      • peta says:

        khilafah terakhir diruntuhkan pd tahun 1924 di turki.. smpeyan bisa dimulai darisana utk mengetahui sejarah runtuhnya khilafah islam..

      • lambangsarib says:

        Betul, turki runtuh tahun 1924.

        Maksud saya, kenapa bisa runtuh ?

      • peta says:

        bagimana y menjelaskanya, intinya khilafah runtuh bukan krn termakan ‘usia’ tapi disebabkan ‘konspirasi’ oleh kemal attturk dkk.. sampeyan bisa baca Malapetaka Runtuhnya Khilafah karya abdul qadim zallum (al Azhar press), atau para pengkhianat islam karya maryam jameela (PTI Press)..

      • lambangsarib says:

        ok seeep, terimakasih…..

  3. rinibee says:

    Awalnya sederhana.. Semakin ke bawah bahasannya makin berat..😀

    Itu Kiky umur berapa sekarang? Udah jelas bilangnya ya?

  4. Saya ikut mengaminkan do’a nya untuk menjadi penyambung lidah rakyat, blogger juga rakyat.

    Berarti pada hari saat Kiky minta duit, dia sudah belajar mengenai arti perjuangan. Tidak ada di dunia ini yang sifatnya gratis, semuanya butuh perjuangan, termasuk mendapatkan karunia dan rahmat-Nya.

    • lambangsarib says:

      Betul pak, menulis pun membutuhkan perjuangan. Perjuangan untuk menyisihkan waktu, perjuangan untuk melawan malu, bahkan perjuangan untuk menerima segala resiko yang timbul akibat tulisan kita.

      Semoga kita sebagai blogger bisa mengemban amanah.

  5. afan says:

    Sewaktu SD dulu saya sangu nya 100 / 200 Rupiah, dan sekarang kaget ketika keponakan sangunya 5000 rupiah.

    Kaget bukan karena nominalnya tetapi karena jenis jajan makanannya.
    dengan 100 / 200 rupiah saya beli Mi bungkus sama es / minuman. Berbeda dengan sekarang yang di depan sekolah sudah menanti Sosis goreng, roti bakar, siomay/batagor bahkan beraneka mainan DLL weleh-weleh🙂

    Ternyata kesejahteraan hidup anak2 SD makin meningkat lho pak🙂

    • lambangsarib says:

      Saya masih bingung, inflasi ini menyejahterakan atau menyengsarakan. Perlu kajian lebih lanjut untuk membuat sebuah kesimpulan.

      Yang pasti nilai mata uang kita semakin tahun semakin jatuh.

  6. Dewi says:

    kalok masaku SD, es lilin 50 rupiah pak, (kalok gag salah si, pikun)😕

  7. jadi ingat dulu waktu SD uang saku saya 200 rupiah🙂
    luar biasa sekali ya inflasi yang terjadi

  8. jadi inget masa kecil…😀

  9. Aulia says:

    masa saya masih bisa menikmati uang receh 50 rupiah🙂

  10. abi_gilang says:

    “…..esensi inflasi adalah PEMISKINAN yang kontinyu dan perlahan…”
    Semoga pemikiran yang sama disadari oleh kebanyakan pemimpin negeri ini, kalaupun tidak saat ini semoga suatu saat Kiky bisa berbuat lebih baik dimasa depan. Ayo Nduk….semangat!!

  11. genthuk says:

    kalo blogger saja harus disambung lidahnya, Ada masalah apa dengan blogger? Tidak mampu lagi bersuara kah?

  12. lieshadie says:

    Masa sekolahnya sama dengan saya Pak…jadi inget pecahan seringgit yaitu pecahan dari 5,- di bagi 2.. ( kalo gak salah skitar th 1977 )

  13. cumakatakata says:

    waduh mbahas inflasi ya Pak, kulo nyimak mawon..😛

  14. Nilai Tukar says:

    Zaman akhir pemerintahan Soekarno, nilai dollar mencapai Rp150. Di masa mendatang, ketika rupiah diredenominasi, mungkin 1 US Dollar akan senilai 10 IDR.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s