Kewajiban Anak Sekolah Itu Hanya Belajar, Ranking Sama Sekali Tidak Penting

Nduk, ketahuilah bahwa kamu  memiliki seorang paman yang bernama Agung yang kini tinggal di Jawa Timur serta Om Aik yang kini tinggal di Jawa Tengah. Kenapa kedua pamanmu ini begitu penting bapak ceritakan ? Karena kedua pamanmu itu adalah contoh terbaik dalam memaknai sebuah kegagalan.

Kedua pamanmu pernah mengalami masa masa sulit. Mereka berdua pernah terpuruk pada titik nadir terendah dalam pendidikan. Mereka telah membuktikan bahwa kegagalan di sekolah bukanlah  akhir segalanya, apalagi akhir masa depan. Justru mereka membuktikan bahwa kegagalan di sekolah adalah awal kesuksesan.

Om Agung dulu pernah tidak naik  dari kelas 2 ke kelas 3 di salah satu SMA favorit di Blora. Lain lagi dengan Om Aik, dia pernah DO (drop Out) dari IKIP (sekarang UIN) Jakarta. Bapak tidak bisa menceritakan kenapa  Om Agung   sampai tidak naik kelas  dan Om Aik DO dari kuliah. Kelak  kamu bisa bertanya sendiri langsung, mereka berdua pasti  akan dengan senang hati bercerita.

Setahu bapak  mereka berdua adalah anak anak yang cerdas. Mereka berdua umurnya tidak terpaut jauh, sehingga dari kecil  bermain bareng. Kadang kadang berangkat sekolah bareng naik becak, atau boncengan sepeda mini BMX warna hitam. Main dirumah pun mereka bersama.

Om Aik sewaktu kelas 2 SD sudah mampu bercerita tentang petualangan Megaloman yang setiap hari didengarnya dari tape recorder deck merek sony. Sering ia bercerita dan berimajinasi sambil duduk diatas gitar. Dia bilang sedang naik kuda, padahal itu adalah gitar,  yang memang bentuknya mirip pelana kuda.

Sementara Om Agung lebih suka menceritakan  Satria Madangkara dan nenek lampir. Sebuah serial radio Saur Sepuh yang diputar di RRI Gagak rimang setiap pukul 8 malam. Bapak pernah melihat  coretan tangan pamanmu tentang lukisan alur gerak mekanis sederhana.  Dia bilang itu adalah cara kerja sebuah mesin yang dirakit dari sepeda BMX.

Riwayat pendidikan mereka cukup menarik untuk kamu tanyakan kelak, nduk. Mereka seolah  menaiki roller coster. Pernah berada pada titik nadir paling bawah dan pernah pula berada pada titik nadir paling atas. Pernah tidak naik kelas dan pernah Drop out, namun pernah juga menjadi pelajar teladan dan mendapat ranking utama.

Nduk, kini kedua pamanmu sudah sukses pada puncak karirnya. Yang satu sebagai pengusaha jasa marine cargo di Surabaya dan satunya pengusaha onliner di kampung.

Bapak ingin mengatakan kepadamu bahwa “Sekolah Itu Penting”, namun pencapaian nilai dan ranking di sekolah itu yang menurut bapak tidak penting. Kenapa bapak seringkali mengatakan hal  ini ? karena  sekolah pada umumnya  lebih mementingkan pencapaian nilai akademik dibandingkan pencapaian prestasi. Bapak tidak ingin kamu dan teman temanmu kelak menjadi korban sistem pendidikan yang salah kaprah.

Didalam kehidupan nyata, pencapaian nilai akademik tidak berbanding lurus dengan pencapaian karir dan kesuksesan. Banyak orang  yang waktu sekolah mendapat nilai buruk, bahkan tidak naik kelas, namun dikehidupan nyata ia sukses sebagai professional atau  sukses sebagai pengusaha. Kedua pamanmu adalah  contoh nyata.

Sementara anak yang sering  mendapat langganan “ranking” di kelas, seringkali bekerja disebuah instansi yang monoton, tanpa prestasi yang membanggakan. Pada gilirannya, kehidupan mereka pun monoton.

Sekolah  cenderung lebih banyak  memberikan pelajaran menghafal. Pendidikan nalar seperti fisika, kimia dan matematika pun dipaksakan untuk dihafal. Akibatnya anak anak mampu menghafal lusinan rumus, namun tak mampu mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Bahkan anak anak tidak mampu membedakan antara campuran (adukan semen) dan larutan (es teh manis), padahal teorinya mereka hafal diluar kepala.

Pendidikan moral seperti Agama dan  Pancasila pun dipaksakan  dihafal untuk mendapatkan pencapaian nilai akademik yang bagus. Akibatnya adalah, banyak orang pandai mengemukakan dalil dalil agama, namun tak mampu mempraktekkannya dalam kehidupan nyata.

Mungkin saja  korupsi yang merajalela saat ini, disebabkan oleh sistem pendidikan yang kurang tepat.

Yang paling aneh adalah pendidikan menggambar, seni suara dan olah raga diharuskan untuk dihafal. Terasa aneh jika pendidikan olah raga diukur atas dasar penilaian dalam kecakapan menghafal. Pelajar yang hafal ukuran  panjang dan lebar lapangan sepak bola, lebih tinggi nilainya dibanding pelajar yang bermimpi menjadi pesepak bola.

Anak anak yang sering mendapat ranking di sekolah adalah penghafal penghafal brilian. Ia mampu menggunakan otak kirinya dengan sempurna. Namun, sayangnya otak kanan mereka menjadi lemah bahkan tidak berfungsi.  Akibatnya, kreativitas mereka sangat rendah. Padahal dalam iklim  professionalisme  dan bisnis,  yang sangat dibutuhkan adalah kreativitas.

Bapak dulu pernah diceramahi seorang teman, “kalau kamu tidak melanjutkan S2, paling banter kamu hanya jadi kuli”.  Bapak ingat benar kata kata itu nduk. Berpuluh tahun lamanya bapak mengingat kata itu. Berpuluh tahun pula bapak tidak pernah  bertemu lagi dengan sahabat bapak tersebut.

Yang pasti bahwa bapak tidak pernah sekolah dan mendapat gelar  S2 atau S3. Namun bapak mampu membayar mereka  untuk membantu pekerjaan bapak. Berkat bantuan mereka kini bapak bisa bebas belajar, membaca dan menulis setiap hari.  Menuntut ilmu wajib hukumnya, mendapat gelar itu tidak terlalu penting.

Jika kelak kamu sudah  sekolah, bapak tidak akan memaksamu untuk mendapat nilai terbaik. Bapak tidak akan memaksamu untuk mendapat ranking. Jika nilai matematika mu 3,  nilai seni musikmu 8, dan kamu menyukai seni musik, maka bapak akan carikan kamu guru les musik terbaik yang bapak mampu.

Berapapun pencapaian nilai  akademikmu, bapak akan bangga. Berapapun ranking yang kamu dapatkan bapak tetap  akan bangga. Yang bapak sedih itu jika kamu tidak jujur, menyontek adalah salah satunya.

Lebih baik kamu mendapat nilai 2 dengan kejujuran dan tidak nyontek, dibandingkan kamu mendapat nilai 8 tapi menyontek. Bagi bapak, kewajibanmu hanyalah belajar, membaca dan menulis. Tidak usah kamu pusingkan dengan pecapaian nilai akademis, karena menurut bapak itu sama sekali tidak pendting.

— @lambangsarib —

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Motivasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

35 Responses to Kewajiban Anak Sekolah Itu Hanya Belajar, Ranking Sama Sekali Tidak Penting

  1. metamocca says:

    Ahaha… Kok contohnya sama kyk saya Om. Nilai matematika saya waktu sekolah 3, loh.
    #bangga #eh

    Tp, ini buat acuan saya nih Om kalo Keke sama Dede udah mulai sekolah. Daripada terus memaksakan nilai, sy justru Harus dukung bakat dan minat anak.

    ^^ makasi ya Om

  2. Bapak dulu pernah diceramahi seorang teman, “kalau kamu tidak melanjutkan S2, paling banter kamu hanya jadi kuli”

    Sekarang petuah tersebut tidak berlaku lagi. Selama sistem pendidikan di Indonesia belum jelas visinya, selalu berganti setiap pergantian kabinet, maka saya fokuskan anak-anakku belajar ilmu-ilmu entrepreneurship.

  3. Hendro Prasetyo says:

    Bagus. Aq suka dan setuju tulisan ini.

  4. danirachmat says:

    semoga banyak orang tua yang menyadari hal ini ya Mas. Biar banyak anak-anak yang ga terbebani dengan ranking

  5. Hiks…terharu…ktk usia 6 thn bpk sdh meninggal, jd saya belajar sndri terus, seolah enggak ada yg ngarahin krn ibu sibuk jualan utk biaya sekolah kami…pnh rangking 2 & 3 meski smp SLTP. SMK enggak dpt rangking…Alhamdulillah sy ttp bersyukur dgn kondisi saat ini walaupun saya merasa blm mjd siapa-siapa…good luck Bos..

    • lambangsarib says:

      wih… ada pendatang baru nih, kereeen

      Ayo ngeblog mbak…., nulis opo wae sing iso ditulis.

      Kalau tidak pernah dapat ranking, itu artinya ada bakat jadi juragan. Hahaha….

  6. Erit07 says:

    Memang benar pak,yg penting belajar…

  7. easy says:

    kalo menurut aku sih sekolah ya datar2 aja gpp. asalkan bakatnya yang diasah dan fokuskan pengembangan diri sesuai bakat

  8. genthuk says:

    berarti yang penting mencari ilmu dan menggunakan ilmu untuk kebaikan

  9. RBGM says:

    sepakat dengan “Lebih baik kamu mendapat nilai 2 dengan kejujuran dan tidak nyontek, dibandingkan kamu mendapat nilai 8 tapi menyontek”
    hal yang sama kami tekankan pada anak2 di RBGM

  10. utie89 says:

    lebih baik nilai 8 tapi tidak nyontek😆

  11. wied says:

    setuju sekali dengan tulisan bapak. salam kenal dari saya, pak. apakah bisa berdiskusi lebih jauh tentang hal tersebut? terima kasih.

  12. wied says:

    tapi kalau dilihat lagi tentang inti dari bersekolah yang ada di masyarakat bahkan di sekolah itu sendiri, seharusnya mencontek itu boleh, pak. karena pihak sekolah, yang saya tahu, dan juga pihak orang tua lebih menekankan pada nilai yang bagus, bukan menekankan pada pemahaman terhadap apa yang dipelajari itu sendiri. jika mencontek tidak boleh, maka mereka tidak disuguhi dengan hafalan, tetapi praktek. karena praktek nyata itu lebih mencerminkan nilai yang jujur dan murni daripada sekedar multiple choice yang ketika murid lupa tentang jawaban dari sebuah pertanyaan maka ujung-ujungnya hanyalah gambling, menghitung kancing, mengira-ngira, lalu kecewa dan disatru orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s