Coba Tanya Ibumu, Barangkali Disana Ada Jawabnya

Namanya Jamino, bapak lebih senang mengajarimu dengan memanggilnya  Om Jamin, sedikit berbeda dengan ibumu yang lebih suka memanggilnya Om Imin.  Tidak mengapa nduk, janganlah kamu risau. Perbedaan yang bukan prinsip seperti ini adalah rahmat. Paling tidak kamu belajar bahwa  walaupun  bapak dan ibumu sering berbeda pendapat, namun  kami saling mencintai.

Nduk, Om Jamin setiap malam bekerja sebagai keamanan di kantor bapak. Sementara itu di siang hari ia melanjutkan provesi yang sudah digelutinya puluhan tahun, yaitu memulung barang bekas. Dengan gerobak kesayangan, ia berjalan menyusuri jalan dan lorong lorong ibu kota.  Mungkin hampir setiap jengkal jalanan di ibu kota ini pernah dilaluinya dengan berjalan kaki. Luar biasa ya…. ?

Om jamin orangnya berperawakan  kurus, tinggi dan berkulit putih. Mungkin karena ia orang asli sunda nduk, jadi warna kulitnya kelihatan putih bersih. Tidak seperti warna kulitmu yang  hitam, tapi manis kok nduk.

Warna kulitmu sudah pasti mewarisi warna kulit bapak yang legam. Untunglah nduk, wajahmu mewarisi wajah ibumu yang penuh keceriaan.  Seperti kata Om Jono (bapaknya sahabatmu yang bernama zahra atau yang sering dipanggil  gemblog),  bahwa kamu hitam manis.

Nduk, dari pagi habis subuh tadi  kamu bermain main dengan Om Jamin ya ? Kamu suka kan nduk ? Orangnya baik kan ?

Om Jamin sengaja tidak mulung pagi ini, dia habiskan waktunya bermain  bersamamu. Kamu digendongnya kesana kemari, nampaknya kamu cukup bahagia  nduk.

Kamu digendong dan diajak main  ke rumah Pak Budi, tetangga kita yang rumahnya paling gedhe di kompleks ini. Dari kejauhan bapak mengamatimu, tampaknya kamu sangat senang bermain ayunan warna pink. Sambil sesekali  menggoda imo.

Imo itu nama yang diberikan pak Budi buat  “guk guk” kesayangannya.  Hewan peliharaan ini berwarna putih belang hitam, seperti ras kintamani yang berasal dari Bali. Dibalik  jerusi besi,  imo  hanya berteriak “guk… guk… guk…”.  Sementara kamu terus menggodanya dari luar pintu garasi.

Bapak senang nduk, kamu tidak takut pada seekor anjing. Mungkin karena bapak dan ibumu tidak pernah menakut nakuti kamu yah ? Jangan sampai kamu meniru bapak  yang takut pada seekor tikus. Boleh jadi itu karena dahulu nenekmu sering menakut nakuti bapak sewaktu kecil.

Saat melihatmu bersama om Jamin menggoda Imo, bapak jadi teringat sebuah kisah yang pernah diceritakan Ustadz Rifki. Sewaktu bapak masih  marbot di sebuah  masjid sebelah pesantrennya di daerah Kecamatan Temon,  Wates, Jawa Tengah.   Sebuah kisah yang diriwayatkan dari  Abu hurairah,  katanya Rasulullah SAW pernah bercerita :

Pada suatu ketika ada seorang lelaki sedang berjalan melalui sebuah jalan, lalu dia merasa sangat kehausan. Kebetulan dia turun ke sumur itu untuk minum. Setelah keluar dari sumur, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah kerana kehausan.

Orang itu berkata dalam hatinya, “Alangkah hausnya anjing itu, seperti yang baru kualami”. Lalu dia turun kembali ke sumur, dicedoknya air dengan sepatu, dibawanya ke atas dan diminumkannya ke anjing itu. Maka Allah berterima kasih kepada lelaki itu dengan diterima amalnya serta diampuni dosa dosanya”

Kemudian para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah  dapat pahalakah kami menyayangi hewan ini ?”. Kemudian  Rasulullah SAW menjawab,  “Menyayangi setiap makhluk hidup (tumbuhan dan hewan) itu  berpahala”.

Pada hadis Sahih Muslim jilid 4 no hadis 2099 yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bercerita,  “Pada suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur. Anjing itu hampir mati kehausan. Tiba-tiba dia terlihat oleh seorang wanita pelacur bangsa bani Israil. Maka dibukanya sepatu botnya, kemudian dicedoknya air dengan sepatunya, lalu diberinya minum anjing yang hampir mati itu . maka Allah swt mengampuni segala dosa wanita itu (dengan asbab amalnya beri minum anjing itu)”

Itulah cerita yang pernah disampaikan ke bapak pagi pagi selepas sholat subuh.  Mungkin ada kurang dan lebihnya, maafkan bapak. Ingatan bapak memang jelek dan kemampuannya  semakin hari semakin menurun. Kelak jika kamu mendengar sesuatu yang bagus dan menurutmu bermanfaat, tulislah itu. Teladani para sahabat Nabi yang menuliskannya buat kita.

Nduk, dalam setiap kehidupan yang kita jalani selalu akan ada makna. Kelak, ambillah makna kehidupan  dari seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Karena Allah tidak menciptakan sesuatu pun kecuali ada manfaatnya.  Baik itu manfaat yang langsung bisa kita rasakan, atau makna tidak langsung yang tersirat.

Om Jamin itu walaupun statusnya di perusahaan adalah karyawan, namun diluar hirarki perusahaan ia adalah sahabat bapak. Ia berumur beberapa tahun lebih tua dari bapak. Artinya, ia lebih banyak memakan asam garam kehidupan dibanding bapak.

Oleh sebab itu nduk, belajarlah dari Om Jamin. Walaupun sebagai penjaga kantor dimalam hari dan pemulung di siang hari, pasti dia memiliki banyak ilmu kehidupan yang belum bapak punyai.

Profesinya sebangai pemulung yang sering dilecehkan orang telah menempanya menjadi pribadi yang unggulan. Pribadi pantang menyerah oleh keadaan, serta  pribadi yang penyabar.

Nduk……

Kebetulan tadi malam  ada seorang tokoh politik berinisial LHI yang ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), karena tertangkap tangan menerima suap. Dalam banyak literatur, suap itu termasuk dalam kategori  korupsi.  Namun di tempat kakekmu di kampung, pelaku kejahatan ini disebut Maling. Entah mengapa nduk, bapak lebih suka menyebutnya Maling dibanding koruptor.  Mungkin karena kebiasaan saja semenjak kecil.

LHI  adalah ketua partai Islam terbesar di negeri ini,  yaitu Partai Keadilan Sejahtera. Secara pribadi bapak tidak mengenal siapa LHI itu. Dari busana yang dikenakannya, dari gaya bahasa yang sering terucap  dan dari atribut kesehariannya, sepertinya ia seorang ustadz.

Nduk, terus terang bapak menjadi bingung dengan kehidupan di dunia ini. Ketika ada orang jujur seperti Om Jamin, namun berprofesi sebagai pemulung, banyak orang melecehkannya. Namun, disaat bertemu orang yang terlihat seperti ustadz, walaupun ia maling, masyarakat seringkali memujanya.

Nduk, maaf….. dalam hal ini bapak tidak bisa menguraikannya. Semoga kamu bisa menemukan jawabnya kelak di kemudian hari. Coba tanyakan ke ibumu, “apa makna rumput yang bergoyang”. Barangkali  ibumu ada jawabnya.

— @lambangsarib —

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

39 Responses to Coba Tanya Ibumu, Barangkali Disana Ada Jawabnya

  1. nduk, apapun gunjang-ganjing negeri ini, fokuslah dengan hasil, berproseslah untuk menciptakan karya-karya hebat yang bisa jadi itu akan mengubah dunia. Pemandangan di luar yang riuh itu tak lebih dari mereka yang saling berprasangka buruk. Cukup amati saja, tidak perlu larut dalam prasangka-prasangka buruk yang dijual media. Setelah puas mengamati, fokuslah kembali dengan karyamu.

  2. mintarsih28 says:

    ah hidu layaknya panggung sandiwara cerita memang mudah berubah.

    apapun berubahan itu semoga mengarifkan dan mengunggulkan pribadi kita.

    maka islam memberi referensi satu idola saja, Rasulullah sebagai panutan kita.

  3. narno3 says:

    masih banyak orang yang salah dalam menilai kehidupan ini ya pak…?

  4. katacamar says:

    hati-hati beropini mas lambang…🙂

    • lambangsarib says:

      Minta saran dooong.

      Saya sangat berterimakasih jika tulisan dikoreksi, bagaimanapun pahitnya sebuah koreksi, saya tidak akan marah dan malah berterimakasih.

      Terus terang saya masih awam membedakan macam2 tulisan, ada fiksi, opini, artikel, dll. Bisa minta tolong dibantu ?

      Mungkin kata kata ini ada benarnya —> “Ajarkan sastra pada anak-anak, agar anak yang pengecut menjadi pemberani (Umar ibn Khattab)”. Karena sekarang saya jadi berani menulis apapun yang saya tidak suka.

      Sekali lagi, minta tolong dikoreksi yah…

      • katacamar says:

        sebenarnya saya ingin menulis begini mas lambang, dunia media kita sudah tidak netral lagi, dulu ya sempat. media kita adlah dunia yang penuh keberpihakan, mereka tidak peduli dengan benar dan salah, suatu peristiwa hanya muncul ketika itu baik buat media buat mereka, makanya kalau kita pandai mencermati maka akan terlihat ketika media A memberitakan simerah yang tidak disukainya dengan kalimat bongkar, singkirkan, smemntara media B dia tidak suka dengan si kuning maka sekecil apapun kesalahan sikuning akan diblowup diputar ulang kalau perlu 10x atau lebih sementara media c dengan slogan perbaikannya karena membenci siputih maka kritisan kesalahannya hanya tertuju kepada siputih dan akan menyuarakan singkirkan ganti demikian media abc dan seterusnya silahkan mas sarib sendiri yang menilai. media itu cepat lupa seperti juga kita, kalau kita ndak perlu pasti dilupakan, walaupun kemaslahatan menuntut untuk diberitakan.
        sehingga kita ketika mengutip kalimat keluaran media paling tidak kita sudah menimbang apakah kita menambah fitnah atau bisa memperterang perkara, mudah-mudahan kita bisa memilih kalau tidak bisa memperterang perkara, paling tidak, kita tidak akan menambahi fitnah….
        kalau kenyataan kemudian menampakkan kebenarannya bukankah Allah ndak pernah tidur? komentare dowoooooo……..😀 (#sebuahopini) boleh ndak setuju juga c
        #senang mendengar salam cinta mas lambang

      • lambangsarib says:

        wah…. komentare luar biasa, seneng mendengarnya.

        Media saat ini memang tidak netral dan sarat kepentingan, memang sudah dari sononya seperti itu. Kalau kita lihat tivi merah, sepertinya kembali ke era orde baru dengan berita golkar yang gegap gempita.

        Kalau kita melihat tivi biru, maka partai anu mendominasi berita dengan menghantam lawan politiknya.

        Yah…. itulah kenyataannya.

        Untunglah saat ini ada media twitter, yang bisa memberikan sedikit pencerahan. Media ini ternyata mampu menjadi penyeimbang berita2 mainstream.

        Bener, bahwa Gusti Allah ora sare. Makanya saya menulis apa saja.

  5. Ely Meyer says:

    Bisa tanya juga ke om Ebiet G Ade pak arti rumput yang bergoyang🙂

  6. Larasati says:

    luar biasa si bapak ini….Kiky, bersyukurlah karena mempunyai bapak seperti bapakmu ini, nduk…

  7. Heri Purnomo says:

    baru denger pak ada ustadz maling..hehehe, kalo ustadz jadi politisi terus korupsi pernah denger sih..
    smg si nduk nanti tahu apa artinya dunia yang sudah kebalik-balik ini.
    salam buat genduknya..🙂 smg jadi anak sholehah kelak di kemudian hari.

    • lambangsarib says:

      Jika bersalah semoga Allah menghukumnya, jika benar semoga Allah memuliakannya.

      Saya dengar beliau sudah mundur dari jabatan tertinggi partai. Sebuah sikap yg layak diteladani di apresiasi.

      Menurut saya, mencintai adalah mengkritisi.

  8. danirachmat says:

    Saya bingung mau komentar apa Mas. Bingung lihat mana yang bisa dipercaya beritanya

  9. nengwie says:

    Semalam sambil menemani kang mas makan malam, kang mas cerita tentang kehebohan di tanah air, terus saya bilang…”ndak suka yg namanya dunia politik, ko banyak intrik-intriknya…dalam pandangan saya mah, politik itu seperti menghalalkan berbagai cara untuk mencapai tujuan”

    “hidup, berjalan lurus” itu memang sulit, seperti kita menggoreskan pena membentuk garis lurus tanpa bantuan penggaris..hasilnya pasti ada bengkok2….pedoman kita sudah jelas, agama Islam.. Rasul dan para sahabatnya, layak diteladani.
    *yang sedang belajar “luruuus”🙂

    Cape ngikutin berita2 heboh di tanah air itu, mendingan ngemil rujak deehh😀

  10. Ilham says:

    dikelilingi karakter2 hebat moga2 nanti kiky juga gak kalah tangguh dan sukses.

  11. Dyah Sujiati says:

    Namun, disaat bertemu orang yang terlihat seperti ustadz, walaupun ia maling, masyarakat seringkali memujanya –> Kalau ustadz masih bisa diapologi, karena masih pernah memberi kemanfaatan. Lha kalau artis yang kena narkoba itu? Udah jelas-jelas hasil tes urin, masyarakat masih bilang itu dijebak? Lha?
    #Eh? kok jadi membahas artis sih? :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s