Uang Halal Itu Berkah, Uang Haram Itu Laknat

Banjir di Jakarta sudah reda, paling tidak untuk daerah bantaran kali ciliwung. Debit air sungai  berangsur normal bahkan cenderung turun, muka air sudah  tidak lagi menunjukkan tanda tanda mau meluap. Ribuan pengungsi  itu sudah kembali kerumahnya  masing masing untuk bersih bersih dan melanjutkan kehidupan.

Relawan banjir yang gagah itu sudah tidak tampak lagi, hanya tinggal beberapa posko mereka yang terlihat kosong. Penggalangan bantuan bencana banjir di media sosial pun sudah tidak senyaring beberapa hari yang lalu.

Mungkin di televisi, radio dan berita online masih ada beberapa  berita banjir. Daerah yang mungkin masih tergenang air itu diantaran adalah daerah pesisir. Mungkin saja banjir di daerah tersebut disebabkan oleh  rob atau muka air laut yang naik. Sehingga air dari sungai tidak bisa langsung kelaut.

Nduk, kita  harus bersyukur, bahwa bencana yang tidak kita harapkan itu telah berlalu. Dan akhirnya om mu datang ke Jakarta setelah tertunda beberapa hari karena banjir. Kemarin pagi bapak menjemputnya di Stasiun Jatinegara.

Wow…. ketemu om Dody  kamu tampak gembira sekali nduk. Apalagi oleh oleh yang dibawanya adalah telor asin khas brebes yang sangat terkenal. Kamu suka telor asin kan  duk ?

Beberapa butir telor kamu lahap bagian putihnya, tidak bersisa. Sementara bagian inti yang berwarna kuning,  bapak dan ibumu yang menghabisnkan. Entahlah mengapa  kamu sama sekali tidak suka. Mungkin karena asin ya nduk ?

Kamu suka sekali  digendong  om Dody kenapa ndok ? Apakah kamu kangen atau kamu suka aromanya  ? Atau jangan jangan kamu suka mainan rokok yang selalu dibawa om kemanapun ia pergi  ?

Untuk kali ini kamu bapak ijinkan  dekat dengan perokok aktif nduk. Untuk kali ini bapak dispensasikan. Tapi tolong diminimalisir menghirup asap rokok ya nduk, bapak takut paru parumu yang lemah itu sakit. Eh…, tapi jangan bilang ibumu kalau bapak mengijinkannya yah ? nanti kita berdua bisa didamprat habis.

Nduk, bapak dan om Dody kemarin jalan ke pasar mobil  Kemayoran. Kami berdua berboncengan sepeda motor supra fit warna biru. Namun sedikit naas nduk, ternyata ditengah jalan kami baru sadar bahwa karburator sepeda motor rusak. Bensin menetes dari selang pembuangan tidak berhenti. Bapak cek isi bensinnya, ternyata sudah kurang setengah.

Untunglah di pasar mobil kemayoran ada bengkel. Tapi itu bukan bengkel sepeda motor nduk, melainkan sebuah bengkel mobil. Bapak utarakan maksud kedatangan bapak, yaitu minta tolong service karburator. Montir itu berkata kalau itu bukan keahliannya, namun tetap akan mencoba membantu. Alhamdulillah,…. semua mesti disukuri nduk.

Dalam waktu kurang dari satu jam, proses bongkar pasang karburator selesai. Suara mesin jadi enak seperti semula. Tidak ada suara  pincang mesin karena perapian tidak normal  dan tidak ada lagi suara  mbrebet  karena suplay bensin terhambat.

Kini bapak pun tenang dan siap melanjutkan perjalanan. Sebelum meninggalkan tempat service  bapak  bertanya, “mang maaf, ini ongkosnya berapa ?”

Wow….. bapak tertegun dan kaget mendengar jawabannya nduk. Dari dialeknya bapak tahu bahwa ia adalah orang sunda. Dia mengatakan, “terserah aja kang, saya mah nggak tahu. Terserah akang aja berapa mau kasih, karena saya hanya sekedar  membantu”.

Bagaimana nduk menurutmu orang ini  ? luar biasa bukan  kan  ? kita diminta menghargai sendiri jasa yang telah ia berikan. Terus terang  bapak menjadi bingung sendiri.

Akhirnya bapak  berikan uang Rp. 25,000 sambil berkata, “ini mang, apa sudah  cukup ?”. Dengan tersenyum ia ambil uang itu. Tidak dihitung lagi dan langsung dimasukkan saku celananya yang dekit. Matanya menatap tajam tapi penuh kedamaian. Terucap lembut dari mulutnya, “terimakasih kang, atur nuhun, cukup kang… sudah cukup”. Dan bapak meninggalkan bengkel itu dengan sejuta pertanyaan di dalam hati. Yang semuanya tidak ada jawabannya.

Bapak belajar dari bapak itu tentang banyak hal nduk…..

Montir  tadi seharusnya bisa memeras bapak dengan meminta  berapapun uang yang ia mau. Kalau sampai hal itu  terjadi, maka tidak ada pilihan lain selain memenuhinya.  Namun ternyata montir itu sungguh berbeda, montir itu sungguh luar biasa.

Ia tidak mau menghargai dirinya sendiri. Ia tidak mau memaksa orang lain untuk menghargai kemampuannya dengan sejumlah uang. Ia memaksa orang lain untuk mengambil keputusannya sendiri.

Nduk, kelak jika kamu dewasa, bergaulah dengan orang orang seperti montir itu. Mungkin pakaiannya dekil dan kotor, mungkin tempat kerjanya hanya nyempil di ujung gang yang sempit, mungkin pendidikan formalnya tidak tinggi, namun hatinya sungguh lapang.  Bersahabatlah dengan orang orang yang memegang teguh komitmen dan kejujuran.  Jika sahabat sahabatmu adalah orang jujur, maka perilakumu pun akan mengikutinya.

Setelah menyelesaikan sedikit urusan, akhirnya bapak dan om Dody pulang menjelang sore.

Dijalan kami di setop seorang polisi lalu lintas nduk. Ia mencegat bapak karena katanya telah  melanggar peraturan lalu lintas. Nduk ketahuilah bahwa bapak tidak mau melanggar peraturan lalu lintas. Melanggar peraturan yang disepakati bersama itu ciri orang munafik. Walaupun hanya sebuah marka lalu lintas,  walaupun hanya menerobos lampu merah, walaupun  hanya menerobos sparator bus way,  jika  dengan sengaja melanggarnya itu adalah sebuah kejahatan.

Kata polisi tersebut, kesalahan bapak adalah masuk  ke jalur arah jembatan layang. “Itu adalah larangan”, katanya.  Padahal bapak yakin kalau disitu tidak ada larangan untuk belok kanan. Setelah berdebat panjang, akhirnya polisi itu menunjukkan sebuah marka yang ada di balik sebuah pohon besar.

“Ah pak…… marka itu ada di balik sebuah  pohon besar,  pengendara sepeda motor mana  tahu kalau ada larangan itu ?  Tanda itu tidak akan bisa dilihat oleh siapa pun, khususnya yang mengendarai sepeda  motor !”. Namun argumen itu tidak mempan nduk, dan tetap saja bapak dianggap bersalah.

Akhirnya bapan minta untuk ditilang. Dan anehnya, polisi ini tidak mau menilang bapak. Ia malah meminta bapak sejumlah uang yang luar biasa banyak, paling tidak menurut ukuran bapak.

Bapak bersikeras tidak mau memberinya sejumlah uang. Tapi polisi muda itu memaksa  bapak untuk menyerahkan sejumlah uang. Akhirnya bapak mengalah  dan menyerahkan  uang sebesar  Rp. 25,000. Dia menerima dengan cemberut nduk, dan bapak menyerahkannya  dengan perasaan dongkol.

Nduk, kelak jika kamu sudah bisa mengendarai sepeda motor sendiri, tolong jangan sekali kali melanggar peraturan lalu lintas. Patuhi semua peraturan yang ada dan jangan menganggap remeh marka. Melanggar salah satu marka jalan itu berarti kamu melegalkan sebuah kebohongan. Melanggar salah satu marka jalan itu berarti kamu berlaku curang dan tidak jujur.

Jika teman temanmu berjama’ah melanggarnya, biarkan saja. Jangan ikuti mereka. Bapak sangat bangga jika kamu bisa memegang teguh kejujuran.

Nduk, adakah bedanya antara montir dan  polisis yang barusan bapak ceritakan ?

Keduanya mendapatkan uang yang sama Rp. 25,000. Bedanya adalah,  bapak memberikan uang  pada montir dengan do’a didalam hati. Sementara bapak berikan uang yang sama pada polisi tersebut dengan sumpah serapah dalam hati.

Keduanya mendapatkan uang yang sama  Rp, 25,000. Bedanya adalah montir tadi mendapatkan dengan cara halal dan diridlo’i Tuhan. Sementara sang polisi mendapatkannya dengan cara haram.

Keduanya mendapatkan uang yang sama Rp. 25,000. Bedanya adalah montir tadi mendapatkannya dengan bekerja dan berkarya. Apapun jenis pekerjaannya, pasti akan  banyak orang yang mengapresiasinya. Sementara polisi itu mendapatkannya dengan memeras. Apapun jenis pekerjaannya, pemeras selalu menjadi sampah masyarakat.

Nduk, kamu kelak akan menjadi saksi bahwa uang haram itu sama sekali tidak berkah. Uang haram laksana fatamorgana ditengan padang pasir. Uang haram itu bukan memberikan kedamaian melainkan laknat.

— @lambangsarib —

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Uang Halal Itu Berkah, Uang Haram Itu Laknat

  1. nyonyasepatu says:

    Aghhhhh polisi, persis lintah deh mas taunya ngambil doang

  2. Semoga dibukakan pintu rezeki lebar-lebar pada pak montir itu, dan pak polisi yang makan uang haram itu semoga dibukakan pintu hidayah-Nya, menyadari kesalahannya dengan banyak beramal. aamiin.

    Yang Om Dody itu dibilangi baik-baik saja, pak, agar bisa pengertian, kasihan Kiky.

  3. genthuk says:

    Mantab bin Joss banget

  4. Heri Purnomo says:

    mempertahankan kejujuran, berat namun indah dan menenteramkan.
    salam🙂

  5. chris13jkt says:

    Semakin langka saja orang seperti pak montir itu, tetapi yang seperti pak polisi itu semakin banyak dan masuk ke segala sektor 😦

  6. ayanapunya says:

    baca ini serasa dapat pencerahan di saat hati lagi gundah karena masalah penghasilan. hehe

  7. afan says:

    melihat polisi seperti itu buat saya malah kasihan, untuk menghidupi diri sendiri pun harus dengan cara seperti itu.
    Apakah gaya hidup polisi itu terlalu tinggi sehingga pendapatannya tidak cukup?
    Atau gajinya memang tidak cukup walaupun untuk kehidupan yang sederhana?

  8. ryan says:

    Wah, ke PasMob kemarin gak bilang2. Saya kantornya di seberangnya. hehehe.

    Syukurlah masih ada orang baik seperti montir itu mas. Moga beliau diberikan rejeki berlimpah.

    Untuk polisi itu, memang tidak semua polisi seperti itu. Tapi pengalaman saya dengan kakak, di daerah Menteng. Pas belok kiri. Diberhentikan karena tidak boleh belok kiri langsung. Harus menunggu lampu hijau. Yang jadi masalah adalah: lampunya itu di balik pohon. Dan polisi itu kekeh seperti polisi yang menilang mas.
    Terkadang bingung dengan polisi (baca: polisi tidak baik), aturan yang baik malah sengaja ‘disembunyikan’ agar mereka mendapatkan sesuatu.

  9. Ikakoentjoro says:

    Uang haram bikin penyakit pak😀

  10. utie89 says:

    1. aku juga suka telor asin loh om, kalau mau kirim2 ke rumah, boleh banget, hehehe..😛
    2. kenapa harus de kiky yang harus meminimalisir asap rokok om, emangnya dede bisa mengendalikannya? harusnya anjurannya ditujukan ke pengedar asap rokok doonkkk…🙂
    3. emang bener-bener dah sama yang namanya polisi tuh, ckckck.. makin ada yang benci polisi nih kayaknya *lirik metamocca*

  11. Wong Cilik says:

    kejujuran menjadi sesuatu yang semakin langka …

  12. Seorang montir yang rendah hati dan seorang polisi yang . . . entahlah.

    Mungkin sudah jarang untuk saat ini ada seorang montir yg ditanya harga tetapi menjawab seperti montir yg memperbaiki motor seperti kisah diatas🙂

  13. metamocca says:

    Hhh…. Lagi-lagi polisi (¬_¬”)

    Cara nulisnya keren, Om. Aq sampe terharu waktu baca ttg montir itu.🙂 jarang ya orang yg dengan tulus membantu😀

  14. katacamar says:

    pagi-pagi baca posting ini, sambil berharap makin banyak polisi dan orang2 baik dinegeri ini, kita sudah lama rindu keberkahan di negeri ini,..
    makasih postingan kereen ini🙂

  15. bowo says:

    Buku Uang-Uang Haram Dalam Demokrasi
    http://www.mediafire.com/download/kqgrm3tb6q5lkej/Buku+Uang-Uang+Haram+Dalam+Demokrasi+%5BDOC%5D.doc
    Semoga bermanfaat sebesar-besarnya.
    Jazakallah Khoiran Katsira.

  16. Usaha Bisnis says:

    info ini penting agar banyak orang yang tau segala seluk beluknya dan agar orang paham menjalankannya bagaimana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s