Tidak Menonton Televisi, Mendengarkan Siaran Radio Pun Jadi

Setelah tidak menikmati acara  televisi selama beberapa hari, akhirnya saya pun  mencari alternatif untuk mendapatkan akses  informasi. Diantara beberapa media alternatif tersebut twitter menjadi rujukan pertama untuk mendapatkan berita online. Untuk mendapatkan informasi media cetak, dari dulu hingga kini pilihannya tetap, yaitu salah satu koran nasional  yang terbit setiap hari.

Muncul sebuah pertanyaan,  perlukah mendapatkan informasi media elektronik ? Pertanyaan pun disusul dengan pertanyaan lanjutan, haruskah mendapatkan informasi elektronik ? toh sudah mendapatkan informasi dari  media cetak dan media online.

Setelah dipikir pikir dan ditimbang, ternyata media elektronik perlu juga. Fungsinya tidak lain adalah untuk melengkapi kedua media informasi tersebut.

Akhirnya pilihan pun jatuh pada “Radio”. Beberapa hari yang lalu ketika  korek korek isi gudang, saya menemukan sebuah radio transistor yang “antik dan bersejarah”.

radio transistorKata kata “antik” disini memang debatable. Karena berkeyakinan bahwa tidak semua orang memiliki radio ini maka saya sebut saja barang  antik.

Radio transistor ini masih berfungsi dengan baik  dan merupakan   warisan dari  nenek. Kalau tidak salah dibeli di Pasar Johar Semarang pada tahun 1980, harganya sudah tidak ingat lagi. Radio merek National ini menggunakan daya  listrik  dua buah baterai tipe LR 20, size D + 1,5 volt. Hanya memiliki dua Band gelombang yaitu 530 – 1600 SW (short wave) dan 49 -130  MW (medium wave).

Eh iya…..,  sobat blogger ada yang memiliki  radio yang  lebih tua dari ini  ?

Menurut saya, radio adalah  salah satu media elektronik yang cukup menarik. Karena untuk menikmati siaran radio dibutuhkan “imajinasi”. Tanpanya, tidak mungkin bisa merasakan nikmatnya mendengarkan siaran radio.

Sebenarnya radio lebih mendidik dibandingkan siaran televisi. Karena selain harus imajinatif,  pendengar diharuskan untuk selalu berfikir. Otak tidak boleh berhenti bekerja untuk menyerap informasi yang diberitakan.

Beberapa sobat blogger menulis di dalam blognya bahwa “membaca novel” lebih asyik, lebih imajinatif dan lebih eksploratif  dibanding melihat “novel yang difilmkan”. Saya fikir radio pun tidak jauh berbeda dari sebuah novel.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

45 Responses to Tidak Menonton Televisi, Mendengarkan Siaran Radio Pun Jadi

  1. Titik Asa says:

    Jadi inget radio transistor peninggalan alm kakek saya di Jampang Kidul. Saya tempel fotonya di posting ini… http://sisihidupku.wordpress.com/2012/11/28/tentang-hiburan/
    Salam,

  2. Saya kalau masak selalu stel radio, selain mendengar musik2 yg lagi trend sekaligus mendengarkan berita2 penting yg terjadi hari itu🙂.

  3. Ikakoentjoro says:

    Saya punya pak. percis seperti itu. Tapi barusan kobong karena karyawan saya nyetelnya over kenceng🙂

  4. Dulu orangtua saya punya radio seperti itu, tapi sayangnya sudah rusak.
    Twitter saya baru bikin 2 hari yg lalu, sebelumnya gak tertarik banget, mari saling mem-follow🙂

    • lambangsarib says:

      Twitter bagus pak, karena sebenarnya fungsi dia adalah micro blogging. Penyebar informasi lebih dominan dibandingkan pertemanannya. Twitter sering disebut sebagai Guraru (guru era baru).

      Dengan adanya twitter, media massa mainstream tidak bisa lagi mengontrol dan menentukan opini. Saat ini opini lebih banyak ditentukan oleh kicauan di twitter. Jika sebuah media berseberangan dengan trending, maka media tersebut pasti akan ditinggalkan.

      Contoh yang paling anyar, tentang kecelakaan mobil anaknya HR. beberapa menit setelah kejadian, berita di twitter sudah ramai, sebelum televisi dan radio memberitakan. Bahkan dari kicauan rekannya kita bisa tahu kecepatan mobil BMW itu melebihi 150 km/jam.

      Ketika era televisi dan radio mencapai masa keemasan, kita harus “mencari informasi” dari stasiun tv atau radio yang ada. Kini di era twitter, kita harus “menyaring informasi” yang masuk.

      Selamat bergabung di twitter, saya sudah follow akun bapak juga.

  5. genthuk says:

    Radio, saya juga doyan pak.

  6. chris13jkt says:

    Kalau dalam perjalanan aku pasti dengerin radio. Selain buat hiburan juga update berita lokal 🙂

  7. danirachmat says:

    jadi inget radio di rumah punya Ibu. Sama merek dan modelnya Mas…😀

  8. chrismanaby says:

    Radionya mak nyuss om lambang, bapak saya dirumah juga punya radio kyk gitu, tpi kelihatannya lebih tua’an radionya om lambang deh *Sotoy😀

  9. Ely Meyer says:

    wow … radionya pak …. suka melihat masih ada yang punya radio lama, kami juga msh punya, radio yg di dapur kami, pagi , siang, sore , malam, selalu menggema … menemani saya saat beraktivitas di dapur, dari berita dan musik klassik terus menerus, krn channel itu yg paling kami suka,

    • lambangsarib says:

      Di jerman apa radio masih tempat di hati masyarakat ? tidak kalah dengan siaran televisi ?

      • Ely Meyer says:

        saya kira radio tetap dibutuhkan masyarakat sini pak, kalau sedang bepergian itu radio jadi salah satu alat penting jika di suatu tempat terjadi kecelakaan, atau informasi lainnya misalnya cuaca, kami tak bisa lepas dari radio, stasiun radio di sini juga msh banyak yg aktif , ada juga acara khusus ttg penghargaan dari stasiun radio

      • lambangsarib says:

        Agak berbeda yah ? di Indonesia domisnasi radio digeser oleh televisi. Bahkan banyak orang memasang televisi di mobil. Aneh kan ???

        Padahal kalau mau jujur, radio manfaatnya lebih banyak.

      • Ely Meyer says:

        masang televisi di mobil ???? sungguh aneh pak mnrtku, aku malah baru tahu kalau di sana ada yg masang TV di mobil

      • lambangsarib says:

        Disini (jakarta) banyak sekali mobil memiliki televisi. Bahkan ada beberapa teman menganggap itu sebagai sebuah status sosial dan trend.

        Saya juga heran, kenapa bisa seperti itu, Bahaya kan ?

  10. nyonyasepatu says:

    Radionya keren bgt, pernah lihat di mirota batik mereka jual radio itu n mahal bgt sekarang

  11. nyonyasepatu says:

    Berasa dapat raport dari sekolah ya mba

  12. nyonyasepatu says:

    Anteng bgt tidurnyaaaaa di foto2 itu

  13. mintarsih28 says:

    sejak dulu hiburan yg aku suka memang membaca. radio d tv sambil lalu.

    • lambangsarib says:

      Saya jadi ingat kata kata sahabat saya, “penulis yang bagus biasanya rakus membaca” dan “menulis itu diawali membaca, bukan menulis itu sendiri”.

      Saya menyimpulkan (mohon dikoreksi kalau salah), blog blog yang tulisannya bagus, tertata rapi, dalam dan kaya cenderung ditulis orang orang yang gemar membaca,

  14. abi_gilang says:

    Pak radionya persis sama dengan yang pernah saya punya dulu (tapi sayang sekarang nggak tahu dimana rimbanya). Saya belinya pake uang sendiri (waktu itu masih sekolah SD) upah dari kuli jadi pemecah batu bareng kakak saya.

    • lambangsarib says:

      Aduh sayang yah…… Kenangan teramat mahal yang hilang.

      Luar biasa perjuangannya pak…., saya malah belum pernah memiliki pengalaman seperti itu. Sebuah perjuangan masa lalu itu terasa manis untuk dikenang yah ?

  15. Pingback: “Di Balik Frekuensi”, Tentang Manipulasi Media di Indonesia « Fight For Freedom

  16. debapirez says:

    saya pun msh suka mendengarkan radio RRI🙂

  17. Kimunk says:

    Sy koleksi radio2 antik thn 50an kurang lebih 200bh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s