Ammar Bugis, “Bukan Berkebutuhan Khusus” Melainkan “Berkemampuan Khusus”

Tadi pagi saya beserta istri dan anak sengaja datang pagi pagi ke Masjid Istiqlal untuk sebuah  acara pengajian rutin bulanan yang menghadirkan Ustadz Yusuf Mansyur. Tulisan ini  malam malam saya upload,  karena teringat dua orang sahabat blogger  mezzaluna85 dan abi_gilang. Semoga tuliasan ini berkenan.

Saya tiba di masjid  sekitar pukul 8 pagi. Acara ternyata baru akan  dimulai jam 8:30 pagi. Untunglah mengajak anak, jadi kesempatan itu digunakan untuk bermain main sepuasnya. Kejar kejaran di lantai dua masjid yang cukup luas. Bermain petak unpet diantara gulungan karpet yang menumpuk. Bahkan kentongan dan bedug masjid yang besar itu kami gunakan untuk bermain main. Duh, bahagianya pagi ini ………

Kembali ke soal pengajiannya oleh Ustadz Yuauf Mansyur.

Sebenarnya tulisan ini malah sama sekali tidak menyinggung isi ceramah sang ustadz. Karena saya fikir sudah sering disiarkan di televisi nasional maupun DaQu TV. Bahkan buku buku karya beliau juga sangat banyak, belum lagi di media online yang begitu mudah kita temui isi ceramahnya.

Acara tadi pagi ternyata cukup spesial. Karena dihadiri oleh seorang penulis buku terkenal dari Arab Saudi bernama Ammar Bin Haitsam bin Abdullah Bugis, atau lebih dikenal sebagai Ammar Bugis.

Kaget dengan nama “Bugis” yah ? Benar bahwa dia masih memiliki darah Bugis, kakeknya adalah asli orang bugis yang pindah dan menetap di  Arab Saudi.

Ammar adalah seorang anak yang  terlahir dengan  penyakit “Werding Hoffmann”. Gejala penyakit ini berupa kelumpuhan total seluruh syaraf yang menyebabkan hilangnya kemampuan bergerak seluruh tubuh kecuali mata dan lidah.  Dokter memfonis bahwa Amman tidak akan mampu bertahan hidup lebih dari dua tahun.

Ammar Bugis

Berkat ibu yang selalu memberikan  memotivasi, berkat ayah yang tidak pernah menganggapnya sebagai  orang cacat, dan berkat pertolongan Tuhan,  Ammar hingga pagi tadi masih sehat wal afiat. Bahkan ia mampu menginspirasi dan memotivasi ribuan orang yang hadir di Masjid Istiqlal.

Ammar terlahir di sebuah kota kecil bernama Madison, Wisconsin, Amerika Serikat pada tanggal 22 Oktober 1986. Di usia 13 tahun ia sudah mampu menghafal Al Qur’an 30 juzz.  Namun demikian, sekolah sekolah umum di Arab Saudi umumnya menolaknya menjadi pelajar hanya karena ia  cacat. Atas dorongan sang ayah yang pantang menyerah, ia memiliki tekad luar biasa untuk tidak takhluk dengan keadaan.

Dalam buku ini diceritakan dengan apik bagaimana perjuangannya untuk meruntuhkan stigma negatif terhadap orang orang cacat. Melawan stigma bodoh terhadap orang berkebutuhan khusus. Dan perjuangannya menembus bangku sekolah dari SMA hingga universitas.

Ammar dengan lantang berani mengatakan bahwa  kata kata “berkebutuhan khusus” harus diubah menjadi “berkemampuan khusus”. Karena ia berpendapat bahwa mayoritas orang orang berkebutuhan khusus memiliki kemampuan khusus yang luar biasa.

Studi S1 nya di  Universitas King Abdul Azziz – Jeddah jurusan Jurnalistik diselesaikan dengan predikat cumlaude. Nilai rata rata fantastis yang dibuatnya adalah  4,84 dari nilai  5,00 sebagai nilai sempurna.

Sebuah keanehan lain yang mungkin tidak masuk di akal. Dengan kelemahannya itu, ia mampu bekerja bagus  di sebuah media massa Harian Al-Madina. Penyandang cacat semenjak  lahir itu menjadi penulis tetap rubrik olah raga khususnya  sepak bola. Tulisan orang yang belum pernah sekalipun dalam hidupnya bermain  sepak bola ini ternyata menjadi wartawan sepak bola yang sukses. Karyanya  menjadi rujukan media lokal lain dan menjadi bacaan wajib pengamat sepak bola disana.

Satu lagi hal yang luar biasa adalah, selama menjadi wartawan ia belum pernah sekalipun menggunakan catatan atau alat perekam dalam sebuah wawancara. Tugas jurnalistiknya seluruhnya mengandalkan daya ingat.

Kata katanya yang sangat inspiratif dan monumental adalah, “saya seorang muslim, saya seorang Saudi. Jadi saya bukan orang cacat”. Kata heroik ini disampaikannya pada Konferensi Internasional ke III bagi kalangan berkebutuhan khusus, di Riyadh  pada tahun 2006.

Simaklah kata katanya :

Saya selalu mendayagunakan pengalaman kesuksesan untuk menyelesaikan misi yang saya pikul dipundak saya, yaitu berupa cacat fisik. Yang sama sekali tidak pernah menjadi cacat tekad atau cacat inovasi. Karena cacat sesungguhnya adalah cacat tekad, cacat cita cita, dan sikap menyerah pada keadaan, tanpa pernah melawan dan membiarkan diri hidup dalam penderitaan.

Sobat blogger,…… untuk sementara segini dulu, ada lanjutannya esok atau lusa. Sengaja dipotong karena tulisan selanjutnya lebih banyak berbicara tentang bagaimana kisah cinta Amar dengan istri pujaannya, Ummu Yusuf.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, Motivasi and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

44 Responses to Ammar Bugis, “Bukan Berkebutuhan Khusus” Melainkan “Berkemampuan Khusus”

  1. Sharing yang inspiratif, Pak Lambang.
    Ammar Bugis, seorang Hafidz Qur’an yg bacaannya bagus. Kesehariannya barusan saya lihat di Youtube, subhanallah.

  2. danirachmat says:

    Inspirasional Mas. MAturnuwun..🙂

  3. Allahuakbar, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ia juga maha berkehendak. Intinya dengan Ke-Maha-an Allah SWT yang mustahil dan tidak mungkin pasti bisa terjadi. Sungguh artikel yang sangat inspiratif mas lambangsarib

  4. Titik Asa says:

    Subhanallah…luar biasa kisah ini. Membacanya bagai sebuah hikayat padahal nyata adanya. Saya pribadi baru kenal nama beliau berkat tulisan ini. Keagungan Allah semata terhadap seorang yg cacat namun diberkati kelebihan dalam daya pikir maupun semangat juang. Bolehah kita yg normal ini malu membaca kisah ini. Secara kita kebanyakan lembek, malas dan hanya jago mengeluh.
    Salam,

  5. katacamar says:

    sangat inspiratif, subhanallah luarbiasa

  6. abi_gilang says:

    Jadi penasaran ingin membaca kisahnya. Padahal kemarin siang akang juga ke istiqlal setelah mengantar keluarga dari monas, Di istiqlal sholat dzuhur aja, coba kalo teleponan dulu yaa kita bisa ketemuan lagi🙂

  7. yisha says:

    keren bangets ya ka………

  8. keren… betul juga, ini tentang bagaimana sudut pandangnya: berkebutuhan khusus atau berkemampuan khusus.

  9. JNYnita says:

    minggu lalu abis denger kajiannya di radio rodja.. inspiratif sekali ya Mas..

  10. yeye says:

    Menunggu cerita selanjutnya mas hehe

  11. kemarin rencana datang ke istiqlal, tapi ndak jadi. Lebih milih gowes.😦
    siapa tahu next kajian bisa ketemu pak Lambang.🙂

    very nice share pak
    sekalian isi tausiahnya di share dong pak.. hehe

  12. Sahabat yg diramtai Allah.. Kasus seperti ini cukub banyak, diantara Ahmad Musallam di Mesir, Habib Momo dan Tizani di Maroko, mereka dianggap cacat mental, namun Subhanallah, berkat kegigihan orang tua dan guru-guru mereka, mereka hafal Al-Qur’an dg berbagai ilmu alat/pendudkungnya dan bahkan Ahmad Musallam yg memakai baju saja tidak bisa, bisa menterjemahkan Al-Qur’an dg bahasa Inggris dan Prancis dan tidak memahami sesuatu kecuali hanya Al-ur’an…. Sebab itu, saya terinspirasi untuk mendirikan sekolah Al-Qur’an untuk saudara-saudara kita yg dikaegorikan cacat mental tahun ini insya Allah, karena terbukti otak mereka sebenarnya tdk cacat, dan musibahnya lagi mereka diajarkan ilmu-ilmu yg tdk ada kaitannya dengan Rabb Tuhan Pencipta mereka.. Siapa yg mau bergabung Ahlan wasahlan..

  13. fariq says:

    Terimakasih atas artikel Bapak yang sangat berkesan, jazakallahu khairan. Saya menunggu Tulisan Bapak selanjutnya ttg Pernikahan Ustadz Ammar Bugis.

  14. Pingback: Pernikahan Ammar Bugis, Seorang Berkemampuan Khusus | Lambangsarib's Blog

  15. chikuwiw says:

    luar biasa om,,kerenn bgt..wah pengen baca kisahnya,,,

  16. Permisi… saya tahu bang ammar bugis dari berita di TV… cerita hidupnya sangat menginspirasi sekali.. bagaimana mungkin seorang cacat fisik seperti beliau bisa mendapatkan sesuatu yang orang normal mungkin sulit untuk digapai.. saya sampai dibuat terharu mendengar ceritanya.. Salam Sukses!!!

  17. fahrijal rijal says:

    Smoga allah sllu melimpahkan rahmadny kpada kita smua,amin ya rabbal alamin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s