Detik Detik Ujian Nasional

Tadi malam saya main ke salah satu toko buku di daerah Matraman – Jakarta Pusat. Sebenarnya tujuan utamanya adalah mencari sebuah buku novel klasik  berjudul To Kill Mockingbird, karangan Harper Lee.

Buku ini adalah referensi sahabat blogger yang nyambi jadi  dokter gigi Jusnita. Setelah tengok kanan kiri dan nanya depan belakang, akhirnya ketemu juga buku itu. Begitu membuka halaman pertama, ada sebuah kata mutiara yang sangat bagus, “Kau tidak akan pernah memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Sebenarnya pingin banget membeli novel itu. Namun karena duitnya “cumpon” dan harus membeli susu buat anak, akhirnya diputuskan bahwa susu lebih penting dibanding sebuah buku. Hiks….. hiks……

Eh….. tapi sebenarnya saya disini bukan mau membahas novel itu loh …..

Selama beberapa saat di toko buku,   saya sempat terperanjat oleh sebuah buku tipis ukuran folio seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

detik detik unasKunci Jawaban dan Pembahasan “Detik Detik Ujian Nasional, tahun pelajaran 2012-2013”. Buku panduan untuk Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyyah, terbitan Intan Pariwara.

Jadi, beginikah wajah pendidikan negeri ini  ?

Saya jadi teringat kata kata Albert Einstein, “belajar itu bukan menghafal, dan menghafal bukanlah belajar”. Kalau selama ini anak anak  kita hanya menghafal, berarti mereka tidak pernah belajar. Lalu  bertahun tahun disekolah, apa saja yang mereka kerjakan ?

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

60 Responses to Detik Detik Ujian Nasional

  1. metamocca says:

    yang dikerjakan ya menghafal, Om. tapi memang benar sih kata Opa Einstein itu… coba kalo saya sekarang ditanya pelajaran Sejarah di sekolah dulu… ga bakal bisa jawab lagi, Om, karena saya dulu cuma menghafal Sejarah (bukan belajar Sejarah.) hehehehe….

    “Kau tidak akan pernah memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.” —-> kereeeeennn🙂

  2. Erit07 says:

    Kebanyakan menghafal!seperti sya!ckckck.

  3. saya punya buku itu :p . .
    memang orang kebanyakan siswa sekarang termasuk dari jaman saya SMA menganggap buku detik2 merupakan jalan pintas untuk menghafal..

  4. genthuk says:

    aku senang menghafal tapi aku lebih senang menemukan kata “Aha” dalam kehidupan….. Apakah kita juga akan memaksakan menghafal semata kepada anak-anak kita? Aku menjawab tidak (kecuali Al-Qur’an) dan aku akan berusaha menunjukkan terlebih dahulu bahwa menghafal Qur’an itu nikmat.

  5. Larasati says:

    wah kata2 mutiaranya keren pak lambang……iya yah dulu seringnya menghafal tp larass kok paling susah yah mengingat2 hafalan tp klu melihat n mengalami sendiri malahan ingat….

  6. 'Ne says:

    wah kirain mau beli novelnya Pak, soalnya itu juga masuk list saya tapi belum baca juga hehe..

    setuju sama Einstein deh.. soalnya kalau menghapal belum tentu memahami, ntar begitu ujian selesai hilang deh tuh ilmunya😀
    nilai akademik yg tinggi bukan satu-satunya jaminan sukses dalam hidup hehe

    • lambangsarib says:

      Harga buku Rp. 65,000,- padahal dibawain mentri keuangan duit ngepres. Kalau dibeliin buku, anak nggak minum susu. Nah simalakama tuh, antara susu kaleng apa novel. Akhirnya dipilih susu kaleng. Hehehe…..

  7. 9ethuk says:

    Khan ada pembahasannya pak, kalau yang mau belajar dia bisa belajar dari pembahasan🙂
    Atau bisa bertanya ke gurunya dari pembahasan itu jika kurang lengkap

    • lambangsarib says:

      Tapi buku isu mirip kisi kisi saja. Saya melihatnya itu mirip kitab suci anak sekolah. Semoga saya salah….

      • 9ethuk says:

        Oooo, saya belum tau. mungkin karena saya bandingkan dengan soal2 spmb/snptn masuk universitas dulu sekaligus pembahasannya. coz dulu sy terbantu sekali dengan belajar dari soal2 ujian tahun lalu…

      • lambangsarib says:

        Nah itu tuh……

        Saya dulu daftar di UNS Solo ditolak, Lalu daftar di UGM juga ditolak. Terakhir di UPN Veteran juga sama, ditolak mentah mentah.

        Saya yakin, karena NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya tak jauh dari angka 3 dan 4. Yang kedua karena kegagalan saya memahami kisi kisi itu, hehehe……

        Akhirnya masuk di universitas “ecek ecek di Yogya”. Suatu ketika saya diundang seorang dosen senior ke UGM, dan beliau meminta saya untuk “presentasi” tentang sebuah teori ilmu bumi. Audiennya waktu itu anak anak UGM. Wuuuiiiiiih…… sombongnya kalau ingat masa itu.

        Sebelum pulang, di ruangan beliau ia menyatakan keheranannya kenapa saya tidak diterima di UGM katanya…

        Saya menjawab, “karena NEM saya jongkok dan saya gagal menghafalkan kisi kisi itu”.

        Ah….. maaf yah.

      • 9ethuk says:

        Hahahaha, bingung njawabnya. Kenapa di hapalkan ya pak kisi kisinya? Khan bukan hapalan semua, tapi sekdar mengarhkan topik saja. Kalau matematika murni gak bisa di hapalkan.
        Gak papa gak masuk UGM, yang penting dah pernah ngajar di UGM🙂

      • lambangsarib says:

        Hehehe…. walau cuma 2 kali dan tak pernah lagi selamanyaaa……

      • 9ethuk says:

        setidaknya 2 kali pak🙂

  8. Sudah saatnya tugas menghafal diserahkan ke google dan wikipedia.
    Para murid harus diajari cara mengembangkan “volume” otaknya.

    • lambangsarib says:

      Hehehe…. Bener pak, tugas tugas sekolah sekarang banyak dikerjakan dengan googling dan copy paste saja.

      Mungkin sudah saatnya anak sekolah diwajibkan memiliki blog. Kalau ia copy paste akan kesulitan, karena gaya bahasanya jadi berubah rubah.

  9. Ikakoentjoro says:

    Lebih memalukan lagi kenapa soal ujian nasional mesti dikawal polisi😦

    • lambangsarib says:

      Betul sekali, seperti mengawal john key. Pemborosan anggaran dan “memalukan” yah ?

      Kalau di pesantren dulu ujiannya “open book”, sistem setoran dan sorogan. Sepertinya sistem itu lebih pas deh.

  10. nabils29 says:

    belajar (memahami) akan lebih baik daripada “dipaksa” menghafal…. lebih baik lagi kalau otak kanan juga dilibatkan. aku sendiri suka belajar sambil nonton gambarnya, biar mudeng.. dan kadang2 kalau sudah boring belajar juga oret2🙂 *nab,nab..
    keep spirit!🙂

  11. Ely Meyer says:

    hmmm ….. saya menyimak dulu pak

  12. JNYnita says:

    Sebenarnya yg salah cuma judul KUNCI-nya yang ditonjolkan… sebelum SPMB, aku beli kumpulan soal2, dan dicoba satupersatu, untuk tau benar/salah dan scoringnya tentu butuh kunci jawaban kan? Kalau jawabannya bener, ya sudah.. kalau jawanannya salah ya lihat pembahasan soalnya dong ya??

    Ttg novel itu, lagi kusiapin reviewnya Mas… tunggu yaaa…

  13. Una says:

    Cumpon tuh artinya apa ya?
    He em biasanya kalau pembahasan soal-soal gitu ada kuncinya… gak ngerti juga sih, tapi kayaknya bukan untuk dihapal… ya kalau abis dikerjain trus liat kuncinya salah, kan jadi bisa belajar di mana salahnya. *nek aku dulu sih gitu hehe

  14. j4uharry says:

    Wah … indonesia gitu. Wong tugas dari gurunya aja tugas pabrikan.
    Sayabpaling sebel kalau disuruh nyalin wacana ahaahahh

  15. lieshadie says:

    Aku malah susah menghafal jaman sekolah Pak…lupa terus rumus2 yg udah ddi apalin.

  16. mintarsih28 says:

    pak lambang kalau anak dengan sungguh sungguh dalam proses pembelajaran ia tidak hanya menghapal saja. dalam KBM itu ada tiga proses: eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. pada eksplorasi anak menggali konsep/menguasai konsep. sdg elaborasi anak mempraktikan dari konsep yg di dpt pada waktu eksplorasi dg alam takambang jadi guru. barulah nanti guru beserta siswa melakukan konfirmasi. apakah yg dilakukan pd elaborasi tepat atau tidak pak.

  17. mintarsih28 says:

    tidak pak, banyak hal yang dilakukan antara lain:memberi umpan balik positif dan penguatan,merefleksi tuk memperoleh pengalaman, bertanya jawab meluruskan ksalah pahaman, menfasilitasi siswa memperoleh penglaman dlm mencapai kompetensi dasar dll.
    jika evaluasi itu pada bagian menutup pembelajaran. untuk mengetahui apakah anak sudah mencapai kompetensi dasar apa belum.

    belajar dg pembelajaran dlam dunia pendidikan itu mirip tapi beda.

  18. 4lfonsina says:

    waahh.. novel To Kill A Mockingbird emang keren Pak!
    untung di kotaku ada Perpustakaan Kota, segala buku ada di sana..
    waktu itu dapet novel ini jg kebetulan, comot, langsung baca…
    eeehh..ternyata bagus buanget🙂
    coba aja Pak pinjem di perpustakaan🙂

  19. danirachmat says:

    bener banget mas. belajar bukan menghafal. pantesan aja kalo konsep belajar:menghapal banyak orang pinter tapi ga memanfaatkan ilmunya..

    • lambangsarib says:

      Orang pinter begitu banyaknya di negeri ini. 10% saja orang pinter di Indonesia, itu sudah jauh lebih besar dibanding Singapura dan Malaysia.

      Sayang, budi pekerti tidak diajarkan di sekolah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s