Anak Lebih Bahagia Bermain Dengan Orang Tuanya Dibanding Nonton Televisi

Alhamdulillah, puji syukur pada Allah SWT saya panjatkan malam ini. Maaf, jika melalui blog ini saya harus mengucapkan terimakasih pada sang kholik. Walau mungkin  tidak akan pernah  sampai dan terkesan lucu, namun saya harus menuliskannya.

Saya yakin bahwa diantara sahabat  blog wlaker  bertanya, memangnya  ada apa ? kok ujug ujug, dengan tiba tiba dan  mak bedunduk, mengucapakan Alhamdulillah ?

Karena malam ini saya merayakan kesuksessan  tidak nonton televisi selama  2 x 24 jam.

Tentu ada yang mempertanyakan kenapa  ?  Memangnya ada  yang salah dengan televisi ? Atau bahkan ada yang mengecap  sudah “gila”,  karena anti media informasi.

Terus terang bahwa saya  tidak anti media televisi. Media yang satu ini  sungguh penting dan pasti ada manfaatnya, walau  mungkin  kurang dari 5%.  Sementara  yang 95% lainnya diisi oleh  sinetron, film,  iklan, debat kusir, berita kekerasan dan  gosip selebriti.  Menurut saya, acara acara tersebut  tidak ada manfaatnya. ***Maaf ini hanya pendapat pribadi  dan  pasti “debatable”***.

Tayangan sinetron yang ada di televisi kita didominasi oleh alur cerita yang sama sekali tidak mendidik.  Cerita cerita yang tidak jauh dari  perebutan harta, persaingan untuk mendapatkan tahta dan cerita yang menjurus pada sex usia dini. Debat kusir yang tiada henti dan arah tujuan. Berita berita pun seringkali menampilkan  kekerasan secara vulgar. Sementara itu iklan yang ditayangkan  hanyalah berorientasi  “jualan”.

Bayangkan jika sinetron yang tak jauh dari tema “sex dan cinta dunia”, berita kekerasan yang disiarkan setiap waktu dan iklan  yang  tidak pantas itu setiap hari dilihat oleh anak. Pelan tetapi pasti akan berpengaruh pada pembentukan karakter anak anak.

***************

Untuk kedua kalinya saya harus mengucap syukur Alhamdulillah. Karena ternyata tidak ada komplain dari anak berkenaan dengan televisi yang dimatikan.  Tanpa siaran televisi dirumah dalam kurun waktu 2 x 24 jam, kualitas “relationship” saya dengan anak jauh lebih bagus. Terbukti  bahwa “anak lebih bahagia bermain dengan orang tuanya dibanding menonton siaran televisi atau  games”

Pagi pagi selepas sholat subuh kami berdua  bermain sepeda muter muter kompleks. Sambil nggenjot sepeda, kami bersendau gurau, bernyanyi  dan ngomongin  “apa saja”. Disaat ada kereta lewat, kamipun berbicara tentang kereta api yang panjang. Ketika ada seekor kucing melintas, kami pun membicarakannya. Memetik harum bunga melati pun tak ketinggalan  kami lakukan berduaan.

Siangnya kami berdua  pergi ke toko buku Gramedia. Walaupun tidak membeli buku, rasanya puas jalan jalan melihat deretan buku yang berjejer rapi serta  memainkan beberapa permainan edukatif. Setelah capek muter muter kami pun pulang.

Sesampai dirumah ibunya sudah siap menyambut dengan makanan kesukaannya. Mungkin karena capek dan lapar, begitu lahap ia disuapi. Tak lebih dari satu jam kemudian ia pun tertidur pulas.

Saat adzan maghrib berkumandang, anak saya   tampak cantik dengan setelan kerudung dan   baju warna pink.  Kami pun bergandengan tangan  menuju mushola yang tak seberapa jauh dari rumah.

Dan malam ini, saya lihat ia sudah tertidur pulas dengan senyuman yang teramat manis.

********

Tiba tiba seorang sahabat dari jauh mengirim pesan dalam BBM Group, disitu tertulis jelas “jago mana nih….., Swansea atau Manchester United ?”

Waduh…….., pesan itu menjadi ujian   terberat saya. Ibarat berada di persimpangan jalan, antara menonton Liga Inggris atau tetap konsisten tidak menyalakan televisi.

.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, Kiky and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

35 Responses to Anak Lebih Bahagia Bermain Dengan Orang Tuanya Dibanding Nonton Televisi

  1. Ilham says:

    keren. semoga ini menginspirasi banyak orang untuk kembali menciptakan waktu2 berkualitas dengan anak2 dan keluarganya. mungkin seperti di masa lalu ketika belum ada tv…😀

  2. ryan says:

    Mangstab nih… Dua hari tanpa tv….

  3. Newbie Tora says:

    Aku belum menikah dan belum punya anak,.. Hehehehe

  4. nyonyasepatu says:

    Aku juga males nonton tv enakkan browsing soalnya tp gak tau nanti kl udh punya anak

  5. utie89 says:

    Di rumah juga jarang nonton tv om.
    Paling ibu kalau pagi nonton yusuf mansur/khazanah dan berita.
    Atau aq pulang kerja kadang2 nonton drama korea.
    Lainnya,nyaris ngga pernah disetel TVnya.
    Anak2 pada lagi ketumanan naik sepeda,jadinya maen di luar terus,tapi kadang2 malah suka lupa pulang. -___-“

    • lambangsarib says:

      Kalau utie baru kerja apa anak anak juga sering nonton drama korea ? Mereka kan peniru ulung ?

      • utie89 says:

        aq yang nonton om, bocah keseringan udah pada tidur pas aq pulang.
        tapi suka ikut-ikutan nonton juga sih..
        dan yang udah ngerti gitu jalan ceritanya, udah bisa koment atau nanya2, “itu dy kenapa sih mba?? gara-gara begini ya? bla..bla..bla..”

      • lambangsarib says:

        Mungkin nonton drama korea atau sinetron yang menyebabkan anak anak dewasa sebelum waktunya.

  6. JNYnita says:

    Aku juga jarang nonton TV Mas.. TV skrg gak ada yg seru…

  7. Ikakoentjoro says:

    Alhamdulillah, sudah 7 tahun keluarga kami commit tidak menyediakan Tv pak. Walaupun sering dibilang tidak wajar kami anggap angin lalu. Alhamdulillah, anak kami jadi jarang liat pengeksposan seksualitas yang ada dihampir semua iklan karena ga’ punya tipi.

  8. Setokdel says:

    nonton tv buat liat kabar gol2 yang main tadi malam pak, oya MU Swansea 1-1 pak…

  9. Erit07 says:

    Wah hebat kang,bisa terapkan cara itu!

  10. adeli novnik says:

    ade hampir sejak kuliah , udah smster 7 nie ga nnton tipi hehe ….🙂 paling itu itu ajha pilm nya ga ada slsainya jarang ada yg mendidik …

  11. Pingback: Santailah Dalam Menjalani Hidup, Tetapi Serius Disaat Bermain Dengan Anak | Lambangsarib's Blog

  12. Pingback: Akibat Tidak Menonton Televisi, Jam Sembilan Malam Angooop | Lambangsarib's Blog

  13. Pingback: Tidak Menonton Televisi, Mendengarkan Siaran Radio Pun Jadi | Lambangsarib's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s