Apakah Mereka Mendapat Ranking Di Sekolah ?

Ini adalah sebuah percakapan imajiner antara saya dengan Kiky. Sebelumnya mohon maaf jika kurang berkenan, karena memang ini hanyalah sebuah khayalan.

Pada suatu ketika saya sedang menemani Kiky yang  duduk di bangku SD. Saat itu dia tampak sibuk mencorat coret kertas dengan sebuah pensil. Pensil di tangan kanannya tampak lincah menari diatas selembar kertas putih.  Sementara tangan kirinya memegang jidat. Hm….. tampaknya ia pusing dengan apa yang sedang dipelajarinya.

“Ah….. biar saja dia berfikir sendiri, tidak usah dibantu”, gumamku.

Tiba tiba Kiky bertanya, “pak, apa dulu  bapak selalu mendapat  rangking di kelas ?”. Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu saya pun  kaget. Saya letakkan buku yang sedang dibaca diatas meja. Sambil menatap matanya saya menjawab, “nduk, bapak belum pernah dapat ranking sewaktu sekolah, baik SD, SMP maupun SMA. Memangnya kenapa nduk ?”.

Kiky tidak menjawab, malah kemudian bertanya lagi, “apa Steve Jobs sewaktu sekolah juga mendapat ranking satu  pak ?”

Gantian kini saya yang mengernyitkan jidat dan menepoknya. Otak saya berfikir keras untuk mencari sebuah arah pertanyaan Kiky. “Nduk saya pernah membaca buku biografi  Steve Jobs,  kalau tidak salah dia tidak pernah juara kelas”.

Kiky bertanya lagi, “tahukah bapak siapa orang yang dahulunya juara kelas kemudian menjadi kampium di bidangnya ?. Seperti steve jobs sendiri, Alfa Edison, Albert Einstein, Rudi Hadisuwarno, Rudi Hartono, Lionel Messi, Michael Dell, Michael Jackson, Michael J. Fox, Colonel Sanders, Ray Croc, Conrad Hilton, Hendry Ford, Seichiro Honda, Oprah Winfrey, Robert Kyosaki ?”

Saya pun terdiam seribu bahasa dan  tak mampu berkata kata. Hm……

Dalam kebengonganku,  belum sempat sepatah kata terucap, tiba tiba ia berkata lagi, “kalau orang tua sudah tahu bahwa orang orang hebat itu tidak pernah dapat ranking di sekolah, kenapa anak anak dipaksa les ini dan itu demi untuk sebuah ranking yang tak ada manfa……… ?”

Saya potong kata katanya….., “nduk, bapak tidak akan pernah sekalipun  memaksamu mendapat ranking”. Secepat kilat saya peluk dia, dan kami pun terdiam.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi, Kiky and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Apakah Mereka Mendapat Ranking Di Sekolah ?

  1. Erit07 says:

    Hahaha. .
    Mas kaget,sya pun kaget dgn pertanyaan kiky. .

  2. metamocca says:

    nice imagine, Om. SD sudah hafal begitu banyak nama.😀
    hmmm… saya punya pendapat, sekecil apapun kemajuan yang diraih seorang anak di sekolahnya, berikan dia penghargaan walaupun hanya sebuah pujian.

  3. utie89 says:

    aq ranking terus oom..
    tapi ngga lantas jadi jaminan aq mumpuni di bidangnya.
    karena jujur aq ngerasa aq ini payah, ga gaul, ga update, ga care sama sekitar, ya pokoknyaa memang ranking itu ngga jadi jaminan dech.

    tapi ngga tau ya, paradigma sekarang masih saja dinilai dari angka, kadang aq juga masih suka berpikir gitu.😦

  4. Larasati says:

    anak pandai di kelas belum tentu jadi anak pandai di lapangan kerja nantinya loh pak hehehe

  5. Larasati says:

    kalau larass menilai nya begini, anak rangkin di kelas belum tentu menjadi jaminan masa depannya di lapangan kerja pak, biasanya anak yg lebih terampil dan mampu berkreasilah yg bisa mengikuti perkembangan jaman dan kelak bisa menjamin masa depannya menjadi baik….itu yg larass rasakan skrg hehehe

  6. Larasati says:

    nilai rangkin di kelas kadang gak menjamin jg yah pak utk masa depannya, semua kembali pada kecerdasan dan ketrampilan kreasi si anak yah….itu sih yg larass alami skrg hehehe

    • lambangsarib says:

      Teman teman saya yang sukses kok yang dulunya tidak pernah dapat ranking, umumnya malah yang bandel bandel. Kerjanya banyak yang gak jelas, pendapatannya juga gak pasti, kadang kadang dapat banyak kadang dapat dikit. Saking tidak pastinya, malah seringkali dapat gaji sehari sampai 3x dan banyak bayak pula.

      Sementara yang langganan juara kelas umumnya kerja di perusahaan mapan dengan karir yang mapan, setiap hari berangkat pagi pulang malam.

      Hehehe…. dunia kebalik.

      • Larasati says:

        skill nya pak…..makanya kan lebih baik mendidik anak sesuai kemampuannya si anak, klu anak dipaksakan utk mendapatkan rangkin kelas okelah itu bonus tp lebih ditekankan mendidik anak dalam hal skill….klu skill nya lebih maka anak akan lebih tangguuh dan lebih kreatif nantinya #larass belum punya anak padahal hahahaha hadeeehhhh sok tahu banget yah tp itu pengalaman pribadi kok, bener kata pak lambang…teman2 larass yg dulu rangkin kelas rata2 hanya sbgi pekerja biasa yg mengandalkan gaji bulanan sekian dan itu sudah cukup baginya sementara yg dulunya pada preman malah sekarang pd bisnis semua…

      • lambangsarib says:

        Sepakat.

        Belajar itu mencari ilmu, belajar itu bukan menghafal dan menghafal itu bukan belajar.

      • Larasati says:

        yup…setuju pak

  7. mintarsih28 says:

    barusan tadi siang anak ketigaku yg perempuan tadi bertanya padaku,” umi klo aku gak dapat ranking gak pa pa”
    dg mantab aku jawab gak po po. yang menting kau belajar sungguh sungguh. mencari ilmu dg benar shngga kau dapat mencintai Allah dan Rasul. mencintai Umi dan Abi jg saudaramu. Umi kemarin kuliah lagi hanya belajar sungguh sungguh dan jujur cari ilmunya. nilaipun bagus.

    saya pun heran kenapa ranking sudah ditiadakan ortu masih getol tanya ranking tiap pembagian rapot ya pak sarib.

  8. mruhulessin says:

    meski begitu ranking adalah salah satu motivasi yang baik, namun sebenarnya bukan tujuan utama. Setiap anak punya kecerdasan yang berbeda yang dalam tiap bidang, tinggal otang tua yang secara jeli melihat dimana anaknya berpotensi🙂
    Salam buat Kiky yah om

  9. pitaloka89 says:

    Ranking, IPK, itukan jalan yang bisa meluluskan administrasi kalau daftar sekolah, kuliah, atau kerjaan Pak. Kalau soal sukses itu pilihan mau ambil yang mana🙂

  10. Ranking bagus memang bukan jaminan untuk sukses dalam kehidupan sang anak di masa yang akan datang. Bagi saya yang terpenting adalah menanamkan mental integritas yang tinggi (jujur & bertanggungjawab) dalam pelajarannya ini menyangkut unsur spiritual, kemudian ilmu entrepreneurship. Berapapun ranking-nya asal anak saya mempunyai kedua bekal ilmu itu saya sudah tenang.

    Anak-anak sekolah di Indonesia masih dicekokin dg hafalan-hafalan yg mematikan kreatifitas. Parahnya hafalan itu dijadikan standard nilai ujian. Saya bilang ke anak saya: “Nak, yang penting besok kamu bisa membayar gaji karyawan yang hafal HPU (Himpunan Pengetahuan Umum) dan HPA (Himpunan Pengetahuan Alam). Bukan berarti lantas saya bebaskan dia untuk tidak belajar menghafal, tapi saya akan apresiasi apapun yg sudah didapatnya dari upaya kerasnya dalam belajar.

    Saya lebih suka kalo ujian itu open book, tapi soal yg diberikan adalah bersifat analisa ilmiah. Bukan seperti: “Siapa yang membunuh Ken Arok?”
    Saya lebih suka pertanyaan: “Bagaimana caranya agar kerajaan Singasari tidak terjadi pertumpahan darah, seandainya Anda adalah seorang raja di sana?”
    Soal ujian gak perlu banyak, cukup maksimal 2-3 tapi bersifat analisa semua.
    Daripada 50 soal, tapi bersifat hafalan dan pilihan ganda. Untung-untungan buat menjawabnya.

    • lambangsarib says:

      Mengenai soal ujian open book itu saya sangat setuju pak. Disitulah sebenarnya ujian yang sebenarnya. Bahkan hanya dengan satu soal saja sebenarnya guru sudah bisa menilai kualitas anak didiknya. Tidak perlu hingga 50 soal yang bikin capek, belum lagi kualitas pertanyaan yang “seringkali” kurang berbobot.

  11. Pingback: Aku dan Mereka… | Larasati

  12. Larasati says:

    pak lambang, kalau tidak keberatan silahkan mampir kesini yah pak, terimakasih🙂
    http://menara18.wordpress.com/2012/12/21/aku-dan-mereka/#more-3654

  13. katacamar says:

    perspektif bagus, dari sudut pandang alternatif, membuka cakrawala orang tua untuk tidak ranking oriented, tapi lebih komprehensif..
    penginnya saya, anak saya IQ-nya bagus, EQ-nya bagus, SQ-nya juga bagus (perfect, kira2 bisa ndak ya? wallahu’alam…. mudah2an…amin)

    • lambangsarib says:

      Semua orang tua sepertinya seperti itu, perfect. Wah, kenapa tiba tiba jadi kepikiran begini, “apakah mensupport keinginan anak itu diridloi Tuhan ?”

      Terimakasih sebelumnya.

  14. Titik Asa says:

    Baca posting ini jadi kembali inget kalau dulu, konon, sekolah itu diadakan untuk bersantai setelah capek seharian kerja. Jadi sbg pelepas penat, mungkin.
    Lha, kenapa sekolah sekarang jadi begini serius ya? Mungkin ujungnya hanya bisnis semata…hihihi
    Maap agak ngaco ya komen saya…
    Salam,

    • lambangsarib says:

      Sekolah sekarang kayaknya mencetak robot. Daya nalar dan budi pekerti hilang……

      Dahulu guru melihat kuku kita, hitam atau tidak.
      Dahulu guru melihat kita jujur atau tidak.

      Ah…. kini tak ada lagi.

  15. Ilham says:

    seolah tidak ada lagi parameter selain ranking yang bisa membuat anak merasa dirinya pelajar yang baik. iya ya sekarang udah gak ada lagi sepertinya guru yang memeriksa kuku, mengajari budi pekerti selain pelajaran yang ada di buku…

  16. Setuju ini mas Mbang!
    Saya pernah posting juga soal pendidikan anak (walo anak saya sendiri belum dibikin, hehehe)
    http://ohmasgusman.wordpress.com/2012/07/03/toko-buku/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s