Timun Emas – Bagian 2

timun emasJreng jreng…..

Sobat blogger, masih ingat cerita yang belum tuntas kemarin ? Tentang Mbok Sarni yang tertidur karena kecapekan berdo’a dan memikirkan nasib Timun Emas ? Boleh saya lanjutkan ? Hehehe….. semoga banyak yang ngacung.

Dalam tidur itu Mbok Sarni bermimpi  ditemui seseorang kakek berjubah dan bersurban putih. Jenggot panjang  sang kakek pun berwarna putih. Dia berjalan perlahan dengan sebuah tongkat ditangan kirinya. “Kenapa kamu bersedih Sarni ?”, kata  kakek dengan suara pelan penuh wibawa.

“Aku  bersedih karena besok pagi  Buto Ijo akan datang kemari dan memakan Timun Emas. Padahal aku sangat menyayanginya seperti menyayangi anakku sendiri. Hiks…hik…”, begitu kata yang terucap dari mulut Mbok Sarni dengan suara gemetar.

“Kamu tidak usah kuatir, ambillah tiga biji mentimun, tiga buah jarum dan tiga “jimpit” garam dapur dan tiga iris terasi. Suruhlah Timun Emas berlari menjauhi Buto Ijo dan melemparnya satu persatu dari  keempat bekal tadi”, kata kakek berjenggot putih.

Gregab….. Tiba tiba Mbok Sarni terbangun. Dia usap usap matanya, untuk  memastikan apakah ia tadi benar benar bermimpi atau hanya berkhayal,  Tangannya dicubit, pipi kanan dan kiri ditepok beberpa kali, barulah  ia yakin bahwa tadi adalah mimpi.

Dia melihat keluar rumah, tampak sinar fajar  sedikit menampakkan diri. Artinya sebentar lagi siang dan Buto Ijo segera datang. Aduh bagaimana nih …..? Haruskah aku jalani apa yang dikatakan kakek tadi ? Kalau itu hanya bunga mimpi saja bagaimana ?

Beribu pertanyaan  berkecamuk didalam hati dan tak satupun bisa terjawab.

Tiba tiba ada semacam keyakinan  untuk mempersiapkan empat bekal yang diwasiatkan kakek dalam mimpi. Dorongan itu tiba tiba saja muncul, setelah melihat  wajah cantik Timun Emas yang masih terlelap.

Bergegas Mbok Sarni mempersiapkan segalanya. Tiga biji mentimun, tiga buah jarum dan tiga “jimpit” garam dapur dan tiga iris terasi sudah siap diatas meja. Dan disaat yang sama Timun Emas terbangun.

Mbok Sarni menghampiri, memeluk dan menciumnya.  Dengan  berlinang air mata ia ceritakan seluruh mimpinya dengan detil. Seluruh pesan kakek dalam mimpi ia sampaikan, tidak ada satupun yang disembunyikan, dipotong atau ditambah.  Bahkan Mbok Sarni pun menceritakan siapa sebenarnya Timun Emas dan mengapa pula Buto Ijo menagih janji.

Mendengar semua paparan cerita ibunya, Timun Emas sontak menangis sejadi jadinya. Ia peluk erat Mbok Sarni, seakan tak mau dilepaskan. “Pokoknya, mbok adalah ibuku……”.

Tiba tiba………………………….

Hwahahahaaaa…. hwahahahaha…….. hwaaahhahahaaaahhhaaaaa………

Suara tawa dan gemuruh tepat didepan rumah. Sementara kepanikan, tangisan dan derai air mata didalam rumah semakin menjadi jadi.

Bekal buat  Timun Emas pun sudah diberikan. Masih dengan tangisan kesedihan yang mendalam Mbok Sarni berkata, “lari nduk….. lari….. lari ….. yang jauh….., biar ibu yang menghadang Buto Ijo”.

Sambil menarik narik tangan ibunya Timun Emas berteriak teraik, “ayo buuu….. ayooo…. lari sama sama. Ayooo…… saya tidak mau kehilangan ibuuuuu………..”

Ajakan lari bersama berulang ulang dipinta oleh Timun Emas, dan berkali kali pula ditolak oleh Mbok Sarni. Hingga akhirnya Mbok Sarni mendorong Timun Emas untuk berlari lewat pintu belakang, sementara ia lari kedepan untuk menghadang Buto Ijo.

Mengatahui Timun Emas berlari, Buto Ijo berusaha mengejar. Mbok Sarni mencoba menghalang halangi, hal ini membuat Buto Ijo semakin berang. Dengan sedikit kibasan jari jarinya yang besar sudah cukup  untuk membuat Mbok Sarni terkapar tak berdaya.

Melihat tindakan heroik ibunya, Timun Emas hanya bisa menjerit jerit  dan berlari. Dia berlari dan terus berlari.

Tidak berapa lama ternyata Buto Ijo sudah menyusul dan sangat  dekat. Begitu hampir menggapai, dilemparlah buto ijo itu dengan tiga biji mentimun.

Aneh bin ajaib, tiba tiba tiga biji mentimun itu langsung  tumbuh membesar dan berbuah sangat banyak. Melihat banyaknya mentimun kesukaan, Buto Ijo berhenti dan memakan mentimun, sementara Timun Emas masih tetap berlari menjauh.

Timun Emas terus berlari, hingga nafasnya terengah engah. Dia tidak berani berhenti berlari, takut kalau kalau Buto Ijo tiba tiba menyususlnya.

Apa yang dikhawatikan pun ternyata benar.

Hwahahahahahahhhaaaaaa…… lari kemana kau Timun Emaaaasss……. hwahahahhaaaaa…

Melihat tiba tiba Buto Ijo sudah ada di belakangnya, ia lemparkan tiga buah jarum. Keanehan yang lain pun terjadi. Ketiga jarum berubah dengan cepat menjadi hutan bambu yang sangat lebat, tinggi dan batangnya besar.

Hutan ini semakin membuat Buto Ijo geram. Hooiiii….. awas kamu Timun Emas…., akan aku cincang cincang dan kumakan sedikit demi sekikit kamu. Hwahahahhaaaa….hahaha,,…

Timun Emas pun terus  berlari. Dia sudah mulai capek,  jari kaki beberapa  mulai melepuh dan berdarah kena tertusuk duri. Sementara Buto Ijo masih sibuk melewati hutan bambu yang sangat lebat dan tinggi.

Suara Buto Ijo sudah tidak terdengar lagi. Timun Emas pun sudah kecapken dan tidak kuat lagi untuk berlari. Ia berfikir untuk beristirahat sejenak  dan menghirup udara segar.

Baru saja ia duduk, tiba tiba Buto Ijo sudah sangat dekat dengannya, hwahahahaaa….. hwahahahaha…..  “mau lari keman lagi kamu ?”.

Timun Emas sangat takut, ia hanya menangis karena tidak kuat lagi untuk berlari. Ia pun melempar Buto Ijo dengan tiga “jimpit” garam dapur bekal dari rumah.

Dan…… Byuuuuurrrr…………………..

Garam dapur itu berubah menjadi air asin begitu mengenai badan Buto Ijo. Air yang semakin banyak itu pun mampu menyeret buto ijo menjauh dari tempat Timun Emas beristirahat. Air itu laksana gelombang   tsunami  yang mampu menyeret apa saja yang dilewati.  Dari kejauhan Timun Emas hanya mampu melihat Buto Ijo terseret gelombang hingga kelaut dan tampak  tenggelam.

Timun Emas pun sudah  merasa aman, dia merasa  ancaman mengerikan itu telah lewat. “Buto Ijo dan ancamannya sudah masa lalu dan kini  saatnya istirahat”, fikirnya.

Sementara Timun Emas lelap tertidur dibawah pohon, Buto Ijo terus berusaha menyelamatkan diri. Akhirnya Buto ijo mampu juga untuk  berenang ketepi dan selamatlah ia. Hal ini sama sekali tidak diketahui dan disadari Timun Emas.

Buto ijo marah marah, ia berjanji akan mebalas semua ini. Kembali ia berdiri dan siap untuk mendatangi Timun Emas berada.

Hwahahahahaaa……. hwaahahahahaha……. hwahahahahahahaaaaahahahahaaaaa……

“Banguuuun Timun Emas, Banguuuuuun….!”, teriak Buto ijo.

Timun Emas terbangun dan kaget, bahaya yang dia kira sudah lewat itu ternyata sekarang nyata  ada didepannya. Keselamatan jiwanya terancam ! Ia tidak kuat lagi untuk berlari, sementara itu bekal dari ibunya tingga satu, yaitu tiga iris terasi.

Dalam kondisi sangat lemah dan tidak tahu lagi apa yang dia perbuat, yang teringat adalah “senyum manis ibunya yang seolah memanggil”. Ia pun pasrah, sambil terus membayangkan orang yang paling dicintai, mulutnya berdo’a pada Tuhan mohon keselamatan, dia lemparkan tiga iris terasi itu ke Buto Ijo.

Dan ajaibnya terasi itu berubah menjadi lumpur. Awalnya hanya beberapa titik lumpur di  tubuh Buto Ijo, namun semakin lama semakin membesar dan banyak. Saat lumpur itu menetes, tanah pun berubah menjadi kolam lumpur.

Buto Ijo  meronta ronta  berusaha keras untuk keluar dari kolam lumpur, namun usahanya sia sia.  Semakin ia banyak bergerak maka  kolam lumpur itu  semakin dalam menenggelamkannya.

Akhirnya Timun Emas benar benar lega telah menyaksikan sendiri bagaimana Buto Ijo tenggelam dalam kolam lumpur.

Dia berdo’a dan berterimakasih pada Tuhan atas segala rahmad dan pertolongannya. Bergegas ia kembali kerumah untuk menemui sang ibu tercinta. Walau kini ia tahu bahwa itu bukanlah ibu kandung, namun cintanya tak kurang sedikitpun.

Akhirnya mereka berdua hidup damai dan bersatu kembali.

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Timun Emas – Bagian 2

  1. waaa.. gaswat gaswat pak… jangan ketiduran di siang bolong gara2 didongengin njenengan.. hohooo

  2. lieshadie says:

    Wah dadi kelingan jaman cilik Pak…🙂

  3. pitaloka89 says:

    Padahal sudah terkapar tak berdaya. mira kira meninggal.
    Jarum itu jadi hutan bambu ya, bukan hutan duri? Kayaknya, mira ingatnya sesuatu yang berduri dan tajam.hehe..

    Terima kasih Pak, sudah mendongeng. Hehe..

  4. Ely Meyer says:

    jadi inget Alm. ibu dulu suka ndongeng pak

  5. chikuwiw says:

    wah dongengnya bikin tidur lelap malam ini om😀

  6. metamocca says:

    Akhirnya, lanjutannya..🙂

    Request boleh ga Om? Mau dongengnya joko kendil.
    😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s