Timun Emas – Bagian 1

Sebelum tidur, dahulu ibu sering sekali bercerita. Ada cerita tentang bagaimana kecerdikan seekor  kancil mencuri mentimunnya pak tani, certia tentang  joko kendil, cerita joko tingkir dan salah satu yang akan saya ceritakan saat ini adalah tentang  “timun emas”.

Saya kemarin ke toko buku dan menemukan sebuah buku seri cerita rakyat berjudul “Timun Mas – The Colden Cucumber” karangan M. Rantissi.  Buku`tipis dengan 24 halaman ini seolah membawa  kembali ke masa balita lagi.

Ibu……. aku kangen dengan dongengamu. Apakah kamu merasakan hal yang sama sobat ?

timun emas

Tulisan di buku itu  cukup menarik, namun ada sedikit perbedaan dengan yang ibu ceritakan dulu.  Tidak perlu diperdebatkan bukan ? wong cuma cerita rakyat saja…. Hehehe….

Mbok Sarni adalah seorang perempuan yang tinggal di gubug reot dipinggir hutan. Ia hidup sebatang kara, tak memiliki saudara, suami ataupun anak. Padahal ia sangat merindukan  kehadiran dan kehangatan keluarga.

Suatu ketika ia mencari kayu bakar kedalam hutan. Tiba tiba dia dikejutkan oleh sosok  Buto Ijo (Raksasa Berwarna Hijau) tepat dihadapannya. Ia bertanya pada Mbok Sarni “Heei…. ngapain kamu masuk masuk ke hutan ini ?”. Dengan gemetaran ia mengatakan bahwa maksud dan tujuannya masuk kedalam hutan hanyalah mencari kayu bakar. Tidak ada yang lain.

Buto Ijo : kenapa sendirian ? mana suami dan anakmu ?
Mbok Sarni : s….ssaa….. ssaya tidak punya suami dan tidak punya anak.
Buto Ijo : Kamu mau anak ?
Mbok Sarni : mmmaau…. mau buto… mau

Buto ijo memberikan beberpa biji timun emas agar ditanam dirumah, nanti salah satu biji timun itu akan memberinya anak. Namun Buto ijo berpesan, “kelak ketika anakmu berusia 10 tahun aku akan datang untuk memakannya”. hwa…ha….ha…ha……. sambil terbahak bahak Buto Ijo meninggalkan Mbok Surti sendiri.

Dalam kebingungan akhirnya Mbok Sarni pulang kerumah dan menanam beberapa biji timun emas.

Beberapa hari kemudian di pagi pagi buta  Mbok Sarni dikejutkan oleh tangisan bayi dari luar rumah. Ia terbangun karena tangisan itu. Segera ia bergegas keluar dan mendapati seorang bayi perempuan dikebun. “Inikah yang dimaksud si Buto Ijo ?”, ia bertanya tanya dalam hati sambil mendekap erat jabang bayi tersebut.

Mbok Sarni memberi nama  bayi tersebut dengan Timun Emas. Dan kini bayi tersebut sudah tumbuh menjadi anak  yang cantik dan ceria.

Waktu pun berlalu, hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.

Huauuaahahahaaa……. hahaha…..

Suara memekakkan telinga itu berasal tepat didepan rumah Mbok Sarni. Suara itu mengingatkannya pada kejadian sepuluh tahun lalu saat dirinya mencari kayu bakar. Yah….. “itu suara Buto Ijo”. Aduh,…. mesti bagaimana nih ?

Timun Mas nangis sejadi jadinya, ia takut dan berlari memeluk ibunya. “Buk takut buk….. takut……”, begitu teriaknya sambil memeluk erat sang ibu.

Setelah melepas pelukan Timun Emas akhirnya Mbok Sarni keluar untuk menemui Buto Ijo.

Buto Ijo : Mana  anakmu ? aku sudah lapaaaarr !!!!

Mbok Sarni : Sabar Buto, sabar…… anakku ada. Tapi bisa minta tolong diundur 3 hari lagi ? anakku sakit, dagingnya pasti pahit. Kalau tiga hari lagi pasti dia dalam kondisi  sehat dan dagingnya lezat

Buto Ijo : Hwahahahhhaaaahahhahhaaa…… tiga hari lagi aku datang. Awas kalau kamu bohong. Kamu dan anakmu akan kumakan sama sama.

Buto Ijo pun pergi, suasana kembali sepi seperti biasanya. Tinggal Mbok Sarni sendiri berdiri tertegun mematung dihalaman rumah.

Dua hari dua malam Mbok Sarni tidak bisa tidur memikirkan keselamatan anaknya dari Buto Ijo. Dia hanya bisa pasrah dan berdo’a pada Tuhan semoga anaknya diberi pertolongan dan keselamatan.

Mungkin karena kecapekan berdo’a dan menangis memikirkan nasib Timur Mas, hingga akhirnya Mbok Sarni tertidur.

Nah sobat blogger, tunggu lanjutannya yah….

.

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Cerita and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Timun Emas – Bagian 1

  1. yeye says:

    Wah dah penasaran eh ternyata bersambung huhuhu

  2. yisha says:

    cie cie cie………..kangen!

  3. ~Ra says:

    Om mBeng kangen sama ibu kos di jogja nggak?
    😆

  4. chikuwiw says:

    wahhh lanjut om ceritanyaa..:D

  5. Jadi ingat jaman dulu ngajar privat anak SD. Karena kedua orang tuanya sibuk, dia sama sekali nggak pernah didongengi, apalagi dongeng klasik Indonesia seperti ini. Dia kelihatan senang sekali waktu saya ceritakan dongeng Timun Mas🙂 Ternyata dongeng itu penting buat anak yah…

  6. chris13jkt says:

    Wah iya Mas, baru segitu aja udah terasa beda sama yang versi lama ya

  7. pitaloka89 says:

    Kalau yang mira pernah dengar atau baca, kalau nda sala ingat. Ada sepasang suami istri yang sudah lama menikah tapi tidak kunjung dikaruniai anak. Kemudian suatu waktu mereka ke hutan yang ada buto ijonya. Mereka meminta untuk diberi anak. Diberilah buah timun emas yang besar dengan syarat yang sama. Umur sepuluh tahun di ambil. Dan orang tuanya jujur dengan kondisi itu pada Timun Mas, yang menjadikannya berani.
    Yah, begitulah… hehe…
    Jadi penasaran kelanjutannya. Sama atau engga.😀

  8. metamocca says:

    Yaaaaaah… Om.
    Pake dibagi dua sih?😦 lagi serius baca juga.

    Mbah jg dulu suka cerita Timun Mas, tp saya lupa ceritanya.
    😛

  9. 'Ne says:

    Jaman kecil sering baca cerita2 rakyat🙂
    Termasuk timun mas ini..

  10. mruhulessin says:

    jadi rindu masa kecil om .. hehehe

  11. Pingback: Timun Emas – Bagian 2 | Lambangsarib's Blog

  12. Ely Meyer says:

    buto ijone ngeri juga ya pak wujudnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s